Beranda Views Sepak Pojok Festival Krakatau yang Anteng dan Tanpa Ledakan

Festival Krakatau yang Anteng dan Tanpa Ledakan

BERBAGI

Budi Hutasuhut

Hajat pariwisata milik Provinsi Lampung, Festival Krakatau, kembali digelar tahun 2016 ini. Ada banyak agenda kegiatan, semua bertajuk “jelajah”. Salah satu agenda itu “Jelajah Pasar Seni”.

Tahukah Anda bagaimana memahamkan kata “jelajah” dalam agenda-agenda itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “jelajah” berarti “bepergian kemana-mana untuk menyelidiki”. Jadi, Festival Krakatau 2016 ini mengagendakan tema besar perkara “jelajah”.┬áDalam Bahasa Inggris, kata “jelajah” bisa dipadankan dengan kata “explore”.
Apa yang dijelajahi? Atau, apa yang dieksplor?

Salah satu dari agenda jelajah itu bertajuk “Jelajah Pasar Seni”. Anehnya, agenda ini digelar di pasar modern, di dalam gedung mal di Kedaton.

Apa kaitan antara mal dengan pasar seni sehingga agenda “Jelajah Pasar Seni” harus digelar di dalam kawasan pasar moderen?

Kita tak tahu persis kaitan itu, kecuali pada kata “pasar”. Mal adalah pasar moderen. Mungkin, panitia Festival Krakatau menafsirkan mal sebagai pasar dalam pemahaman mereka tentang “pasar seni”. Maka, agenda “Jelajah Pasar Seni” digiring ke dalam mal moderen.

Penggiringan itu berupa memberi lapak bagi para pelaku usaha kerajinan tangan (handy craft) dan seniman. Karya kerajinan dipajang di dalam mal, dan karya seni (lukisan dan fotografi) juga dipajang di dalam mal.

Mungkin panitia berharap karya seni bukan saja bisa masuk mal, tapi juga bisa laris di dalam mal. Dengan begitu, karya seni bisa jadi komoditas dagang.

Barangkali ini logika satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) di lingkungan Pemda Provinsi Lampung, yang terlalu melambung membayangkan karya seni dijual di pasar moderen, berkeyakinan peminat karya seni itu sama dengan peminat kuliner. Semua lapisan manusia akan menjadikan karya seni sebagai komoditas.

Penafsiran yang keliru. Pasalnya, penafsiran itu tidak berbanding lurus dengan kualitas karya seni yang ditampilkan di dalam mal. Karya-karya seni rupa (lukisan), sama sekali tidak memiliki kualitas sebagai karya seni rupa. Sementara karya fotografi, lebih tampak sebagai hasil reproduksi karya fotografi.

Belum lagi karya-karya kerajinan tangan berbasis indsutri kecil yang mengandalkan ornamen-ornamen kultural khas Lampung. Sebut saja tapis. Kain tenun itu lebih berkesan seperti pindah dari Plaza Bambu Kuning ke Mal Kedaton. Harganya tetap tinggi, tetap tidak terjangkau kantong orang.

Kita tak paham apa sesungguhnya yang dikehendaki panitia penyelenggara Festival Krakatau. Kita tidak mendapat informasi memadai. Kita hanya tahu ada festival, tapi kita sulit membayangkan sebuah festival yang digelar tanpa melibatkan seluruh lapisan rakyat.
Festival Karkatau tahun ini, sangat eksklusif. Festival yang ditujukan bagi orang-orang tertentu—para pejabat birokrasi, pegawai negeri sipil, dan seluruh anggota furom komunikasi pemerintah daerah. Tidak ada tempat bagi rakyat. Hanya ada Jelajah Pasar Seni itu, dan rakyat tak paham apa yang dimaksud dengan jelajah itu