Beranda Hukum Kriminal Kakak-Adik Pembobol Ruko Dilumpuhkan Polisi dengan Tembakan Timah Panas

Kakak-Adik Pembobol Ruko Dilumpuhkan Polisi dengan Tembakan Timah Panas

BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Tersangka Robi, tersangka pembobol ruko,  dibimbing petugas Polresta Bandarlampung setelah kakinya ditembak. 

BANDARLAMPUNG – Romi (20) dan Robi (19), kakak beradik pembobol rumah toko (ruko) dan gudang dihadiahi timah panas polisi saat ditangkap Tim-Anti Bandit Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandarlampung di wilayah Telukbetung Selatan, pada Selasa (28/7) sekitar pukul 11.30 WIB. Polisi terpaksa menembak kaki kedua tersangka, karena pada saat akan ditangkap keduanya melakukan perlawanan.

Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung, Komisaris Dery Agung Wijaya mengatakan,  Romi dan Robi ditangkap setelah pihaknya mendapatkan banyaknya laporan kasus pencurian. Berdasarkan  laporan tersebut pihaknya langsung melakukan penyelidikan, dan berhasil menangkap kedua tersangka di dua lokasi berbeda yakni didaerah Sukaraja dan Kemiling.

“Tersangka Romi dan Robi ini adalah kakak beradik. Keduanya merupakan spesialis pembobol gudang dan ruko. Kedua tersangka terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas, karena melakukan perlawanan aktif saat akan ditangkap,”kata Dery kepada wartawan, Selasa (28/7).

Menurut Dery, saat beraksi kedua tersangka melakukan pencurian bersama salah seorang pelaku lain berinisial Gst yang saat ini masih belum tertangkap. Terkahir para tersangka membobol sebuah toko elektronik diwilayah Sukaraja, Selasa dinihari (14/7/2015) lalu.

Dari dalam toko tersebut, kata  mantan Kasat Reskrim Polres lampung Tengah ini, ketiga pelaku mengambil lima rol kabel tembaga dan barang-barang berharga lainnya. Barang hasil curian, sudah dijual tersangka kepada penadahnya sebesar Rp 4 juta dan uangnya sudah habis digunakan oleh tersangka.

“Para tersangka masuk dengan cara merusak atap plafon menggunakan senjata tajam, dari dalam toko ketiganya mengambil lima rol kabel tembaga dan barang-barang lainnya. Ketiganya lalu mengeluarkan barang hasil curian melalui atap yang sudah dijebol, dan membawanya menggunakan mobil untuk dijual kepada penadahnya,”terangnya.

Tersangka Romi dimasukkan ke dalam mobil oleh petugas Polresta Bandarlampung, Rabu (28/7/2015).

Menurut Dery, sasaran pencurian para tersangka, tidak hanya gudang dan ruko saja melainkan rumah yang sedang ditinggal pergi pemiliknya. Sebelum beraksi, mereka memepelajari terlebih dulu situasi di sekitar target pencurian. Mereka memiliki peran masing-masing, ada yang mengawasi keadaan sekitar, perusak atap dan gembok lalu mengambil barang curian dan ada yang menjual barang hasil curian.

“Kasus ini masik kita kembangkan untuk mengungkap adanya TKP lainnya dan mengejar komplotan tersangka lain. Berdasarkan catatan kepolisian, ada sekitar 20 TKP kasus pencurian dengan modus yang sama. Dugaan kami, pelaku pencurian dilakukan kedua tersangka Romi dan Robi dan
satu pelaku berinisial Gst yang saat ini masih buron (DPO),”tandasnya.

Romi mengaku ia melakukan pencurian bersama adiknya,Robi, dan satu orang rekannya berinisial Gst. Ia melakukan pencurian, karena diajak oleh Robi adiknya yang juga ikut tertangkap sama petugas.

Dari hasil penjulan barang curian, ia mendapatkan bagian uang sebesar Rp1,3 juta. Semua uangnya sudah habis digunakan untuk beli baju dan keperluan Lebaran.

“Saya ikut mencuri diajak sama Robi adik saya, pada saat itu saya memang lagi butuh uang untuk beli baju lebaran buat anak dan istri. Karena tidak punya uang, makanya saya mau tawaran dari Robi untuk mencuri. Yang merencanakan pencurian adik saya Robi, kalau saya tinggal ikut saja,”ungkap bapak satu anak ini sambil mengerang kesakitan karena luka tembak.

Sementara Robi mengaku dirinyalah  yang mengajak kakaknya dan temannya Gst untuk mencuri dengan membobol sebuah gudang dan toko elektrfonik. Ia mengaku baru dua kali melakukan pencurian, aksi pencurian itu ia rencanakan bersama temannya Gst. Pertama ia mencuri di sebuah gudang ekpedisi, kemudian yang kedua di salah satu toko elektronik di daerah Telukbetung.

“Barang dari hasil curian yang menjual Gst, saya dapat bagian uang sebesar Rp 900 ribu dan sisanya dibagi sama Gst. Uangnya sudah habis saya pakai untuk modal pacaran,”ungkap Robi yang bekerja sebagai kenek mobil truk fuso.