Beranda News Lampung Kapolda Lampung Pengganti Brigjen Ike Edwin: Terkenal Tegas, Brigjen Sudjarno Jadi Mimpi...

Kapolda Lampung Pengganti Brigjen Ike Edwin: Terkenal Tegas, Brigjen Sudjarno Jadi Mimpi Buruk bagi Begal

BERBAGI
Brigjen Sudjarno (Foto: dok merdeka.com)

Zainal Asikin| Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Mabes Polri melakukan mutasi sejumlah petinggi Polri. Semua Polda yang naik status dari Tipe B menjadi Tipe A, Kapoldanya diganti, termasuk Kapolda Lampung.

Penggantian Kapolda Lampung berdasarkan atas Surat Telegram Rahasia (STR) Kapolri No. ST/2324/X/2016 tertanggal 5 Oktober 2016. Dalam STR yang ditandatangani Wakapolri Komjen Pol Syafruddin itu  Brigjen Pol Ike Edwin digantikan Brigjen Pol Sudjarno. Brigjen Pol Ike Edwin kemudian dimutasi ke Mabes Polri untuk menjabat sebagai Kepala Sespimma Lemdikpol Polri. Dengan jabatan baru tersebut, Ike berpeluang untuk mendapat karier yang lebih tinggi.

Berbeda dengan Brigjen Ike Edwin yang sudah dikenal publik Lampung karena ia memang putra daerah Lampung, sejauh ini publik di Lampung banyak yang belum mengenal Brigjen Pol Sudjarno. Meski begitu, rekam jejak Brigjen Sudjarno  mudah ditelusuri.

Berdasarkan penuturan sumber Teraslampung di Mabes Polri, Brigjen Sudjarno memiliki prestasi  cukup moncer saat menjabat Wakapolda Metro Jaya. Pria yang sebelum dimutasi ke Lampung  menjabat Karo Binopsnal Baharkam Polri ini lahir pada Juli 1961. Ia alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1984 atau satu angkatan di atas Brigjen Ike Edwin.

Brigjen Pol Sudjarno pernah menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya (2012-2014). Sebelumnya ia menjabat sebagai Kepala Biro Provos Divisi Propam Mabes Polri (2011).

Brigjen Sudjarno dikenal sebagai polisi yang dikenal tegas tidak pernah memberi ampun para pelaku kejahatan seperti bandit apalagi begal. Ia juga sangat intens dan trengginas dalam pemberantasan narkoba.

Hal tersebut terbukti saat pria lulusan Akpol 1984 ini menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya. Selama Brigjen Sudjarno menjabat Wakapolda Metro Jaya, sosoknya menjadi “mimpi buruk” bagi para pelaku kejahatan di Ibu Kota Jakarta.

Kepada personel Polri khususnya anggota reserse, Sudjarno menegaskan agar tidak ragu untuk menindak tegas para pelaku kejahatan.

Suatu waktu Brigjen Sudjarno pernah menantang Kapolsek Penjaringan, Jakarta Utara, untuk memberantas para bandit yang meresahkan warga. Ia pun memberikan sejumlah peluru kepada Kapolsek Penjaringan untuk digunakan memberantas bandit.

“Saya bilang dan nggak mau tahu, minggu ini harus ada (bandit) yang mati,” kata Sudjarno.

Ternyata hal itu dibuktikan Kapolsek Penjaringan dengan menembak mati bandit kelas kakap yang sudah lama menjadi target operasi (TO) kepolisian. Bandit itu ditembak mati karena melakukan perlawanan saat akan dtangkap.

Kepada anak buahnya Sudjarno meminta tidak terpengaruh dengan isu pelanggaran HAM jika melakukan tindakan tegas. Dia meminta seluruh personel serse tidak takut melakukan tindaskan tegas.

“Setiap mau rilis curas, saya lihat dulu tersangkanya, kok kakinya mulus-mulus saja (tidak ada bekas luka tembak karena dilumpuhkan polisi). Jadi, jajaran serse ya, tidak ada orang yang tidak senang, kalau kita beri tindakan tegas,” kata Sujarno dalam pidatonya di depan 1.435 personel reserse dalam acara Revitalisasi Kring Serse Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (14/10).

Ketika menjabat Wakapolda Metro Jaya mendampingi Kapolda Mayjen Unggung Cahyono, kalangan jurnalis di Jakarta menjuluki keduanya sebagai ‘duet maut’. Itu karena baik Mayjen Unggung Cahyono maupun Brigjen Sudjarno terkenal tegas terhadap penjahat dan biang rusuh. Mereka berdua pernah bertindak tegas ketika massa Front Pembela Islam (FPI) dinilai membuat ricuh di depan Kantor Gubernur DKI Jakarta.

Saa itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono langsung memberi komando ribuan anggotanya untuk mengepung markas besar FPI di Petamburan, Jakarta Pusat. Unggung bersama Sudjarno dan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Hendro Pandowo masuk ke  rumah Ketua FPI Habib Rizieq untuk mencari dalang kerusuhan demo ricuh itu. Polisi kemudian  menetapkan 21 tersangka dalam kerusuhan itu. Koordinator aksi Habib Novel menyerahkan diri beberapa hari kemudian.

 

 

Rekam jejak sebagai petinggi Kepolisian yang tegas itulah kemungkinan besar yang menjadi pertimbangan Mabes Polri untuk memberikan kepercayaan kepada Brigjen Sudjarno menjabat Kapolda Lampung. Tidak ada sejarah keterikatan emosional dan kekerabatan dengan warga Lampung diharapkan kehadiran Brigjen Sudjarno Lampung bisa menjawab keresahan masyarakat terkait maraknya aksi kriminal.

Jika selama menjabat Kapolda Lampung nantinya Brigjen Sudjarno dengan sepak terjang seperti saat menjabat Wakapolda Metro Jaya, niscaya kehadiran Brigjen Sudjarno di Lampung akan benar-benar menjadi mimpi buruk bagi pelaku begal, jambret, dan para pelaku kejahatan lainnya.

Karier Brigjen Ike Edwin Berpeluang Bersinar

Brigjen Pol Ike Edwin yang posisinya digantikan oleh Brigjen Sudjarno akan segera menempati posisi baru sebagai Kepala Sespimma Lemdikpol Polri. Dengan jabatan barunya tersebut, Ike berpeluang meraih karirer yang lebih tinggi lagi.

Sespimma atau Sekolah Staf dan Pimpinan Pertama, dimana Ike akan bertugas selanjutnya merupakan sekolah lanjutan bagi anggota Polri aktif berpangkat minimal AKP (Ajun Komisaris Polisi) untuk meningkatkan karier anggota kepolisian ke jenjang berikutnya.

Ike Edwin bertugas di Lampung yang merupakan sebagai tanah kelarihan dan juga kampung halamannya selama 10 bulan (Januari-Oktober 2016). Sebelumnya, Ike Edwin alumnus Akpol 1985 menjabat sebagai Wakapolda Sulawesi Selatan. Ike dilantik menjadi Kapolda Lampung oleh Jenderal Pol Badroedin menggantikan Brigjen Pol Edward Syah Pernong.

Selama 10 bulan bertugas di Lampung, memang tidak dipungkiri Ike membuat banayk terobosan dan menciptakan polri untuk lebih baik dan dekat dengan masyarakat.

Salah satu programnya pendekatan terhadap masyarakat Anjau Silau, lalu program Kapolda berkantor di luar yang menerima keluhan masyarakat langsung terkait penegakkan hukum yang dilakukan polisi.

Dengan berkantor di luar kantor resmi (Mapolda Lampung), selain lebih dekat dengan masyarakat ia juga memberikan solusi dengan menghubungkan ke pihak terkait. Ike juga menjadikan polisi semakin bermanfaat dengan menurunkan mereka ke lapangan pada pagi hari untuk mengatur lalu lintas.

Selain sebagai perwira tinggi polri, dalam adat Lampung pesisisr Ike juga merupakan bangsawan tinggi bergelar Dang Gusti yang menjabat sebagai Perdana Menteri Kepaksian Pernong Kerajaan Adat Paksi Pak Skala Brak.