Beranda Lingkungan Enam Fakta Menarik Penambangan Pasir Gunung Anak Krakatau

Enam Fakta Menarik Penambangan Pasir Gunung Anak Krakatau

BERBAGI
Kapal yang dipakai PT Eval ditangkap Polairud Polda Lampung di perairan Krakatau.

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Penambangan pasir Gunung Anak Krakatau pernah menggemparkan publik di Lampung pada September  2009. Kasus serupa kembali terulang pada Desember 2014. Di antara dua kasus itu, sebenarnya masih ada rangkaian kisah seputar rencana dan praktik penambangan pasir yang mengandung biji besi terbaik di Indonesia dengan kedok mitigasi bencana gunung api.

Rangkain yang dimaksud adalah upaya-upaya banyak pihak, baik akademikus, pejabat pemerintah daerah, oknum Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG) Bandung, perangkap kerja sama yang ditebar para makelar bisnis pasir yang mengandung biji besi, dan pengusaha rakus.

Pada Oktober 2009, Profesor Surono (dulu pernah menjadi Kepala BVMBG, kemudian secara salah kaprah acap disebut media sebagai Mbah Rono) pernah bercerita kepada The Jakarta Post  tentang sulitnya memberantas mafia bisnis pasir yang mengandung biji besi di kawasan  yang dilindungi. Khususnya pasir di kawasan Gunung Anak Krakatau.

Selain melibatkan akademikus Universitas Lampung, upaya mitigasi bencana geologi dengan mengambil pasir Gunung Anak Krakatau diduga juga melibatkan orang dalam BKSDA (pada era 2009). Indikasi itu tampak jelas dari sejumlah pernyataan pejabat BKSDA Lampung yang dimuat The Jakarta Post pada rentang September-Oktober 2009.

Dokumen Perjanjian Kerja Pemkab Lampung Selatan dengan PT EVAL.

Berikut ini 6 fakta menarik terkait penambangan pasir Gunung Anak Krakatau.

1. Penambangan pasir selalu dikaitkan dengan mitigasi bencana.

Dalam wawancara dengan saya (saat itu sebagai jurnalis The Jakarta Post) dan Taufik Wijaya dari Radar Lampung di Hotel Amalia Bandarlampung pada September 2009, Suharsono (Direktur Ascho Unggul Pratama) dan Prof. Dr. Ali Kabul Mahi (Guru Besar Fakultas Pertanian Unila) memaparkan perlunya membuat saluran agar ketika Gunung Anak Krakatau meletus dampaknya tidak terlalu dahsyat bagi warga sekitar. Mitigasi bencana yang dimaksudkan Suharsono dan Ali Kabul adalah dengan menyedot pasir dari Gunung Anak Krakatau.

2. Pemaparan alasan mitigasi bencana seperti di atas juga pernah ipresentasikan di depan tiga Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Lampung Selatan, yakni Zulkifli Anwar, Wendy Melfa, dan Rycko Menoza. Hal serupa diulang lagi oleh tim PT AUP ketika melakukan sosialisasi ‘mitigasi bencana’ kepada warga Desa Pulau Sebesi.

3. Ketika PT AUP terbukti melaggar hukum dan ditutup, tidak ada proses hukum terhadap Suharsono selaku direkturnya. Padahal, Menteri Kehutanan (ketika Zulkifli Hasan) pernah menyatakan akan menindak tegas perusahaan yang melanggar UU Konservasi dengan mengeruk pasir Gunung Anak Krakatau.

4.  Ada tiga Bupati Lampung Selatan yang pernah menyetujui mitigasi bencana Gunung Anak Krakatau dengan melakukan penyedotan pasir dengan alat berat. Persetujuan itu terbukti dengan adanya permintaan izin melalui surat kepada Menteri Kehutanan. Bupati Zulkifli Anwar pernah mengirimkan izin mitigasi bencana kepada Menteri Kehutanan (saat itu M.S Kaban) tetapi ditolak. Anehnya, di era Bupati Wendy Melfa (2009) PTAUP tetap melakukan pengambilan pasir dengan dalih mitigasi bencana.

Lebih lucu dan ironis lagi, Pemkab Lampung Selatan pada 2014 membuat Perda Mitigasi Regional Bencana Geologo di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Perda itu berisi kerjasama Pemkab Lampung Selatan dengan PT Energi Vulcano Alam Lestari (EVAL).

5. Berbekal Perda (Perjanjian Kerjasama) itu, PT Eval melakukan operasi di wilayah Pulau Sebesi. Namun, dalam perkembangannya kemudian sebuah kapal yang dipakai PT EVAL ditangkat petugas Dit Polairud Polda Lampung ketika sedang beroperasi di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Operasi kapal tersebut menunjukkan adanya kemiripan dengan modus operasi dengan pengambilan pasir GAK pada 2009 lalu.

6. Setelah PT AUP ditutup, ternyata Suharsono masih bisa melanjutkan upaya melakukan ‘mitigasi bencana’ di sekitar Gunung Anak Krakatau dengan perusahaan baru, yakni PT EVAL.

Ini penyedotan pasir Gunung Krakatau oleh PT AUP yang berhasil didokumentasikan relawan Walhi Lampung:

Oyos Saroso HN