Beranda Views Inspirasi Gola Gong: Dunia Ada di Genggaman Tangannya

Gola Gong: Dunia Ada di Genggaman Tangannya

BERBAGI
Gola Gong

Oyos Saroso H.N. dan Damanhuri

“Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.“

Kalimat yang dilontarkan oleh pengarang besar W. Somerset Maugham itu seolah menjadi “mantra” bagi Heri Hendrayana Harris alias Gola Gong. Kang Gola—begitu ia akrab disebut—ketika masih duduk di bangku SMA pada tahun awal 1980-an menjalankan “mantra” W. Somerset Maughum dengan banyak membaca, terutama buku-buku tentang kisah petualangan.

Sejak masih duduk di bangku SD, Gola Gong sudah membaca berbagai buku-buku berkelas, seperti Tom Sawyer, Petualangan Huckleberry, Oliver Twist, Guliver di Negeri Liliput, Moby Dick, Don Quizote, serta berbagai dongeng klasik dunia lainnya. Tak mengherankan jika ketika masih kelas enam SD, Gola sudah bisa menulis naskah drama.

Saat kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung, novel berjudul Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari karya Jules Verne begitu mencekoki pikiran Hendrayana. Buku itu membuat Hendrayana terobsesi untuk mengunjungi delapan keajaiban dunia. Antara lain Candi Borobudur Magelang, di Jawa Tengah (Indonesia), Menara Eifel, Menara Pisa, Tembok Cina, Bendungan Niagara, Piramida-Sphinx, Istana Taj Mahal.

Pada semester lima, pemuda yang kemudian terkenal dengan nama Gola Gong itu pun benar-benar meninggalkan bangku kuliahnya. Cita-citanya hanya satu: mengunjungi delapan keajaiban dunia dengan bersepeda!  Maka, delapan keajaiban dunia pun akhirnya benar-benar dikunjungi Gola Gong. Dia juga mengunjungi Pagoda di Thailand, Golden Temple di Sikh, Amritsar, (India), Gunung Himalaya, dan Sungai Nil (Mesir).

Hasil petualangan itu pun benar-benar luar biasa. Yaitu dengan lahirnya karya-karya fiksi  karya Gola Gong dalam bentuk cerita bersambung di majalah remaja yang kemudian dibukukan dalam bentuk novel. Salah satu novel berseri yang menjadi best seller dan digandrungi para remaja tahun 1990-an adalah Balada Si Roy, yang terjual hingga 100 ribu eksemplar. Bersamaan dengan kesibukannya sebagai tim kreatif di RCTI, Gola Gong tetap kreatif menulis novel dan skenario. Tak kurang dari 40 novel dan puluhan skenario sinetron dan film telah ditulisnya.

Kini, di usianya yang menginjak angka 50, Gola Gong tidak lagi berpetualang jauh ke negeri orang. Dia kini membangun rumah di kampung Ciloang, Banten, sembari tetap bekerja di Jakarta. Kini Gola Gong telah menciptakan dunia petualangan sendiri, yaitu dengan terus menciptakan karya-karya novel petualangan dan skenario. Nama Gola Gong pun muncul sebagai ikon novel remaja. Gola Gong kini menularkan kepiawaiannya menulis kepada mahasiswa dan anak jalanan di Pustaka Rumah Dunia, di kampung Ciloang, Serang, Banten. Di komunitas itu Kang Gola bukan hanya guru, tetapi juga inspirator, motivator, dan kawan yang hangat.

Setiap Minggu sore, setelah seminggu penuh bekerja sebagai tim kreatif di RCTI, Gola Gong mengajar di Kelas Menulis di Pustaka Rumah Dunia kepada para pelajar dan mahasiswa yang ingin bisa menulis berita dan feature (wartawan), menulis fiksi; cerita pendek dan novel (pengarang), serta skenario TV (script writer). Ada lima puluhan mahasiswa dan pelajar yang aktif menjadi murid Gola Gong di Pustaka Rumah Dunia. Ia didampingi istrinya yang setia yang juga pengarang dan pengajar: Tias Tantaka.

Menurut  Kang Gola tidak hanya membaca di perpustakaan, para aktivis Rumah Dunia juga dibekali keterampilan internet, membuat brosur, membuat koran, dan radio sehingga diharapkan mereka terampil berkomunikasi dengan menuangkan gagasan dalam bentuk lisan dan tulisan. Kini Rumah Dunia juga memiliki gedung pertunjukan seni yang megah.Bukan hadiah dari pemerintah, tetapi hasil keras Kang Gola, semua penghuni Rumah Dunia, dan para simpatisan.

“Rumah Dunia merupakan sebuah ‘proyek kebudayaan’. Kepada semua yang masuk Rumah Dunia, saya bertanggung jawab atas pertumbuhan karakter mereka. Rumah Dunia merupakan pusat belajar. Saya tidak mengajarkan bagaimana membuat proposal, tetapi berbagi pengalaman bagaimana mengatasi rasa takut dan  keluar dari kesulitan,”  kata pengarang yang pernah menolak penghargaan dari Komite Nasional Pembaharuan Indonesia (KNPI) Banten ini

“Saya ingin mengubah paradigma lama yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah tempat membaca. Kini paradigma itu saya ubah menjadi ‘perpustakaan adalah tempat membaca dan menulis’” tambahnya.

Kepiawaiannya menularkan keterampilan menulis lewat pengelolaan perpustakaan dan belajar itu membuat Kelompok Kompas-Gramedia tertarik mengajak Gola Gong untuk mengampanyekan pentingnya pengelolaan perpustakaan. Maka, beberapa waktu lalu, Gola Gong pun keliling ke beberapa kota di Indonesia atas undangan Gramedia untuk menjadi pembicara pada seminar “Membaca Cepat dan Seni Mengelola Perpustakaan”.

Bagi para pelajar dan mahasiswa yang menjadi murid di sekolah Pustaka Rumah Dunia, Gola Gong adalah guru sekaligus inspirator. Guru, karena Gola Gong memberikan keteladanan bagaimana menjadi seorang penulis yang baik. Inspirator, karena keterbatasan Gola Gong—yang hanya menulis dengan tangan satu karena tangan kirinya putus hingga lengan—telah menjadi motivasi bagi para murid-muridnya untuk menjadi penulis hebat.

“Saya selalu mengajarkan kepada para murid pentingnya persiapan dalam menulis. Saya katakan kepada mereka, janganlah duduk di tempat komputer dengan kepala kosong karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ketika hendak menulis, persiapkanlah dulu semuanya. Bahan-bahannya; sinopsisnya. Syukur-syukur jika sanggup secara detail; alur cerita, konflik, latar tempat, dan karakter para tokoh,” ujar mantan juara bulutangkis tangan satu untuk penyandang cacat dalam Pesta Olahraga Cacat se-Asia Pasicif (Fespic Games) tahun 1990-an ini.

Menurut Gola Gong, menulis bukan hanya sekadar menyalurkan hobi. Menulis cerita juga sebuah proses produksi. “Ketika menulis, berarti saya sedang berproduksi. Menulis cerita pendek atau novel, bagi saya tetap harus ada nilai ekonomisnya, karena itu bagian dari industri,” kata ayah tiga orang anak ini.

Meskipun memahami menulis sebagai proses produksi, Gola Gong tidak menjadikan dirinya serupa mesin. Itulah sebabnya, sebagian dari hasil jerih payahnya sebagai karyawan RCTI dan royalti beberapa bukunya dia investasikan untuk membangun Pustaka Rumah Dunia. Yaitu sebuah sanggar tempak belajar para mahasiswa, pelajar, dan pengamen jalanan untuk belajar menulis gratis. Menurut Gola Gong, Pustaka Rumah Dunia, merupakan sebentuk upaya untuk membangun keberaksaraan (melek huruf) di Banten sekaligus sebagai ‘perlawanan’ terhadap modernisasi yang begitu deras merangsek budaya tradisi.

“Banyak peninggalan bersejarah di Banten yang hancur karena digusur untuk pusat perbelanjaan modern. Sementara citra Banten sebagai daerah jawara tetap melekat. Itu harus diubah. Salah satunya adalah dengan mengajak anak-anak muda Banten untuk gigih belajar menulis. Kita tidak mungkin bisa ‘menggenggam dunia’ jika tidak bekerja keras dengan membaca dan menulis,” ujar penulis buku Menggenggam Dunia itu.

Boim Lebon, pengarang dan produser di RCTI yang pernah satu kos dengan Gola Gong, mengakui Gola Gong memiliki  semangat berkarya yang luar biasa. “Dia pernah dua hari dua malam mengetik, dengan tangan satu pula, tanpa berhenti. Suara mesin tiknya, waktu itu belum ada komputer, menjadi  musik pengantar tidur kami. Terus terang, selama kos bareng itu, semangat kerjanya telah banyak menularkan semangat ke saya dan seluruh penghuni kos lainnya yang kebetulan bekerja di media cetak,” ujar Boim.

****

 

* Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di The Jakarta Post