Beranda Views Esai Festival Teater Pelajar dan Usaha Menyelamatkan Peradaban

Festival Teater Pelajar dan Usaha Menyelamatkan Peradaban

BERBAGI
Teater Palapa, SMAN 3 Bandarlampung dalam lakon Pinangan karya Anton Chekov
sutradara Gandi Maulana, Penampil dan Sutradara Terbaik SoS 2014


Oleh:
Ari Pahala Hutabarat*
         
 Setiap peradaban niscaya membutuhkan festival. Sebab
festival menjadi wadah yang akurat, sekaligus aman, bagi setiap individu untuk
meluaskan ruang kesadaran pribadinya. Kesadaran sosial yang dalam proses laku
hidup sehari-hari menjadi terabaikan akibat tekanan kebutuhan personal, melalui
festival, kemudian dirayakan secara layak. Perluasan kesadaran individual ini,
semacam kanalisasi dan sintesa yang sehat antara Id dan Super Ego dalam
terminologi Freud membuat yang natural menjadi sosial. Ranah psikis dari sebuah
masyarakat terartikulasi. Peradaban kemudian bisa melangkah tanpa menyimpan
trauma ketidakadilan ekonomi dan kegoblokan kultural di dalam dirinya.
Hal inilah yang bisa kita maknai dari perhelatan
Festival Teater Pelajar Nasional 2014 yang diselenggarakan Teater Satu Lampung,
dengan Tajuk “Studen On The Stage” pada hari Minggu – Jumat, , 2 – 7 November
2014, di Gedung Teater Taman Budaya Lampung. Festival ini mempertemukan
kelompok teater pelajar dari berbagai SMA yang ada di Bandarlampung, Metro,
Pesawaran, Pagelaran, Bengkulu, Palembang, dan Solo, Jawa Tengah. Sebanyak 15
kelompok teater pelajar terlibat dalam gelaran ini.
Ada banyak hikmah yang didapat dari event ini;
pelajar memiliki pengalaman yang sanga signifikan bagi perkembangan kepibadian
mereka–dari soal meningkatnya wawasan artistik, bekerja dalam tim, peningkatan
kapasitas intelektual, dan lain sebagianya. Lebih dari sekedar teori-teori
tentang kesnian seperti yang selama ini biasa mereka dapatkan di dalam kelas,
Festival Teater Pelajar Nasional ini juga memberikan pengetahuan yang paling
penting, yaitu pengalaman berpraktik.
Seperti dipahami oleh nalar yang baik, bahwa kesenian
tak mungkin cukup dimengerti dengan cara belajar teori. Kesenian membutuhkan
pengalaman tubuh dan emosional secara langusng. Pengertian yang diperolah
melalui praktik langsung ini niscaya mamu memberi manfaat ratusan kali lipat
ketimbang mereka hanya belajar teori kesenian di kelas.
Melalui Festival para siswa merasaka secara langsung
 berada di atas panggung  yang sesungguhnya, mereka merasakan aliran
impuls saat diterangi lampu panggung, dan mereka juga mengetahui bagaimana
rasanya berhadapan –tak hanya dengan penonton, tapi terlebih lagi berhadapan
dengan dirinya sendiri. Maka hasil dari praktik semacam ini bisa langsung
diperoleh hasilnya–rasa percaya diri individu meningkat, kemampuan beradaptasi
dan kerjasama dalam sebuah tim menjadi semakin baik.
Selama lima hari digelarnya festival saya melihat
para siswa sesungguhnya merayakan bakat mereka masing-masing. Mereka
sesungguhnya sedang memberikan bukti, tidak kepada orang lain, tapi kepada diri
mereka sendiri. Berbagai kendala klasik seperti yang selama ini lazim didengar;
kurangnya guru yang kompeten dalam mengajarkan kesenian, khususnya teater,
tiadanya dana untuk mendukung kegiatan, minimnya perhatian pihak sekolah,
sampai dengan miskinnya visi para birokrat kesenian tentang arti pentingnya
estetika dalam membangun peradaban—menjadi tak terlihat dan kehilangan
signifikansinya dalam perhelatan ini.
Maka catatan pertama yang harus diberikan dari acara
ini adalah—seandainya saja para birokrat yang ada di dinas-dinas pendidikan
melihat hajatan ini—untuk kemudian mereka mampu mengambil banyak manfaatnya,
bahwa untuk menyelenggarakan festival teater antarpelajar SMA yang bermutu di
Lampung mereka tak perlu belajar kemana-mana: cukup belajar dengan Teater Satu
Lampung, sebagai empunya hajatan.  
Teater Satu, dengan dana yang minim dan hampir tanpa
bantuan pemerintah telah mampu mengadakan satu-satunya festival teater pelajar
secara amat layak. Keseriusan dan kelayakan ini dapat dilihat; mulai dari
tempat penyelenggaraan yang representatif bagi pertunjukan teater, yaitu di
Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, pilihan akan para juri yang
kredibel dan punya otoritas, sampai dengan penyediaan pilihan naskah yang
hendak dilombakan serta waktu persiapan bagi para peserta lomba yang cukup.
Hal-hal di atas yang tak kita temukan, misalnya pada
acara yang diinisiasi pemerintah, dalam hal ini dinas pendidikan prov. Lampung,
pada acara yang nyaris sama, yaitu FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa
Nasional). Acara FLS2N ini diadakan tiap tahun, tapi dengan kondisi yang hampir
bertolak belakang dengan acara Festival Teater Pelajar Nasional versi Teater
Satu ini. Biasanya, lomba diadakan di hotel, di Bandar Lampung, dengan lokus
yang jauh dari ideal dan cukup syarat bagi lazimnya pertunjukan teater.  Belum lagi durasi pertunjukan lomba teater
yang amat ajaib, yaitu berkisar antara 10 sampai dengan 20 menit—hal yang
justru tak membuat para siswa mengerti secara tepat dan benar tentang apa itu
pertunjukan teater—malahan justru akan membuat gambaran negatif tentang teater
di mata para siswa SMA. Mengapa? Karena akan muncul kesan betapa mudah dan
(boleh) serampangannya menyiapkan sebentuk pertunjukan teater. Belum lagi
naskah yang dibawakan adalah naskah yang disusun oleh para peserta
masing-masing—yang pastinya akan jauh dari persyaratan atau kriteria
naskah-naskah lakon yang baik bagi pertunjukan teater.
Memang dari aspek capaian artistik masih banyak
catatan kritis yang bisa diberikan kepada para penampil. Misalnya, sebagian
besar penampil memiliki perhatian yang besar untuk menghadirkan pertunjukan bagus daripada benar. Maksud dari kata bagus
di sini bahwa sutradara tak terlebih dahulu menimbang dan menerapkan
‘kebenaran-kebenaran logika’dari pertunjukan sebagai titik pijak garapannya.
Pertimbangan awal mayoritas  sutradara dalam festival ini  adalah mendapat sambutan yang meriah dari
penonton—dengan cara meengamplifikasi spectacle
dan sekian renik atau detail, terutama pada pengkarakterisasian—yang tak punya
signifikansinya dengan proposisi utama pertunjukan.  Perhatian yang muasalnya tidak tertuju pada
usaha untuk mrepresentasikan proposisi utama teks/lakon secara teapat di
panggung, sengaja maupun tidak, telah mengorbankan aspek utama sebuah
pementasan teater, yaitu pertunjukan sebagai sebuah usaha penyingkapan terhadap realitas dan atau memberikan tawaran baru
terhadap problem-problem yang ada di realitas sehari-hari.
The
Proposal

atau Pinangan karya Anton Chekov yang paling banyak dipilih peserta, dari 6
penampil, saya belum melihat porsi yang tepat dan jelas. Tokoh utama Si Pemuda
dan Si Gadis yang menjadi Tokoh Utama kerep tergeser oleh tokoh Bapak yang
mestinya hanya sebatas pemeran pembantu. 
Prolog atau bagian awal adegan, tak hanya pada
peserta yang menampilkan lakon Pinangan tapi juga pada lakon-lakon lainnya, tak
mampu menjadi eksposisi. Prolog tak menjadi alas yang tepat dan beralasan bagi
penyingkapan latar psikologis, sosial, atau problem dari para karakter yang
ada. Prolog jadi semacam adegan yang tak jelas untuk apa ia berada di sana.  Beberapa prolog bahkan saya anggap gagal
karena tidak memiliki hubungan yang jelas dengan kisah dan penokohan.
Eksposisi pada lakon Pinangan-nya Anton Chekov yang
mestinya memberikan beberapa informasi tentang sosok tokoh si Bapak yang
hipokrit, atau keluarga yang lebih mengedepankan aspek materi, jabatan, dan
lain sebagainya tak dihadirkan dengan tepat. Maksud Chekov yang menghadirkan
komedi situasi, dalam artian peristiwa yang dialami si tokoh memang konyol,
tanpa bermaksud melucu. Namun, justru hal ini yang banyak diekploitasi, mungkin
karena dianggap lakon Chekov itu komedi, kemudian banyak penampil yang
berlomba-lomba untuk mengocok perut penonton, sehingga kesan satire dari
pertunjukan gagal diwujudkan.
Masalah lain adalah gagalnya ‘kisah’ yang secara
tersurat hadir  di naskah untuk bertransformasi
menjadi ‘peristiwa’ di panggung. Kisah, yang tersurat pada teks tadi, gagal
memunculkan sisi ‘tersiratnya’. Bagaimana menjadikan ‘kisah’ menjadi
‘peristiwa’ ini berkaitan dengan aspek penokohan dan penghayatan setiap aktor
terhadap teks, yang tadinya mati kemudian menjadi ‘hidup dan organis’ di tubuh
dan suara mereka.
Lalu muncul pula problem dalam mengarasemen aking
dan adegan sehingga menyebabkan irama aktor dan irama adegan jadi monoton serta
tikungan-tikungan atau transisi adegan tak tergerak rapih. Barangkali hal ini
disebabkan oleh niat sutradara atau aktor yang belum-belum sudah ingin
memancing gelak tawa semata. Padahal untuk membuat akting meyakinkan setiap
aktor harus mengetahui dua aspek utama yaitu aspek understanding (dimengerti/terpahami) dan aspek believeble atau dipercaya atau aspek emosional dari dialog dan
peristiwa yang dihadirkan diatas ke atas panggung. Seolah-olah setelah
mengucapkan dialog maka tugasnya selesai, padahal setiap teks mengandung
beberapa muatan, ada teks dan subtek, ada motif, ada line of action. Hal-hal semacam itu tampaknya belum dipahami aktor
dengan baik, atau gagal dijelaskan oleh sutradara yang mendirectnya.
Namun terlepas dari beberapa kelemahan di atas,
Lampung patut berbangga dengan prestasi para siswanya. Mulai dari juara pertama
sampai ketiga, semuanya mampu diraih oleh para siswa asal Lampung. Teater
Palapa (SMAN 3) Bandar Lampung jadi juara pertama, SMA Al-Kautsar Bandar
Lampung juara ke dua, dan SMAN 11 Bandar Lampung menjadi juara ketiga. Lalu
Gandhi Maulana yang menyutradarai SMAN 3 terpilih sebagai sutradara terbaik dan
dilengkapi pula oleh Rodiathul Hasanah, salah seorang siswi SMAN 3 yang
terpilih jadi aktris terbaik. Untuk aktor terbaik diraih oleh Muhammad Reza,
siswa SMAN 11, dan aktris pendukung terbaik diraih oleh Ayu Chandra Sari dari
SMAN 1 Bandar Lampung.
Sedangkan untutk beberapa kategori lainnya berhasil
diperoleh beberapa peserta dari luar Bandar Lampung; Fadhil Abdurahman, siswa
SMAN Kepahiangan Bengkulu, berhasil jadi pemeran aktor pembantu pria terbaik,
lalu SMAN 1 Sumberjaya Lampung Barat mendapat anugerah sebagai penampil dengan
penggarapan musik terbaik, dan SMK Nurul Falah Pagelaran Tanggamus mendapat
raihan sebagai grup dengan penataan artistik terbaik sekaligus grup dengan kru
panggung terbaik. Pada kesempatan ini panitia juga memberikan kategori yang
lumayan spesial, yaitu grup yang dianggap paling potensial yang diraih oleh
SMAN 1 Bandar Lampung.

sumber: Lampung Post, 16 November 2014

*
Ari Pahala Hutabarat: pengamat teater asal Kemiling
dan Penasihat Gabungan Teaterawan  Lampung (GaTEL)