Beranda Hukum Kasus PT BNIL Vs Petani Pemilik Lahan, Seknas Jokowi Kritik Penangkapan Aktivis...

Kasus PT BNIL Vs Petani Pemilik Lahan, Seknas Jokowi Kritik Penangkapan Aktivis Agraria Sugiyanto

BERBAGI
Warga Desa Bujuk Agung mendiriikan tenda di lahan yang sejak 25 tahun lalu dikuasai PT BNIL. Pendamping mereka justru dikriminalisasi. (Teraslampung.com/Mas Gie)

TERASLAMPUNG.COM — Penangkapan pendeta dan aktivis agraria Sugiyantoi oleh Polres Tulangbawang, 11 Oktober 2016, sekira pukul 22.00 WIB, menuai kritik dari Seknas Jokowi. Tokoh yang banyak mendampingi petani mendapatkan hak-haknya dan meningkatkan taraf hidupnya lewat pertanian alternatif itu ditangkap 15 anggota polisi berasal dari Polres Tulangbawang di kantor KPRI di Mampang prapatan IV, Jakarta Selatan.

Menurut Ketua Umum Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, Pendeta Sugiyanto ditangkap terkait aktivisnya sebagai pendamping petani di Bujukagung,  Tulangbawang yang sedang bersengketa tanah dengan PT. BNIL.

Sengketa tanah antara rakyat dengan PT. BNIL ini sudah berlangsung sejak tahun 1993. Sejak sengketa tanah antara rakyat dengan PT.BNIL mencuat sudah 9 orang meregang nyawa.

Penangkapan aktifis agraria pendeta Sugiyanto buntut dari bentrok antara rakyat dengan Pamswakarsa PT. BINL pada tanggal 2 Oktober 2016 lalu

“Penangkapan itu sangat jelas semakin menjauhkan proses penyelesaian konflik agraria yang sudsh dicanangkan Presiden Jokowi melalui kebijakan reforma agraria. Proses penangkapan itu sendiri sangat berlebihan. Masak untuk nangkap satu orang aktifis saja polisi perlu 15 orang,” ujar Yamin, Kamis (13/10/2016).

Sementara itu Ketua Bidang Hukum Seknas Jokowi mengingatkan kepada pihak kepolisian bahwa PT BNIL menguasai lahan itu tidak memiliki izin HGU. HGU PT BINL di atas tanah tersebut telah habis dan belum diperpanjang.

“Jadi pihak Polres Tulang Bawang menangkap rakyat dan aktifis agraria saudara Sugiyanto itu seakan-akan membenarkan pendudukan perusahaan yang tidak memiliki HGU atas tanah rakyat”, tegas Dedy Mawardi yang pada tahun 1993 menjadi pembela rakyat di Tulangbawang itu.