Beranda Views Kopi Sore Debat Mak Kenyot Wonder Women dengan Mukidi

Debat Mak Kenyot Wonder Women dengan Mukidi

BERBAGI

Ahmad Yulden Erwin

Mak Kenyot sudah lama kebelet ingin ikut nyalon pilkada di DKI. Dengan modal wajah ayu keibuan, lembut polahnya, sopan dalam tutur bicara, selalu menggunakan perhiasan emas yang berlebihan sehingga ia dikenal media sebagai “Wanita Emas”, plus restu ghoib dari arwah Pangeran Jayakarta, ia pun merasa sangat siap untuk menjadi gubernur perempuan paling ayu dalam sejarah politik di Indonesia.

Bersama Mukidi, ketua tim suksesnya, ia pun merencanakan bersilaturahmi dengan pengurus-pengurus parpol di DKI. Namun, bagai disambar gledek, Mukidi sontak kaget ketika pas “hari H” silaturahmi politik itu Mak Kenyot justru tampil dengan kostum yang kelewat mengejutkan. Ia mengenakan kostum merah-biru-putih ala Wonder Women, tokoh superhero dalam satu film Hollywood terbaru.

“Maaf, Mbakyu… apa kostumnya nggak berlebihan?” protes Mukidi dengan santun.

Ndak kok, ini justru buat mencitrakan diriku sebagai pahlawan bagi kaum perempuan tertindas di Jakarta,” jawab Mak Kenyot anteng.

“Tapi, Mbakyu kan bukan mau syuting film di Hollywood?” sanggah Mukidi masih dengan sopan, meski sudah mulai sedikit kritis.

“Dasar oon kamu, Mukidi! Politik di Indonesia ini kan butuh kejutan. Kalau adem ayem atau biasa-biasa saja, mana bisa menarik dukungan massa,” jawab Mak Kenyot diselingi senyum keibuan yang sanggup membuat pohon beringin di depan rumah siapa pun bergemerisik keras, seolah ingin punya kaki agar bisa memeluk Mak Kenyot.

“Tapi, Mbakyu, kita ini bukan mau kampanye di Lapangan Banteng atau blusukan ke kampung-kampung. Kita mau datang ke kantor pusat beberapa parpol,” jawab Mukidi mulai blak-blakan.

“Lah itu, maksudku juga begitu. Aku mau mencitrakan bahwa aku ini benar-benar superhero kaum perempuan di mata pengurus parpol. Bukankah di Jakarta pemilih perempuan lebih banyak daripada pemilih lelaki?” tandas Mak Kenyot.

Kali ini Mukidi menyerah. Ia selalu kalah bila beradu argumen logis dengan Mak Kenyot yang jebolan S3 salah satu universitas swasta di Malang. Tapi, lagi-lagi mata Mukidi yang jeli menangkap keganjilan dalam “kostum politik” Mak Kenyot.

“Tapi, Mbakyu, itu kenapa gelang dan kalung emasnya masih dipakai terus? Bukankah Wonder Women dalam film nggak pernah pakai asesoris emas yang meriah kayak begitu?” kritik Mukidi.

“Lagi-lagi kamu oon, Mukidi. Aku ini Wonder Women dalam dunia nyata, bukan dalam film Holywood! Di dunia nyata aku selalu pakai asesoris emas. Aku tak mau membohongi para petinggi parpol seolah-olah aku ini Wonder Women Hollywood.”

“Oke, Mbakyu. Masuk akal, logis alasannya. Tapi, satu lagi, hanya satu lagi yang ganjil menurut mata saya.”

“Apa?!”

“Bukankah Wonder Women nggak pakai kerudung kayak Mbakyu?” tanya Mukidi sambil menunjuk ke arah kerudung putih yang dipakai Mak Kenyot.

“Sekarang oon-mu wis pool tenan, Mukidi! Aku pakai kerudung karena mau mencitrakan diriku sebagai Wonder Women religius, bukan ateis kayak yang di Amerika sana. Sudah, ndak usah protes kostumku terus. Ayo, berangkat!” tegas Mak Kenyot.

Belum habis bengong Mukidi, tiba-tiba dari ujung gang kantor tim sukses muncul rombongan Tanjidor dengan musiknya yang hiruk-pikuk.

“Nah, sekarang lengkap sudah. Aku ini Wonder Women yang mencintai budaya lokal. Kalau para pengurus parpol tidak mendukung diriku jadi gubernur DKI, mereka pasti tidak waras,” kata Mak Kenyot dengan pede, sambil tersenyum keibuan semanis jambu klutuk.