Beranda Pendidikan Di antara Wabah Pinangan-Chekov, Teater Palapa Juaranya

Di antara Wabah Pinangan-Chekov, Teater Palapa Juaranya

BERBAGI
'Bucek ' Bagus Setiawan (Penampil Terbaik III), Erika Bunga Rph (II), Gandi Maulana (I)

Oleh Alexander GB

Ratusan pelajar SLTA memadati gedung teater tertutup Taman Budaya Lampung , tempat digelarnya even yang diberi nama Studen On The Stage (SOS) Festival Teater Pelajar Nasional 2014, Minggu – Jumat,  2-7 November 2014.

Dan Pinangan menjadi lakon paling diminati pada even SOS kali ini. Dari 15 penampil, 6 kelompok mengangkat lakon yang sama. 15 penampilan mereka membuat kemeriahan seolah tak mau beranjak dari gedung teater tertutup Taman Budaya Lampung. Acara yang akhirnya ditutup kemarin, Jumat (7/11).

‘Bucek’ (Bagus Setiawan) mengadapsinya ke kehidupan masyarakat pesisir. Dialog-dialog dan tokoh lokal (Lampung) menyemarakan pertunjukannya. Sepanjang 60 menit perut penonton dikocok-kocok olah kemampuan aktor-aktor menghidupkan dialog dan laku yang kental dengan gaya khasnya. Demikian halnya dengan Gandi Maulana, yang mengarsiteki SMAN 3 Bandar Lampung yang sekaligus ditasbihkan sebagai penampil dan sutradara terbaik pada gelaran kali ini.

Menurut juri, pementasan yang disutradarai Gandi mampu menyuguhkan Pinangan dalam versi yang berbeda. Palembang dan Bengkulu tak mau ketinggalan. Mereka juga membawa warna daerahnya masih-masing . Dewan juri dibikin pusing oleh penampilan masing-masing kontestan yang segar dan menggelitik tersebut.

Sementara Eka Bunga Rph yang mengadaptasi Kisah Cinta Hari Rabu karya Anto Chekov menjadi Jodoh Oh Jodoh dengan warna yang berbeda. Bersama Teater Koteka (SMA Al-Kautsar) benar-benar mampu mencuri hati penonton dan dewan juri.

Pagi Bening yang dibawakan SMAN 1 Sumberjaya Lampung Barat, sesungguhnya tak kalah bagus dengan pertunjukan lainnya. Dengan setting taman kota, lakon ini digulirkan dengan baik. Penataan musik dan akting-akting aktornya cukup membuat penonton terhibur.

Demikian halnya penampilan SMA Kepahiangan-Bengkulu. Khususnya tokoh Bapak yang dinobatkan sebagai pembantu pria terbaik. Ia menjadi kunci suksesnya pementasan Pinangan kali ini. Dengan logat dan gesture yang unik, dan mampu memberikan warna pertunjukan menjadi segar. Sutradara cerdas memilih dan melatih aktornya.

Panitia juga mampu mengemas kegiatan dengan indah. Dari pemilihan tempat pementasan, mobilisir penonton, pengelolaan pementasan setiap peserta, kru panggung yang selalu sigap, metode evaluasi, kualitas juri, dan lain sebagainya, yang kesemuanya terkelola dengan baik dan keren. Ini bisa jadi contoh bagi instansi atau lembaga lain yang kerap mengelola kegiatan seni pertunjukan di Provinsi Lampung.

Siapa lagi penyelenggaranya jika bukan Teater Satu Lampung yang kali ini menggandeng Hivos-Belanda. Setelah sukses beberapa tahun terakhir menggawangi perkembangan teater Sumatera dengan nama Kala Sumatera dan Panggung Teater Perempuan, pada kesempatan ini giliran kalangan pelajar yang mereka sentuh, yang mereka bangkitkan daya kreatifnya melalui seni pertunjukan.

Teater Satu adalah Komunitas teater yang sejak 1996 hingga sekarang tak henti memproduksi pertunjukan yang kualitasnya sudah diakui secara Nasional bahkan Internasional.  Dan di tengah kesibukan mereka, ternyata masih memiliki energi yang besar untuk secara rutin menggelar even semacam ini, selain Kala Sumatera dan Panggung Teater Perempuan. Benar-benar sebuah dedikasi yang luar biasa. Mereka seperti tak kenal lelah memperovokasi dan memotivasi kehidupan pelaku teater di bumi lada ini.  SOS adalah event yang mereka kelola sejak tahun 2000 tersebut.

Menurut Iswadi Pratama (Pimpinan/Sutradara Teater Satu) mengatakan bahwa melalui Studen On The Stage (SOS) atau yang dulu kita kenal Liga Teater Pelajar, kami berupaya melakukan pembinaan dan regenerasi, serta dengan sendirinya membangkitkan gairah perteateran di provinsi Lampung.

Even ini harus dipertahankan, sebab sekarang menjadi satu-satunya even festival seni pertunjukan yang sangat pentng dan besar pengaruhnya dalam merawat perkembangan seni pertunjukan di Lampung. Lagi pula, program yang sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang hendak mewujudkan pendidikan yang berbasis pembentukan karakter serta pertumbuhan ekonomi kreatif dikalangan masyarakat.

Bahkan, dibanding penyelenggaaraan sebelumnya, pada kesempatan ini Teater Satu memperluas pelaksanaan Festival Teater pelajar menjadi Level Nasional. Serta secara organisasi mengembangkannya sebagai Jaringan Teater Pelajar Nasional. Hal ini terbukti adanya beberapa grup teater perwakilan dari luar dari daerah Lampung, seperti SMAN 6 Solo, SMA Kepahiangan Bengkulu, dan SMA LTI Palembang.

Sementara dari Lampung diwakili oleh kelompok teater: SMAN 1 Bandar Lampung, Teater Palapa-SMAN 3 Bandar Lampung, Teater Handayani-SMAN 7 Bandar Lampung,  Teater Kolastra SMAN 9 Bandar Lampung, SMAN 11 Bandar Lampung, SMA Xaverius Bandar Lampung, Teater Koteka-SMA Al-Kautsar Bandar Lampung, SMAN 1 Metro, SMAN 1 Sumberjaya Lampung Barat, SMK Nurul Falah Pagelaran Tanggamus, SMAN 1 Negeri Katon-Pesawaran.

Dewan juri memutuskan; Penampil terbaik I diraih oleh SMAN 3 Bandarlampung, SMA Al-Kautsar menjadi Penampil Terbaik II, dan SMAN 11 sebagai Penampil Terbaik III. Grup potensial diraih SMAN 1 BDL.  Untuk kategori sutradara terbaik diraih Gandi Maulana, Aktor Utama (pria) diraih Mohammad Reza (SMAN 11 BDL), Aktris terbaik Radiatul Hasanah (SMAN 3 BDL). Aktris pembantu (pria) terbaik diraih Fadhil Abdurahman (Bengkulu), Aktris Pembantu (wanita) terbaik Ayu Chandra Sari (SMAN 1 BDL).

Pada even ini juga ada pemilihan Kru dan Artistik Terbaik  yang kedua katogori tersebuat diraih Teater Jabal (SMK Nurul Falah) karena kekompakan dan tata artistik yang paling baik dibanding kontenstan yang lain.  Musik Terbaik diraih oleh SMAN 1 Sumberjaya.  Bertindak sebagai Dewan Juri SoS 2014 adalah;  Edi Suisno (STSI Padang Panjang), Yani Mae (STSI Bandung), Jamaludin Latif (Yogyakarta).

Selaku pengamat SOS adalah Ari Pahala Hutabarat (Komunitas Berkat Yakin, Lampung) yang pada kesempatan ini menyampaikan kegagumannya pada potensi dan semangat seluruh peserta. Banyak penampil yang menunjukkan kesegaran, kejenialan, mampu meramu unsur lokal ke dalam pertunjukan dengan baik dan menarik.

Dia mengatakan sangat mendukung kegiatan semacama ini untuk secara rutin dilaksanakan untuk membangkitkan gairah teater SLTA yang sempat redup dalam beberapa tahun terakhir. Teater Satu melalui SOS adalah contoh pengelolaan kegiatan seni pertunjukan di kalangan pelajar yang keren.  Pelajar jadi tahu panggung teater yang sesungguhnya.

Acara penutupan dihadiri oleh Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung, Perwakilan Dinas Pariwisata, Provinsi Lampung, Perwakilan Taman Budaya Lampung, sejumlah guru pendamping dan ratusan pelajar. Dari kursi paling belakang, saya termangu.

Tiba-tiba teringat FSL2N dan Musikalisasi Puisi tingkat Provinsi Lampung, yang tempat pementasan seringkali tidak representatif. Seandainya Festival teater Pelajar atau musikalisasi Puisi bisa dilangsungkan di Gedung Teater tertutup tentu hasilnya akan lebih optimal, sebab didukung lampu dan akustik yang lebih baik.