Beranda Pendidikan Aristoteles, Sang Pencipta Visi “Tatanan Dunia Baru”

Aristoteles, Sang Pencipta Visi “Tatanan Dunia Baru”

BERBAGI

Ahmad Yulden Erwin

Jika Anda mengira pengaruh Aristoteles (384 – 322 SM) hanya sebatas sains dan filsafat, Anda sungguh keliru. Sebab, dialah tokoh yang mendidik Alexander the Great (Aleksander Agung (356 – 323 SM) sejak umur 10 sampai 16 tahun. Dialah orang yang menanamkan dalam jiwa Alexander, kaisar dan jenderal terbesar sepanjang sejarah, spirit untuk mencintai seni, puisi, sains, filsafat, logika, etika, hingga metafisika dan spirtiualitas. Dialah orang yang menanamkan dalam jiwa Alexander visi helenistik–visi yang menggabungkan spirit Timur dan Barat, spirit keterbukaan pikiran, spirit ‘tatanan dunia baru’.

Setelah kematian Alexander, visi helenistik diteruskan oleh salah satu sahabat dan sekaligus jenderal intinya, yaitu: Ptolemy I–yang juga dididik oleh Aristoteles. Ptolemy I adalah tokoh pendiri Kota Alexandria di Mesir. Satu kota yang memiliki visi helenistik: kota yang menghormati semua suku dan kepercayaan, kota yang mencintai sains dan seni dan filsafat, kota yang mendirikan perpustakaan terbesar pada jamannya: Perpustakaan Alexandria. Kelak Perpustakaan Alexandria, yang sekaligus menjadi pusat pendidikan dan riset ilmu pengetahuan itu, melahirkan banyak ilmuwan teknik, juga para pemikir sains besar yang pengaruhnya masih bertahan dalam kebudayaan modern. Euclid, Archmides, Ptolemy Claudius, Ktisibios, Conon, Menalaos, dan Hipatias adalah nama-nama para filsuf, saintis teknik, matematikawan, dan astronomer yang “lahir” dari Perpustakaan Alexandria.

Tidak hanya itu, visi helenistik Alexander juga berhasil merekonsiliasi sekian sekte religi dan spiritual dari berbagai belahan dunia pada masanya. Mulai dari kepercayaan Yunani, Persia, Mesir, hingga Buddhisme lewat sosok “messiah” baru, yaitu Seraphim. Kepercayaan terhadap Seraphim ini yang kelak menginspirasi berbagai sistem religi besar setelah masehi.

Jika Anda ingin benar-benar menjadi mahluk “cerdas” dan berbudaya, saran saya baca dan studilah semua buku karya Aristoteles yang, entah mengapa, sampai saat ini belum satu pun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.