BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Dua Polisi Wanita (Polwan) yang bertugas di Mapolsekta Tanjungkarang Barat saat menunjukkan barang bukti pakaian mlik korban pencabulan Mawar (bukan nama sebenarnya) dan tersangka Sarnata alias Abah Cilik (52),  Jumat (7/8).  

BANDARLAMPUNG- Sarnata alias Abah Cilik (52) tega mencabuli Mawar (bukan nama sebenarnya) yang masih berusia 7 tahun. Perbuatan bejat itu dilakukan tersangka di sebuah tanah kosong di Kelurahan Kaliawi, Tanjungkarang Pusat. Akibat perbuatan bejatnya, Sarnata akhirnya digelandang ke  Mapolsekta Tanjungkarang Barat, Rabu (5/8).

Kapolsekta Tanjungkarang Barat, Komisaris Heru Adrian menjelaskan, laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak  itu ditangkap setelah pihaknya menerima laporan kasus pencabulan dari keluarga korban. Setelah menerima laporan tersebut, pihaknya langsung melakukan penangkapan terhadap Sarnata di rumahnya di Jalan Raden Fatah, Gang Ciruas III Kelurahan Kaliawi, Tanjungkarang Pusat.

“Saat diperiksa, tersangka Sarnata mengakui perbuatannya telah mencabuli korban Mawar yang masih di bawah umur dan perbuatan bejat itu dilakukan tersangka hanya sekali,”kata Heru kepada wartawan, Jumat (7/8).

Motif pencabulannya, lanjut Heru, tersangka Sarnata merayu korban dengan mengajaknya pergi di suatu tempat dengan diimingi-imingi buah jambu. Di tempat tersebut tersangka melakukan pencabulan.

“Saat di tempat itulah secara berulang-ulang tersangka melakukan pencabulan terhadap korban hingga korban mengalami sakit pada kemaluannya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara,”jelasnya.

Kepada para wartawan Sarnata mengakui perbuatannya. Ia mengaku perbuatan cabul itu ia lakukan hanya sekali.

Perbuatan itu berawal ketika ia pulang ke rumahnya setelah bekerja sebagai penarik becak.  Saat melihat korban sedang bermain di depan rumahnya, kata Sarnata, tiba-tiba muncul niat buruk di pikirannya. Dia lalu mendekati korban dan mengajaknya pergi, dengan diiming-imingi akan diambilkan buah jambu.

Menurutnya, korban mau diajak pergi karena ia biasa yang mengasuh korban selama ini.

“Korban mau saya ajak pergi dengan saya, karena saya biasa mengasuhnya. Saat itu saya ajak pergi ke tanah kosong gunung bantahan di bawah pohon Jambu, lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya dan korban. Setelah korban saya kasih buah jambu, lalu saya memangkunya. Saat dipangku itulah saya mencabulinya,”ungkapnya.

LEAVE A REPLY