BERBAGI
Foto dua anak (kakak-beradik) korban perang di Suriah yang menjadi inspirasi terciptanya lagu Kim Commanders. (Foto: gofunme.com)

Zainal Asikin |Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Musisi Lampung Lukman Hakim atau disapa Kim Commanders kembali merilis lagu keduanya dengan judul  “One World For Children” (Satu Dunia Untuk Semua Anak). Sama seperti lagu Childern With No Land”, lagu terbaru Kim proses penciptannya juga hanya dalam hitungan hari pada bulan Agustus 2016.

Menurut Kim, lagu  “One World For Children” berawal dari sebuah foto seorang anak kecil laki-laki berusia 2 tahun berada di pangkuan kakak perempuannya berusia 8 tahun tengah berada di konflik (perang) di Suriah. Kedua bocah malang tak  berdosa tersebut, sedang memikirkan nasib kelanjutan hidupnya setelah melihat ayah dan ibunya meninggal dunia akibat perang. Mereka  harus pergi menyelamatkan diri an mendapatkan kedamaian.

“Foto kedua anak kecil tak berdosa itu saya dapatkan dari teman-teman di luar negeri melalui akun Facebook saya. Mereka kirimkan foto itu, karena banyak simpatik dengan lagu-lagu yang saya buat. Kedua anak itu sudah pasti korban konflik da nbakal jadi pengungsi. Dari foto itulah saya terinspirasi menulis lagu kedua dan terciptalah laguitu berjudul ‘One World For Children’,”kata Kim kepada teraslampung.com saat ditemui di Studio ‘Evan Recording’ (belakang kaos Welau) di Jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, Minggu (2/10/2016).

Kim mengaku, sebelumlagu ‘One World ForChildren’ tercipta, malam itu dirinya membiarkan nalurinya mengikuti keinginan hati kecilnya dan membayangkan anak kecil perempuan (kakak) dan laki-laki (adik). Menurutnya, saat itu sang kakaks edang bermain di depan halaman rumahnya bersama anak-anak sebanyanya. Tiba-tiba ada pesawat perang melintas tepat di atas kepalanya dan menjatuhkan bom di dekat tempat mereka bermain.

“Seketika itu juga mereka langsung bubar dan berlarian pulang ke rumahnya. Saat anak perempuan itu pulang ke rumah, di lihatnya rumahnya sudah hancur karena dibom.Yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan. Lalu anak perempuan ini melihat jasad ayah dan ibunya terkapar di tanah dan berlumuran darah di reruntuhan bangunan rumahnya,”ungkapnya.

Bocah kecil perempuan tak berdosa ini, mencoba mendekati jasad ayah dan ibunya lalu menggerak-gerakkan badan kedua orangtuanya yang sudah meninggal dunia. Lalu anak ini menangis didepan jasad kedua orangtuanya, ketika menangis didengar olehnya suara lirih tangisan anak kecil berada di reruntuhan puing rumahnya.

“Suara tangisan itu ternyata suara adiknya berusia dua tahun, meski berada dibawah reruntuhan bangunan rumahnya akibat terkena ledakan bom adiknya selamat dari maut tersebut. Dengan tangannya yang kecil, dia mencoba mengangkat puing-puing reruntuhan bangunan rumahnya untuk mengambil adiknya dari reruntuhan tersebut. Adik kecilnya diangkat, lalu didekatnya dengan kakaknya dimayat kedua orangtuanya,”

Di hadapan jasad kedua orangtuanya, kata Kim, anak perempuan itu sembari meneteskan air mata berbicara dihadapan jasad ayah dan ibunya? Mama dan Papa, ini bukan saat yang tepat untuk meninggalkan kami berdua. Kalau memang kami harus ditinggalkan, aku siap menjaga adik kecilku kemana aku pergi dan akan kuberikan kehangatan untuknya saat merasakan kedinginan. Aku berjanji, siap sebagai kakak dan juga sebagai orangtua untuknya,”ujar Kim dengan suara bergetar merasakan keharuan dan kesedihan.

Kim Commanders (Foto: Treaslampung.com/Zainal Asikin)
Kim Commanders (Foto: Treaslampung.com/Zainal Asikin)

Selanjutnya, bocah perempuan sang kakak tadi, berlari pergi keluar dari negaranya sambil menggendong adiknya mengikuti arus para pengungsi lainnya untuk menaiki perahu yang kecil. Selama dalam perjalanan, perahu yang ditumpanginya terombang-ambing di tengah lautan. Tanpa alas kaki dan hanya mengenakan baju yang dipakainya saja, kedua anak kecil tak berdosa itu pergi dari negaranya untuk mencari kedamaian.

Hingga akhirnya, sampailah kedua bocah kecil tak berdosa itu bersama para pengungsi lainnya di sebuah daratan di negara lain sebut saja Indonesia misalnya. Begitu sampai kedua bocah tersebut, langsung pergi memisahkan diri dari rombongan para pengunsi lainnya.

“Merasa ketakutan dan trauma yang begitu dalam saat dinegaranya yang berkonflik, bocah perempuan dan adik laki-lakinya pergi tanpa arah tujuan menyusuri ke tempat atau kota lainnya,”ujarnya.

Pada saat ditengah jalan, lalu adiknya bersuara sedikit saja atau menangis, mulutnya ditutupi dengan tangan kakaknya supaya tidak terdengar orang. Ketika adiknya menangis dan kelaparan, kakaknya mengambilkan makanan dari sisa orang yang sudah dibuang  di tempat sampah untuk diberikan ke adiknya. Adiknya kehausan, dicarikan air sisa orang yang sudah terbuang bahkan juga dengan air hujan lalu dimunumkan keadiknya. Lalu adiknya kedinginan, ia buka baju yang ia kenakan lalu dipakaikan ke adiknya.

“Hal tersebut dilakukan kakaknya karena rasa sayangnya kepada adiknya, meskipun dia sendiri dalam kondisi menderita dan sakit. Tapi sang kakak ini tidak memikirkan kesehatannya sendiri,”ucap Kim yang mulai meneteskan air mata saat menceritakan hal itu.

Setelah selama satu minggu perjalanan, dilihatnya ada kerumunan anak-anak kecil lain yang seusianya sedang bermain-main. Anak perempuan tadi berfikir, aku diterima nggak ya dengan mereka, atau di negeri ini apakah aku akan ditangkap lalu dipulangkan lagi ke negaranya. Adakah orang-orang lain dibelahan bumi ini menyambut kami, atau bahkan memusuhi kami. Harapan sang anak tadi, bisa nggak ya dunia ini untuk semua anak.

Karena merasakan konflik batin, dia pun pergi untuk mencoba menghindari anak-anak yang tengah bermain tadi. Disuatu ketika, anak-anak yang tengah bermain tadi itulah yang akhirnya melihat mereka berdua. Lalu ada beberapa anak-anak kecil lainnya, mendekati keduanya dan memberikan makan dan minum. Tapi kedua kakak adik tersebut, masih merasakan ketakutan yang begitu dalam dialaminya.

Dalam hati kecil sang kakaknya berkata; ternyata anak-anak di negara ini atau lainnya menyambut saya dan adik saya . Mungkin memang hanya cukup orang tua kita saja yang berperang, tapi untuk kami anak-anak tidak.

Dengan bantuan anak-anak itulah,  kedua bocah malang ini diberikan pakaian dan lainnya dan adiknya diasuh dengan anak lain yang seusianya. Saat itulah sang kakak bisa tersenyum dengan meneteskan air mata saat melihat adiknya diperlakukan dengan kasih sayang.

Di hati kecil sang kakak tersebut meminta; dear friend in the name of the unity (wahai sahabat atas nama persatuan dan kesatuan), from the one who had no more tears (dari seorang yang sudah tidak ada lagi air mata), lets live in a glorious peace (mari kita hidup dalam damai yang indah).

“Biarkanlah aku meninggal dan kedua orangtuaku meninggal, tapi aku masih punya seorang adik yang masih hidup. Sambutlah dan terimalah dia, perlakukanlah dia sebagaimana manusia aku tidak akan pernah menyalahkan perang yang terjadi di negaraku. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku, pintaku hanya perlakukanlah adikku seperti manusia juga dan berikan sesuatu yang terbaik untuk adikku tercinta,”pinta sang kakak yang begitu mencintai adiknya.

Setelah taklama berselang, kata Kim, kakaknya terjatuh dan akhirnya meninggal dunia. Karena selama pergi dari negaranya dan menempuh perjalanan panjang, ternyata kondisi kakaknya dalam keadaan sakit. Memang sungguh menyayat, cerita kisah dua bocah malang kakak beradik yang tak berdosa tersebut.

“Dari sebuah foto kedua anak perempuan dan laki-laki itulah akibat konflik di negaranya yang menginspirasiku hingga terciptanya lagu ‘One World For Childern’ (satu dunia untuk semua anak),”jelasnya.

 

LEAVE A REPLY