BERBAGI
Rumah Budaya Fadli Zon, Kamis (18/8), malam, meluncurkan buku “Pantun Minang” Dua Bahasa (Minang-Indonesia) karya Budayawan Minang, “Mak Katik” Musra Dahrizal. Buku setebal 598 halaman berisi 5.000 pantun itu, diusulkan asuk rekor MURI.
Rumah Budaya Fadli Zon, Kamis (18/8), malam, meluncurkan buku “Pantun Minang” Dua Bahasa (Minang-Indonesia) karya Budayawan Minang, “Mak Katik” Musra Dahrizal. Buku setebal 598 halaman berisi 5.000 pantun itu, diusulkan asuk rekor MURI.

TERASLAMPUNG.COM — Rumah Budaya Fadli Zon meluncurkan buku “Pantun Minang” Dua Bahasa (Minang-Indonesia) karya Budayawan Minang, “Mak Katik” Musra Dahrizal, Kamis malam (18/8). Buku setebal 598 halaman berisi 5.000 pantun itu, diterbitkan Fadli Zon Library, Jakarta, dan akan diusulkan masuk rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai buku berisi pantun terbanyak yang berasal dari Minangkabau.

Peluncuran buku tersebut bertepatan dengan syukuran dan ulang tahun ke-66 “Mak Katik” Musra Dahrizal. Sejumlah pejabat, seniman, budayawan, tokoh adat di Sumatra Barat menghadiri acara itu.

Budayawan Fadli Zon yang menggagas penerbitan buku “Pantun Minang” dwi bahasa tersebut mengatakan, memahami patun Minangkabau sama artinya menyelami kebudayaan masyarakat Minangkabau.

“Sebab hampir seluruh ragam tradisi Minangkabau dapat kita temukan dalam pantun Minangkabau,” kata Fadli Zon yang juga Wakil Ketua DPR RI.

Dia mengatakan sangat mengenal “Mak Katik” sebagai sosok seniman dan budayawan Minang yang setia pada tradisi.

“Ia punya perhatian mendalam terhadap kebudayaan Minangkabau dan pelestariannya. Usahanya untuk membuat pantun dan dikumpulkan menjadi buku merupakan ikhtiar penting yang pantas diapresiasi,” ujarnya.

Mak Katik, menurut Fadli Zon, adalah seniman yang multitalenta. Ia pandai berdendang, saluang, silek, randai hingga pantun.

“Kemampuannya dalam seni pertunjukan tradisi tidak diragukan lagi, apalagi hafalan-hafalan pantun Minang merupakan karya Mak Katik sendiri,” tambahnya.

“Mak Katik” Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto lahir di Padang Panjang, 18 Agustus 1950. Ketekunan mendalami adat Minangkabau telah ia mulai sejak tahun 1963 ketika dirinya mempelajari Pidato Adat.

Tahun 1970 Mak Katik terlibat aktif sebagai pembina dalam sasaran Silat Tuo dan Randai Talego Gunung di Subarang Palinggam Padang Selatan. Ia juga aktif membina sasaran Silat dan Randai Anggrek Tujuh di Kuranji Kota Padang, serta sasaran Silat dan Randai Palito Nyalo di Pauah Kota Padang sejak tahun 1989 hingga sekarang.

Ia pernah diundang sebagai dosen luar biasa pada University Hawaii at Manoa, dosen luar biasa di ASWARA Akademi Malaysia, dan hingga kini masih tercatat sebagai dosen luar biasa di Universitas Andalas serta Universitas Negeri Padang untuk mata kuliah Entologi Minangkabau dan Falsafah Adat Minangkabau.

LEAVE A REPLY