Beranda Hukum Kriminal Ditangkap di Jateng, Otak Pembunuhan-Penyulut Rusuh Lampura Sempat Bikin Polisi Khawatir

Ditangkap di Jateng, Otak Pembunuhan-Penyulut Rusuh Lampura Sempat Bikin Polisi Khawatir

BERBAGI
Giyarso (Foto: Istimewa)

KOTABUMI, Teraslampung.com — Giyarso, otak  pembunuhan Muhammd Jaya Pratama (13) yang kemudian menyulut kerusuhan di  Dusun 2, Desa Sukadana Ilir, Bunga Mayang, Lampung Utara,3 Februari 2015, ditangkap Polres Lampung Utara di di Desa Jajar, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah, Minggu  (7/2) sekitar pukul 11:00 WIB.

Hingga minggu malam, Kasat Reskrim Polres Lampung Utara AKP Supriyanto masih dalam perjalanan membawa Giyarso menunju Lampung. Bagi AKP Supriyanto dan jajaran Polres Lanpung Utara tertangkapny Giyaarso cukup melegakan. Selain akan menjadi kunci utama menguak kasus pembunuhan Jaya Putra, tertangkapnya Giyarso juga menghilangkan kekhawatiran pihak Polres Lampung Utara.

Kekhawatiraan pihak Polres memang sempat muncul terutama ketika Giyarso belum tertangkap, sedangkan proses rekonstruksi yang menghadirkn dua tersangk pelaku pembunuhan sudah digelar. Polisi khawatir karena sejumlah media menyebut Giyarso dengan nama terang (bukan inisial). Padahal, biasanya untuk tersangka tindak kriminal yang belum ditangkap alias masih buron biasanya hanya inisial yang ditulis.

Alasannya, kalau nama terang atau nama jelas ditulis di media massa maka tersangka akan makin susah ditangkap karena akan kabur di tempat yang susah diprediksi.

SIMAK: Ditangkap! Inilah Penampakan Dalang Pembunuh Siswa SD, Penyulut Rusuh Lampung Utara

Alasan kedua, jika nama jelas ditulis maka tersangka akan diuber pihak lain (selain polisi) sehingga tersangka bisa benar-benar hilang. Kalau kekhawatiran ini jadi kenyataan maka tersaagka akan terbebas dari tanggung jawab (karena hilang atau mungkin saja mati). Dengan begitu, pengungkapan kasus pembunuhan pun menjadi tidak maksimal.

Berdasarkan keterangan dua pelaku pembunuhan Putra Pratama, Giyarso merupakan dalang atau otak aksi bejat itu. Ia memberi order kepada Marsudi untuk membunuh anak Johansyah (Putra Pratama) karena dendam kesumat. Untuk menjalankan ordernya, Marsudi akan dibayar Rp 10 juta.

Terungkapnya motif pembunuhan ini berdasarkan hasil rekonstruksi pembunuhan MJP yang digelar Polda Lampung bersama Polres di daerah Kebun Empat, Tanjung Seneng, Kotabumi Selatan, Kamis (4/1) sekitar pukul 12:00 WIB.

Aksi pembunuhan yang diotaki Giyarso ini memicu aksi amuk massa yang berujung pada pembakaran dan pengrusakan puluhan rumah warga di Dusun 2. Total ada 31 unit rumah yang dibakar dan 43 unit rumah lainnya dirusak massa.

Feaby Handana/TIM