Beranda Views Jejak Gunung Kunyit: Ceritamu Dulu, Nasibmu Kini

Gunung Kunyit: Ceritamu Dulu, Nasibmu Kini

BERBAGI
Bukit Kunyit di pinggir Kota Bandarlampung

Isbedy Stiawan ZS| Teraslampung.Com

Bandarlampung—Gunung Kunyit, bagi warga Bandarlampung, dipastikan tahu. Gunung, lebih tepatnya bukit, ini berada di tepi pantai dan bagian dari Kelurahan Bumiwaras, Telukbetung Selatan.

Entah sebab bentuk bukit ini menyerupai kunyit atau lantaran di puncaknya terdapat tumbuhan kunyit, maka disebut Gunung Kunyit. Bahkan sudah berlangsung lama, sehingga dentik dengan  nama daerah ini.

Penumpang supir angkutan kota ataupun Bus Damri, cukup menyebut “Kunyit” otomatis akan diturunkan di tempat ini. Dan, Gunung Kunyit terlihat.

Semula gunung ini mencapai tepi pantai. Gunung berketinggian 2.151 meter (7.057 kaki) itu, menurut tulisan di Wikipedia  masuk wilayah gugusan Bukit Barisan, koordinat 2.592°LS 101.63°BT.

Gunung ini termasuk jenis gunung berapi stratovolcano fumarol. Puncak gunung memiliki dua kawah: kawah teratas merupakan danau kawah.

Sejumlah warga yang ditemui menjelaskan ihwal Gunung Kunyit diterimanya dari orang tua secara turun-temurun. Diceritakan, bahwa di puncak gunung dulunya terdapat tumbuhan kunyit. Namun, tak seorang warga dapat memastikan keberadaan tumbuhan kunyit—keluarga jahe—di puncak gunung.

Hanya yang tidak bisa dipungkiri, kawasan itu sampai kini dikenal Kunyit Laut dan Kunyit Seberang. Kunyit Laut adalah pemukiman warga yang berada di tepi pantai. Sementara Kunyit Seberang, berarti kampung di seberang jalan.

Gunung Kunyit, menurut cerita warga setempat, dulunya utuh. Letaknya sangat dekat dengan laut. Tumbuhan yang hijau membungkus tubuh bukit ini. Didekat bukit ini dipasang mercusuar bagi kapal atau perahu, agar tidak terdampar di pantai.

Seperti dikatakan Bayan Sugiman, pada tahun 1965 ia datang ke tempat itu, pemukiman warga masih sangat sepi. Gugusan Gunung Kunyit sampai ke tepi pantai.

Dia menunjuk tiang rambu daratan teluk, yang dulu berada di atas Gunung Kunyit. Karena terus terkikis, rambu sebagai penanda daratan itu pun dipindahkan. Selain itu, sisa-sisa pancang sebagai ujung bom menandakan air laut sampai ke tempat itu.

Mengenai dua kawah di puncak Gunung Kunyit, ditampik oleh warga yang ditemui. Bayan Sugiman yang dulunya kerap naik ke puncak sebagai penggali batu, mengaku tidak pernah melihat adanya kawah.

Lalu ihwal keberadaan makam, konon makam seorang kiyai asal Banten, juga ditampik oleh Bayan Sugiman. Namun, Kalpin dan Tegar memberi keyakinan bahwa di puncak Gunung Kunyit ada kuburan keramat.

Menurut Tegar, penggali batu, ada empat kuburan keramat di empat puncak gunung tersebut. Sementara Kalpin tidak menyebut jumlah.

Terlepas benar-tidaknya keberadaan makam keramat di puncak bukit, di bagian gugusan Gunung Kunyit ini memang ada tempat persembahyangan bagi etnis Cina.

Menyinggung tumbuhan kunyit, ketiganya masih meragukan. Hanya saja, warga lain yang dulunya sebagai penggali batu, menganggap kunyit cuma istilah atau simbolisasi, Kunyit berwarna kuning. Itu identik dengan emas. Artinya, gunung ini menyimpan kandungan kekayaan tak terhingga layaknya emas.

“Kalau batu-batu dari gunung ini dijual, dan hasilnya kan bisa diberlikan emas,” kata mantan penggali batu yang berhenti karena mengalami kecelakaan: jatuh dan tertimpa batu.

Cerita Gunung Kunyit masa dulu memang indah. Keberadaan bukit di pinggir pantai, tumbuhan hijau yang membungkus tubuhnya, dan angin laut yang sepoi atau kadang kalut. Semua itu membangkitkan estetik bagi keberadaan bukit ini.

Bukit Kunyit ini juga, konon, sebagai “pagar” bagi ombak yang hendak menjilat kampung di saat-saat gelombang pasang. Keindahan bukit ini kian terasa, jika dibidik dari daerah yang tinggi. Gunung berlatar belakang pantai Teluk Lampung. Benar-benar eksotis.

Cerita masa lalu dari Gunung Kunyit ini tak akan pernah terkubur oleh waktu. Betapaun akhirnya hanyalah sebuah kenangan.

Peta Gunung Kunyit (google.map)

Seperti Menggali Emas
Tetapi, waktu berubah. Manusia cenderung mencari daerah kosong untuk bertempat tinggal. Kebutuhan hidup makin besar, sementara lapangan pekerjaan justru menyempit. Ditambah lagi keterampilan tidak mencukupi, misalnya untuk menjadi “orang kantoran” atau bekerja yang tidak memerlukan otot lebih besar.

Itu terjadi sekitar 1965. Penduduk dari Jawa berdatangan, dan ikut pula “meramaikan” daerah ini. Apalagi kawasan yang memang dekat pantai, tentu terbuka lapangan pekerjaan, seperti sebagai penangkap ikan dengan menggunakan jaring, menjadi buruh angkut barang lantaran bertebaran gudang di sini.

Kehadiran warga di daerah ini, tentu saja membutuhkan lahan untuk membangun tempat tinggal. Karena tak ada pilihan, Gunung Kunyit pun dipangkas. Bebatuannya ditimbun ke pantai, dan jadilah tanah kosong.

Seperti juga terjadi dengan negara Singapura, daratan di kawasan Gunung Kunyit ini makin menjorok ke pantai. Tanah kosong hasil timbunan pantai itu, lalu dijadikan pemukiman warga. Seperti juga terjadi pemukiman di sekitaran Gudang Lelang, Telukbetung.

Sejak itu, warga setempat “menganggap” Gunung Kunyit merupakan timbunan emas. Kekayaan bukit itu dikeruk, digali, diruntuhkan. Pemerintah menyebut mereka sebagai penambang galian C. Artinya, “kerja” mereka tak harus mendapat izin dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM).

Tangan-tangan perkasa dan legam karena peluh siang menyengat, gunung itu pun terkikis. Sedepa demi sedepa, bebatuan dari bukit itu digali. Sedeikit demi sedikit, Gunung Kunyit dikuras.

Dari sekitar pinggang bukit, batu-batunya dipecahkan dan diangkut untuk dijual. Sampai di leher dan puncak bukit. Satu persatu gugusan Gunung Kunyit akhirnya rata dengan tanah. Pemukiman tegak di bekas bebukitan itu. Sampai tersisa yang ada kini.

Pemerintah kemudian menuding mereka sebagai penambangan illegal. Sementara para penggali batu, punya asalan bahwa kekayaan yang ada di sekitarnya patut dimanfaatkan. Kalau ada kekhawatiran akibat dari penggilan batu di sini, misalnya kecelakaan, mereka yang menanggung juga.

Setiap pilihan dalam hidup ini adalah resiko. Seperti juga, warga setempat mesti meneri resiko tatkalan bukit ini longsor pada 2003, dan menghancurkan banyak rumah warga Skip Rahayu.

Saat itu, Walikota Bandarlampung adalah Drs. H. Suharto. Orang nomor satu di Bandarampung mendatangi warga di sini, dan memberi bantuan bagi keluarga yang rumahnya tertimpa longsoran batu.

Apakah warga jera? Tentu saja tidak, pasalnya tanggung jawab pada kebutuhan keluarga jauh lenih besar dari ketakutan-ketakutan yang timbul sebagai resiko dari sebuah pekerjaan. Begitulah. Bahkan, seorang penggali batu yang pernah jatuh dari atas gunung dan tertimbun batu pula hingga cacat sumur hidup, tetap menjalani pekerjaannya. Tak ada kamus traumatik dalam dirinya.

Kini bekas-bekas pegunungan ini masih tampak di antara pemukiman warga. Ada yang sengaja dibiarkan, sebab sudah sulit diratakan. Padahal keberadaannya persis di sebelah atau belakang rumah. Bahkan, sisa gunung masih ada di sebelah eks-kantor pengelola penambang batu Gunung Kunyit.

Artinya, warga sekitar tetap diuntungkan dengan penggalian batu gunung tersebut. Wilayah kampung menjadi besar, rumah-rumah pun bertambah.

Riwayat Gunung Kunyit di Kelurahan Bumiwaras, Kecamatan Telukbetung Selatan, merupakan cerita panjang dari sebuah penggerusan gunung.

Tubuh-tubuh berminyak
Siang memanggang. Gunung Kunyit tetap tak sepi. Beberapa truk dan pekerja galin C masih beraktivitas. Sekujur tubuh mereka berkeringat, layaknya disiram minyak, berikilat-kilat.

Ya. Para penambang masih mengayunkan tangannya di tubuh bebatuan. Angin laut tak akan sampai untuk menyejukkan badan mereka di atas bukit. Sebagian lain memecahkan batu, sebelum diangkutnya ke atas truk. Sementara supir truk, ada yang istirahat sambil menyeruput kopi dan sebungkus rokok, atau duduk-duduk di sekitar kendaraannya.

Menjelang salat Jumat, beberapa pemecah batu menuruni lereng Gunung Kunyit. Ada yang melalui seutas tali, ada pula yang langsung turun dengan cara meniti dari satu batu ke lain batu. Tampak cekatan dan piawai. Mereka harus istirahat, setidaknya untuk makan siang dan salat Jumat.

Dia area penggalian batu seperti di Gunung Kunyit ini, kecelakaan dari yang ringan hingga merenggut nyawa sudah pernah terjadi. Dan, mereka mengaku, kecelakaan adalah lumrah terjadi bagi siapapun. Apalagi di daerah yang rentan bahaya seperti ini.

Tetapi, mau bagaimana lagi? Bebukitan adalah kekayaan alam yang diberikan Tuhan, dan warga di sekitar kekayaan alam itu merasa punya hak untuk menikmatinya. Apalagi, tuntutan hidup atau kebutuhan keluarga.

Meskipun upah penggali dan pemecah batu lebih besar dibanding “juragan” (maksudnya, pemilik) gunung, namun resikonya tak sebanding dengan hasil yang diterima. Tetapi, juragan gunung tetap banyak mengantongin untung. Sebab, begitu kawasan gunung itu sudah benar-benar rata, lahan kosong itu bisa djual dengan harga tinggi.

Kalpin menyebut, hasil dari setiap trip (satu truk mobil) batu dihargai Rp200.000. Dari uang itu, Rp25.000 untuk pemilik gunung, sementara Rp70.000 bagi pemecah batu sebelum diangkut ke truk mobil. Sisanya adalah milik penggali batu.

Apabila penggali batu berjumlah tiga orang, maka perorang mendapatkan bagian Rp35.000. Sekiranya sehari bisa empat truk mobil, berarti perorang akan membawa pulang Rp140.000.

Sementara pemecah batu lain, mengaku, sehari dia bisa mengumpulkan batu hingga 14 truk mobil. Apalagi saat musim hujan, sebab mudah menggalinya.

Maka seperti pepatah, bahwa kunyit menyerupai warna emas. Maka di Gunung Kunyit tersimpan kekayaan, layaknya bongkahan emas. Warga pun menggali dan menggali “timbunan emas” dari gunung itu. Gunung Kunyit pun semakin pipih.

Barangkali aktivitas itu akan berhenti, setelah Gunung Kunyit benar-benar rata dengan tanah. Saat itu, masyarakat mencari-cari “di mana Gunung Kunyit?”

Padahal, riwayat Gunung Kunyit masa dulu begitu tegar, perkasa, menantang deburan ombak sekaligus menjadi pagar bagitu gelombang datang agar tidak menyerbu perkampungan. Tetapi, nasibnya kini tak ubahnya tubuh yang renta dan pipih, yang tak lama akan hilang.

Dan, boleh jadi anak-anak pun kelak tidak akan tahu, apa dan di mana Gunung Kunyit berada…*