Beranda Seni Teater Festival Monolog Dewan Kesenian Lampung Diikuti 14 Peserta

Festival Monolog Dewan Kesenian Lampung Diikuti 14 Peserta

BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


“Perempuan Pilihan”: penuh kritik satire.

BANDARLAMPUNG–Festival Monolog yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang dimulai Jumat (28/11) hingga Minggu (30/11) diikuti 14 peserta.

Ketua Harian DKL Hary Jayaningrat mewakili Ketua Umum Syafriah Widianti membuka festival tersebut. Hary berharap kegiatan akan melahirkan aktor/aktris panggung yang andal. Ke depan, perlu dirancang festival serupa atau festival teater berskala nasional, regional, bahkan internasional.

“Apalagi jika gedung DKL yang representatif sudah bisa difungsikan. Saat ini DKL tengah memperjuangkan penyelesaikan pembangunan gedung tersebut,” katanya.

Malam pertama Festival Monolog ini menampilkan 4 peserta: dua dari Teater Satu, dari SMA N 2 Negeri Katon Pesawaran, dan peserta dari UKM SBI IAIN Radin Intan Bandarlampung.

Devi Novita Safitri (Teater Satu) memanggungkan naskah “Perempun Pilihan” karya Iswadi Pratama. Devi tampil apik, dengan akting yang sudah terlatih.

Aksentuasi perempuan pribumi Lampung bersuami suku Lampung keturunan bergelar, menjadikan tontonan ini benar-benar segar. Kritik atas gelar atau keturunan bangsawan dalam tradisi etnis Lampung dihadirkan secara satire. Penonton pun terhibur, etnik yang dikritik pun tidak terasa ditusuk.

Kemudian peserta dari IAIN Radin Intan, juga tampil dengan naskah “Kaos Kaki Bolong”, naskah yang berkisah tentang demokrasi dan masih relevan dengan konteks kekinian.

Akting seorang aktor  saat memainkan lakon “Kasir Kita”.

“Kaos Kaki Bolong”mengisahka tentang seorang pria sejak muda selalu memperjusngkan demokrasi. Perjuangan untuk demokrasi ini siap dipertahankan hingga tetes dsrah terakhir, meski sebagai mantan demonstrans pada masa tuanya susah. Dia tinggal di sebuah perkampungan kumuh dan akan digusur karena pelebaran jalan.

Sebagai mantan aktuvis, dia dipercaya berada di depan untuk menolak penggusuran. Tentu atas nama demokrasi. Sayangnya, ia kemudian gelap mata, tergiur uang amplop sebesarRp250 juta agar meredam emosi warga.

Apakah mantan aktivis ini mampu memainkan perannya seperti saat muda sebagai koordinator lapangan? Jawabnya tidak. Dia ditinggal warganya. Kini ia hanya ia seorang diri menjaga demokrasi supaya tidak diambil orang lain. Demokrasi hanya miliknya seorang.

Lalu Rodiah, siswi SMAN 2 Negeri Katon Pesawaran,  membawakan lakon “Pidato Gila” karya Putu Wijaya, dan Abien memanggungkan “Kasir Kita”-nya Arifin C. Noer.

Kehadiran keempat aktor panggung pada Jumat malam menjadi bukti pertumbuhan kehidupan berteater di Lampung punya harapan besar. Setidaknya, berteater sudah akrab di masyarakat, kampus, sekolah, dan bukan  hanya milik orang kota.