Beranda Views Sepak Pojok Lebaran Kurban, Pulang tak Membawa Daging

Lebaran Kurban, Pulang tak Membawa Daging

BERBAGI

Dahta Gautama

Menjadi miskin itu hina. Tak ada harga dan tak dilirik sebagai “orang”. Itu yang pernah saya, dan kakak saya alami, pada tahun 1980-an pertengahan, di kampung kami, Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan. Kami¬†¬†datang ke masjid paling awal. Jam 6.15 pagi. Shalat Idul Adha dan tak pergi lagi dari masjid demi jatah daging kurban.

Dengan saksama dan hati debar-debar, kami yang masih SD kelas awal, memperhatikan dalam jarak yang sangat dekat pemotongan hewan kurban. Entah berapa ekor sapi, berapa ekor kambing. Usai di potong, daging di iris-iris, dan di tumpuk ke beberapa bagian, dimasukkan ke puluhan (barangkali ratusan) kantung kresek.

Satu-satu anak tetangga dan orangtua, datang dan diberi satu sampai dua kantung kresek. Umumnya, mereka datang belakangan. Bukan seperti saya dan kakak, yang sudah “karatan” di tempat pejagalan hewan kurban itu.

Lima kantung kresek terakhir, kami belum di kasih jatah. Tinggal satu, di lirik pun tidak. Sepi, sepi.. bubar. Kantung kresek ludes. Dan kami masih berada di sana. Sadar tak dapat jatah qurban. Kami pulang gontai. Padahal emak sudah siap dengan bumbu seadanya. Dan bengong saja, ketika kami pulang tanpa daging.

YA Allah… mengapa sulit benar, lupa pada peristiwa biadab itu. Pikiran saya terjun ke Masjid yang letaknya di pinggir kali itu, setiap Idul Adha.

Benar kata almarhum ayah. “Miskin itu hina. Kalian jangan miskin seperti kami. Sekolah yang bener. Harus pintar. Kalau pintar, kalian bisa berbuat banyak, mengatasi kesusahan hidup,” pesan ayah, berulang-ulang kepada kami.