Beranda Seni Teater Drama Antigone Karya Sophokles (7)

Drama Antigone Karya Sophokles (7)

BERBAGI
Antigone di depan mayat Polyneices. (dok Wikipedia)
Penerjemah: Rendra
Nah,
sebab altar-alatar kita sudah ternoda oleh jasad Polyneicies yang dicabik oleh
gagak dan anjing. Itulah sebabnya dewa tak mau sajian kita. Wahai, raja. Aku
mohon kamu pertimbangkan lagi keputusanmu. Semua orang bisa berbuat salah. Itu
biasa. Tapi orang bijaksana mau mengakui kesalahannya dan mencoba
memperbaikinya. Berkeras kepala sama saja dengan tanpa kepala. Polyniecies
sudah mati. Tak perlu di hukum lagi. Kamu lebih mulia bila mengalah pada jasad.
Kenapa
orang mati masih dibunuh juga? Semua ini kukatakan dengan penuh kesayangan. tak
ada hal lain kuharapkan, kecuali supaya kamu jaya dan mendapat keselamatan
CREON
Uang!
Semua orang berkomplot melawanku lantaran uang! Bahkan para pertapa sudah mulai
berkomplot hendak memerasku. Selama ini para penujum memperdagangkan diriku
sebagai barang kodian. Bagus! Kumpulkanlah semua emas di jagat. Tak akan bisa
dibeli keputusanku! Mayat itu dilarang dikuburkan! Apakah aku bisa percaya
begitu saja, bahwa dewata bisa dinodai sembarang manusia? Bukankah Dewa itu tinggi
dan tidak bernoda? Tetapi kamu mokal-mokal saja. Memutar balikkan semuanya. Dan
barangkali hanya lantaran harta.
TEIRISIAS
Astaga!
Masihkah ada orang yang belum tahu….
CREON
pasti
akan ada pepatah….
TEIRISIAS
…bahwa
akal sehat adalah kelebihan manusia yang paling utama?
CREON
Dan
pikiran bengkok adalah kekurangan yang utama!
TEIRISIAS
Itulah
kekurangan kamu yang utama!
CREON
Tidak
bisa!…Wah, ini kamu yang mulai. Toh aku tak mau menghina seorang….dukun!
TEIRISIAS
Kamu
sudah menghina karena kamu menuduhku berdusta!
CREON
Semua
dukun empunya permainan.
TEIRISIAS
Kalau
begitu banyak raja terlibat pula!
CREON
Apa
kamu menyindir aku?
TEIRISIAS
Kamu
tidak akan jadi raja tanpa aku!
CREON
Dulu
kamu baik. Sekarang kamu bengkok!
TEIRISIAS
Jangan
kamu paksa aku mengungkapkan tujuman!
CREON
Katakan
saja. Asal tanpa bayaran…
TEIRISIAS
Sebentar
lagi kamu ingin membayarku untuk tidak menujumkan.
CREON
Jangan
berkelok dan berliku-liku.
TEIRISIAS
Hanya
selang beberapa hari lagi, kamu akan membayar nyawa dengan nyawa, mayat dengan
mayat. kamu telah mengubur nyawa yang mestinya hidup di dunia. Kamu juga telah
menahan mayat di dunia sedang mestinya dengan khidmat harus diantar ke akherat.
jadi ada dua hutangmu. Hutang nyawa akan kamu bayar dengan nyawa, hutang mayat
akan kamu bayar dengan mayat.
Maka
sebentar lagi rumah tanggamu akan berantakan. Ratap tangis akan keluar dari
keturunanmu. Dan mereka harus membayar dua nyawa untukmu. Nah, marilah kita
buktikan apakah tujumanmu ini diucapkan karena suapan. sangat parah taruhannya.
tapi apakah kamu sendiri yang ajukan tantangan, Sekarang aku pergi. AKu sudah
tua. tidak kuat menghadapi amanah orang muda
PADUAN
SUARA
Itulah
tujuman yang dahsyat. Menurut pengalaman, belum pernah ia meleset dalam tujuman
CREON
Aku
tahu, aku tahu. Akupun tak akan berpura-pura tenang. Bila aku mengalah,
akibatnya sukar ditanggungkan. Bila aku tidak berubah berarti aku menempuh
kutukan
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Keputusan
yang tepat kita butuhkan dengan cepat
CREON
Apa
yang harus aku lakukan? Coba katakan!
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Bebaskan
Antigone. kuburkan Polyneicies dengan upacara.
CREON
Jadi
mengalah!? Itulah pendapatmu!
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Dan
harus segera pula. Sebab kutukan dewa sungguh cepat jalannya.
CREON
Aku
tak akan bisa melawanmu dewa. Meskipun berat rasanya, aku akan mengalah juga.
lain kali tak akan kubuat peraturan yang menyalahi undang-undang. Ayo kamu,
ikut aku. Kita bawa kapak dan tembilang. AKu ingin memimpin sendiri perbaikan
yang akan kulakukan.
PAEAN
DOA
PADUAN SUARA KEPADA DEWA
PADUAN
SUARA
Kami
para wakil rakyat Thebes berlutut dan berdoa.
Kami
sebut kamu, wahai arwah nenek moyang
kami
sebut kamu, langit dan bumi
Kami
sebut kamu, wahai Bachus, dewata
bachus
dewata rupawan, dewata dengan banyak sebutan, Putera Zeus raja angkasa
dan
Ibumu Semele dari bumi. Bahkan dari kota ini. Kepadamu kami memohon. Tolonglah
kami, putera-puterimu. tolonglah kota ini yang dulu juga menjadi kampong dan
halamanmu.
Wahai
dewata tampan, Bachus yang suka mengembara ada banyak lembah yang tenteram, ada
banyak gunung yang indah, ada banyak kota yang kaya tetapi negerimu di sini dan
kini negerimu menderita.
Wahai,
Bachus pendekar cinta, sementara kamu bercumbu dengan peri dan jantungmu
terkena panah asmara kenangkanlah. Kami putera-puterimu berlutut dan berdoa dan
kami berada dalam bencana.
EPILOGOS
PEMBAWA
WARTA
Wahai
para wakil rakyat Thebes, betapa kamu akanb tahu bagaimana nasib rakaytmu?
nasib baik, buruk hanya kebetulan semata-mata. Tengoklah nasib Creon
sekarang….Selama ini aku kira ia orang yang jaya…Orang yang telah berjasa pada
Negara, kepalan keluarga yang kaya, bapak yang disayang anak-anaknya. Kemudian
diangkat menjadi raja….dan lalu…jatuhlah ia….
Tentu
saja hartanya masih ada. ia masih kaya raya. tetapi uang tak bisa membeli
kebahagiaan. Apa gunanya uang kalau kita tak punya kebahagiaan untuk
menikmatinya?
Kini
hartanya tak lebih dari asap layaknya. Kita tak bisa bilang bahwa Creon masih
hidup. ia adalah mayat yang berjalan.
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Coba
langsung katakana, apa yang menimpa keluarga Creon?
PEMBAWA
WARTA
Mereka
binasa. Yang masih hidup akan segera pula binasa.
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Bagaimana
mereka binasa? Siapa saja yang binasa? Siapa? Bagaimana? Katakan segera!
PEMBAWA
WARTA
Haemon
mati. Ia mati bunuh diri!
PADUAN
SUARA
Haemon!
Haemon!
PEMBAWA
WARTA
Ia
mati bunuh diri sebab tunangannya dibunuh ayahnya
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
O,
Teresias, pertapa tua. Sungguh sakti perkataanmu…..
PEMBAWA
WARTA
Itulah
yang terjadi. Selebihnya aku tak punya kuasa…
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Lihat!
Euridice! Eudridice, istri Creon yang malang. ia muncul tiba-tiba dan lihatlah
wajahnya!
EURIDICE
Selagi
aku diambang pintu, aku dengar kata-katamu. lagi-lagi berita bencana untuk
keluarga. AKu pingsan, tetapi dayang-dayang yang telah memberi pertolongan. Coba
ceritakan pula sejelasnya. Aku cukup kuat menderita.
PEMBAWA
WARTA
Nyonya
yang mulia, semua akan kukisahkan kepadamu. Aku sendiri menyaksikan takkan aku
menutupi atau melunakkan, karena lambat atau cepat toh akan sampai ke
telingamu.
Aku
pergi bersama Creon ke padang belantara, ke tempat jenazah Polyneicies
dihinakan, koyak moyak digigit srigala. Kami cukupkan doa-doa untuk membujuk
Dewa Maut dan Dewa Neraka. lalu kami bersihkan jenazah itu kami beri
rempah-rempah dan air suci, lalu kami kumpulkan kayu dan ranting pohon zaitun.
kemudia kami baker semua sisa mayat itu. lalu akhirnya sebagai penutup lengkap
upacara, kami serahkan ia kepada Ibu Bumi….Sesudah itu kami pergi untuk
menyelamatkan Antigone….
Sementara
kami membongkar pintu goa batu yang telah disemen itu, ada orang yang mendengar
suara tangis di dalam goa. Segera ia melapor kepada Creon – Creon melompat oleh
firasat dan segera penggalian dipercepat – Makin lama makin tangis itu makin
keras dan terasa menyelubungi kami. Ngeri dan tak ketahuan tangis siapa. tetapi
Creon, tiba-tiba kaku dan berkata “ Aku takut benar bahwa perkiraanku benar.
Sebidang tanah ini akan menjadi saksi betapa pahitnya akhir perjalananku ini.
Meski belum nyata, tapi aku merasa bahwa itulah suara tangis puteraku. Cepat
bongkar semua batu. Lihat di dalam! Itulah tangisan haemon@! Atau tipuan Dewa
menggoda jiwa!
Maka
di ujung goa, kami lihat Antoigone menggantung diri dengan sehelai kain lena.
Dan haemon memeluk tubuh kekasihnya sambil mengigau, bicara sendiri, tentang
nasib percintaan mereka dan tentang sikap Creon pada tunangannya – Creon
meliaht itu semua dan lalu lari menghampiri “Anakku, apa arti semua ini? Roh
apa yang merasuki dirimu? Kenapa kamu memilih mati? Ayolah keluar. Ini ayah
menjemputmu”
Anaknya
tidak menjawab. matanya melotot memandang sang ayah dengan buas dan benci. Lalu
segera ia cabut pedangnya, mengelak menghindari Creon, membalik gagang pedang
dan menikamkan pedang itu ke dadanya sendiri hingga ke hulu – ia rubuh di
belakang jasad kekasihnya. Mayat Antigone yang masih basah dipeluknya.
Kemudia….ia terbatuk dan darah segar munrat dari mulutnya membasahi pipinya
yang remaja. Lalu mati di atas tubuh pinangannya….Demikian maut telah
menikahkan keduanya.
Memang
sungguh benar kata sang pertapa; akal sehat adalah pusaka hidup orang utama.
Sebab sudah nyata bencana tidak perlu. ia terjadi karena nafsu semata-mata.
PADUAN
SUARA
Dan
kini Euridice pergi tanpa kata-kata…
PEMBAWA
WARTA
Aku
kira sudah selayaknya. Seorang wanita yang mulia di muka umum tak mau
menunjukkan perasaannya. Ia akan menangis dan berduka di dalam istana.
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Duka
yang gaduh dan berlebihan memang tidak sepantasnya. Tapi ketegangannya yang
tanpa suara, sungguh penuh rahasia.
PEMBAWA
WARTA
Pendapatmu
memang adala alasannya. Marilah kita tengok ke dalam sana. aku pun mencium
adanya bahaya.
PEMIMPIN
PADUAN SUARA
Nanti
dulu! Creon datang. lihat, ia bawa mayat puteranya.
PADUAN
SUARA
Creon,
creon. Bila benar kata berita. kamulah sumber bencana
CREON
Dosa!
Kenapa aku bisa berdosa sebesar ini!? Dan semua kematian dalam keluargaku
terjadi karena keras kepalaku….O, puteraku, puteraku, begitu remaja kamu
berangkat mati….Dan ini terjadi karena bapakmu.
PADUAN
SUARA
Sungguh
terlambat datang sesalmu.
CREON
Aku
tahu, dewa telah membalasku, mencengkramkan pikiranku, melemaskan tenagaku dan
merampas sumber kebahagiaanku. Dan seluruh usaha dalam
hidupku…punah…..sia-sia….
MASUK
PEMBAWA BERITA
PEMBAWA
WARTA II
Tuanku,
tuanku, apa yang Anda lihat sebagai bencana belum semuanya – sekarang, lihatlah
di dalam istana!
CREON
Bencana
apalagi yang mesti aku saksikan?
PEMBAWA
BERITA II
Istri
Anda, ibu mayat ini wafat. Baru beberapa detik yang lali ia menikam dirinya
sendiri
CREON
Astaga!
Apakah maut tidak bisa kuhindarkan? Wahai, maut, kenapa kamu selalu memburuku?
Apakah makna kedatanganmu kini? Sekali lagi kamu telah menghujamkan pukulanmu.
Istriku mati?
PEMBAWA
WARTA II
Dia
menikam diri di depan altar dan wafat di situ. Sebelum wafat ia menyeru
Megarius, puteranya yang pertama yang telah wafat. Lalu menyeru haemon putera
kedua yang wafat baru saja. Kemudian mengucapkan kutukan-kutukan yang semuanya
ditujukan pada Anda
CREON
Aku
gemetar ketakutan. Kenapa maut tak merenggutku pula? Kenapa tak ada orang maju
dan menikamku?
PEMBAWA
WARTA II
Sebelum
wafat, istrimu menekankan bahwa Anda bersalah terhadap kematian kedua puteramu
CREON
Semua
salahku. Memang kesalahanku. Aku telah membunuhmu, anak anakku! Istriku! Aku
telah membunuhmu. Dan kini aku pun ingin mati!
PADUAN
SUARA
Bagi
Anda, hanya sabar satu-satunya hiburan
CREON
Maut!
Apakah kamu hanya merunduk dari belakang? Kini aku mengundangmu. Dari muka
ambillah aku
PADUAN
SUARA
Betapapun,
Anda masih raja. ucapan itu tak bijaksana. Jenazah-jenazah harus disucikan,
kalau tidak, kami akan kena kutukan
CREON
Tak
akan aku mundur dari mati
PADUAN
SUARA
Maka
harapan percuma. nasib orang terserah Dewa
CREON
Aku
runtuh. Aku membunuh keduanya. Aku bernoda. Beban yang berat menekan kepala
PADUAN
SUARA
Siapa
inginkan kebahagiaan? Yang utama adalah kebijaksanaan. Ini maknanya tidak
menentang kehendak dewa. Siapa menentang alam, akan dihajar oleh alam. Kalau
kamu deksura dirimu akan dibikin hina. kalau kamu sombong, kamu akan dibikin
kosong.

TAMAT

BACA JUGA:

loading...