Beranda Views Inspirasi Kisah di Balik Lagu ‘Children With No Land’, Karya Musisi Lampung yang...

Kisah di Balik Lagu ‘Children With No Land’, Karya Musisi Lampung yang Mendunia

BERBAGI
Kim Commanders

Zainal Asikin I Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Lagu yang menceritakan tentang kisah derita anak-anak tak berdosa, korban dari suatu negara berkonflik (perang) dan menjadi pengungsi dengan judul ‘Children With No Land’ ini, merupakan karya seorang musisi Lampung, Lukman Hakim atau disapa Kim Commanders.

Sehari-hari pria kelahiran 1973 berdarah Lampung dan Padang ini penuh kesederhanaan. Kim bukanlah anak pengusaha kaya. Juga tidak menuruni darah musisi terkenal atau top di kancah belantika musik Tanah Air. Ia lahir dari keluarga biasa dan sederhana, tetapi lagu hasil karyanya kini mampu mengguncang dunia.

Lagu ‘Children With No Land’ yang diciptakan Kim Commanders tersebut, tidak bisa dimungkiri memiliki arti dan makna begitu dalam untuk anak-anak dan perdamaian dunia. Lagu tersebut, mungkin memang masih terdengar asing d itelinga kalangan masyarakat di Indonesia yang belum mengetahuinya. Padahal, lagu tersebut pernah merajai tangga lagu dunia ‘Reverbnation’ dalam kategori ‘balada’ meski hanya selama dua bulan saja pada tahun 2016 ini.

Berbagai komentar dan apresiasi, banyak berdatangan melalui media sosial justru dari masyarakat dari berbagai negara luar. Kim pencipta lagu tersebut mengaku, terciptanya lagu yang pernah merajai tangga lagu dunia itu, dibuatnya karena terinspirasi setelah dirinya menyaksikan dan mendengar langsung penderitaan seorang ibu dan anak-anak pengungsi etnis Rohingnya asal Myanmar yang terdampar hingga sampai di Teluk Lampung.

Saat teraslampung.com berkunjung ke rumah Kim Commanders yang hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari Pasar Kangkung di Jalan Ikan Pari Blok D Nomor 58, Kampung Kebon Pisang, Kelurahan Telukbetung, Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandarlampung, Kim menyambut dengan ramah.

Di rumah tua dan sederhana milik orangtuanya itulah Kim lahir dan besar. Di situ pula saat ini Kim tinggal bersama istri dan kedua putrinya serta Ayah dan Ibunya.

Sambil menikmati secangkir kopi dan rokok kretek, Kim pun menceritakan kisah sebuah lagu ‘Children With No Land’ yang ia ciptakan. Ia mengaku mengaransmen sendiri musiknya dan dinyanyikan sendiri olehnya. Ia juga mengaku benar-benar tidak memercayai kalau lagu yang ia buat ternyata mendapat tanggapan positif dari berbagai negara luar dan menjadi lagu rating satu dunia.

Menurutnya, lagu tersebut dibuat berawal dari kisah saat ia bersama keempat orang temannya pergi ke daerah Teluk Lampung pada tahun 2013 lalu. Tanpa disengaja, di tempat itu ia bertemu rombongan orang yang tidak tahu dari mana asalnya. Kim pun mencoba mendekati orang-orang tersebut untuk melihat dan menemuinya. Ia pun kemudian bertemu seorang ibu etnis Rohingya dari Myanmar.

“Ibu yang saya temui tersebut, saya lihat dia menggendong kedua anaknya. Yang satu digendong di punggungnya, dan satunya lagi di pingganggangnya. Saya melihat mereka sangat menderita, kehausan, dan kelaparan. Lalu saya berikan air minum dan makanan ringan seperti roti yang saya bawa saat itu kepada mereka,”ujarnya.

Kim Commanders
Kim Commanders

Menurut Kim pengungsi  Rohingya yang jumlahan sekitar puluhan orang tersebut ditemukan dan diselamatkan oleh nelayan Lampung yang tidak mengerti bahasa mereka. Saat ditemukan, kapal yang mereka tumpangi kondisinya sudah pecah akibat dihantam ombak laut lepas hingga mereka terombang-ambing di tengah lautan. Para nelayan Lampung kemudian menarik kapal yang mereka tumpangi hingga sampai ke daratan.

“Jujur saya menaruh rasa kagum dan simpatik kepada para nelayan yang sudah menyelamatkan para pengungsi Rohingnya. Para nelayan ini menolong mereka dengan ikhlas, tidak melihat siapa mereka dan dari mana asal mereka. Bahkan, nelayan itu sempat memberikan nasi bungkus,  karena saat itu para pengungsi tersebut betul-betul kelaparan,”ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Karena rasa penasarannya, Kim mendekati ibu tersebut, dan mencoba untuk menayakannya langsung apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Saya tanya sama Ibu ini pakai bahasa Indonesia. Ibu itu tidak mengerti bahasa saya. Lalu saya tanya lagi dengan bahasa Inggris. Ternyata ibu itu juga  tidak mengerti,”ujarnya.

Di tempat tersebut, kebetulan ada seorang penerjemah, sepertinya petugas dari Kantor Imigrasi yang mengerti bahasa mereka. Kim pun kemudian meminta orang tersebut untuk mencoba menanyakan darimana asal mereka dan kenapa bisa sampai di Teluk Lampung.

Setelah ditanya, Ibu ini menjawab bahwa dirinya dan pengungsi lain tersebut berasal dari Myanmar. Bisa sampai di Teluk Lampung setelah kapalnya berhari-hari terombang-ambing di laut. Ibu itu mengaku tidak mengetahui kalau dirinya berada Indonesia. Yang ia ketahui adalah, yang penting sudah ada di daratan.

Dengan rasa penuh penasaran, Kim pun mencoba menggali kisah Ibu ini lebih dalam lagi dengan meminta bantuan dari seorang penerjemah yang mengerti bahasa mereka. Kemudian sang ibu ini menceritakan kepada dirinya selama perjalanannya hingga sampai di Teluk Lampung.

Ibu itu pun berkisah bahwa dirinya harus melalui perjalanan yang cukup berat agar bisa keluar dari negaranya yang tengah berkonflik. Ia pergi membawa tiga orang anaknya, tidak membawa bekal apa-apa, hanya membawa pakaian yang ia kenakan saja.

Dia bersama para bersama warga Rohingya lainnya pergi dengan menumpangi kapal ala kadarnya. Pada saat perjalanan empat hari keluar dari negaranya, minyak di kapal yang ia tumpangi itu habis total. Akhirnya mereka mengikuti angin yang menggerakkan kapal mereka tumpangi. Dengan menempuh perjalanan sampai berhari-hari berada di tengah lautan lepas, mereka tidak mengetahui arah tujuan kapal itu akan pergi kemana dan sampai di mana.

BACA: Lagu ‘Children With No Land’ Ditulis Kim Commanders dengan Tetesan Air Mata

Selama di perjalanan di tengah lautan, satu demi satu penumpang yang ada di kapal meninggal dunia, baik itu orang tua maupun anak-anak yang tak berdosa. Mereka meninggal karena kehausan dan kelaparan serta tak kuat menahan dinginnya angin laut.

“Saya tidak memikirkan apa-apa, saya hanya ingin pergi dari negara saya untuk mencari aman dan hidup tentram dan damai itu saja,” kata Kim, menirupan ucapan perempuan pengungsi asal Rohingya, sembari meneteskan air mata.

Dengan mengusap air matanya dan sesekali mengisap rokok ditangannya, Kim kembali menceritakan, saat itu ia merasa tersentuh hatinya saat melihat kedua anak kecil yang tak berdosa digendong dengan ibunya tersebut.

Di raut wajahnya yang polos tak berdosa dan tampak pucat pasi tak berdaya, saat Kim memberikan makanan roti dan sebotol air mineral dengan rasa kehausannya, mereka langsung menenggak minum itu dan memakan roti.

“Saya sedih pada saat itu, melihat anak-anak yang tak berdosa berusaha bertahan hidup di negaranya di tengah terjadi konflik dan mengikuti orangtuanya untuk mencari penghidupan lain. Mereka sangat berharap, masih ada tanah lain yang bisa dipijak di bumi ini,”ungkapnya.

Kim mengaku ia sangat  sedih ketika mereka hanya ditampung sementara saja oleh pemerintah Indonesia. Setelah itu mereka dipulangkan lagi ke negaranya. Padahal, mereka sangat berharap sekali adanya kehidupan yang lebih baik di luar negaranya yang sedang terjadi konflik.

“Jadi, apa bentuk kepedulian negara ini? Sudah jelas kalau bumi ini milik kita semua, tanpa harus membeda-bedakan. Semua manusia kan berhak tinggal dimana pun, hanya karena dibatasi oleh birokrasi saja. Saya bertanya-tanya sendiri dan berpikir, seolah anak-anak yang tak berdosa ini apakah sudah tak memiliki tempat lagi di bumi yang dipijak ini,” ujarnya.

Kim menyesalkan birokrasi mempetak-petakkan semua manusia.

“Mereka juga kan sama dengan kita. Dunia ini milik mereka juga. Jadi lupakanlah birokrasi, coba kedepankan rasa kemanusiaan karena kita hidup ini semua sama,” katanya.

Kim kembali menceritakan, ia menanyakan kepada ibu tersebut, ke mana suaminya? Ibu itu pun mengaku  suaminya meninggal bersama anak laki-laki pertamanya di negaranya, sebelum ia pergi membawa tiga orang anaknya bersama para pengungsi lainnya. Sadisnya lagi, suami dan anak laki-laki pertamanya meninggal karena dibantai tepat di depan mata kepalanya sendiri.

BACA: Ada Peran Kombes Krishna Murti Hingga ‘Childern With No Land’ Mendunia

Karena pengakuan Ibu bahwa anaknya yang dibawa ada tiga, sementara yang dilihatnya hanya ada dua anak, Kim pun bertanya kepada  Ibu malang tadi, ke mana anak yang satunya lagi?

“Sambil tersendat Ibu tersebut mengaku bahwa anaknya yang paling kecil meninggal dunia saat berada di kapal setelah menempuh perjalanan tiga hari dari negaranya. Ibu tersebut mengatakan, akan menguburkan anak setelah sampai di daratan. Ternyata setelah beberapa hari di lautan dan tidak ketemu juga daratan, sang ibu ini menghanyutkan anaknya yang sudah meninggal di tengah lautan. Yang membuat air mata saya semakin tumpah saat itu, melihat Ibu ini menangis dan berkata tidak apa-apa anaknya jadi makanan ikan. Tidak berjasad pun anaknya masih bermanfaat untuk makhluk ciptaan Tuhan lainnya,”ucapnya.

Gelisah dan Lagu pun Tercipta

Setelah pertemuan tersebut, Kim Commanders selalu merasakan kegelisahan, baik siang ataupun malam dan nuraninya tidak merasakan tenteram. Kim yang hanya seorang musisi biasa asal Lampung ini, memikirkan cara agar bisa membantu dunia dengan misi perdamaian. Selang beberapa hari kemudian, ia menonton televisi ada pengungsi dari negara Suriah yang tidak diterima di negara orang lain.

“Saat lihat itu hati nurani saya semakin kuat untuk membantu mereka, tapi apa yang harus saya bantu dan perbuat untuk mereka. Bantu uang nggak mungkin, pakain apalagi lalu saya berpikir oh ya dunia mengenal sesuatu salah satunya dari musik. Kebetulan saya bisa main gitar dan berbahasa inggris, lalu saya buat lagu berdasarkan kisah mereka. Akhirnya, terciptalah lagu ‘Chrildren With No Land’,”jelasnya.

Melalui lagu ‘Chrildren With No Land’ ini, Kim berharap, agar semua manusia di dunia ini agar dapat menanamkan nilai-nilai rasa kemanusiaannya terhadap semua, agar tidak ada lagi korban konflik perang pada masa mendatang. Terlebih lagi terhadap anak-anak yang ada di belahan dunia.

“Merekalah yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa dan menjunjung tinggi perdamaian dunia,” kata Kim.
.