Beranda News Marwah Daud Ibrahim Tetap Kukuh Membela Dimas Kanjeng, Ini Alasannya

Marwah Daud Ibrahim Tetap Kukuh Membela Dimas Kanjeng, Ini Alasannya

BERBAGI
Marwah Daud Ibrahim (dok cisfed.org)

TERASLAMPUNG.COM — Mendapatkan kritik dan olok-olok di media sosial terkait keterlibatannya dalam kasus Dimas Kanjeng, tidak menyurutkan langkan intelektual Dr. Marwah Daud Ibrahim untuk membela ‘sesambahannya’.

Ia begitu yakin bahwa Dimas Kanjeng benar dan bukan seorang kriminal. Kepada para pengikut Dimas Kanjeng se-Nusantara, perempuan cerdas asal Makassar yang dinilai publik logikanya jungkir balik karena bisa jadi pengikut Dimas Kanjeng itu menyatakan dirinya masih Marwah Daud yang dulu.

“Pembelaan saya terhadap Mas Kanjeng adalah pembelaan menyangkut sebuah proses pencarian, penemuan dan atau peneguhan “IDEOLOGI” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21,” katanya.

Berikut surat panjang Marwah Daud Ibrahim yang tersebar di media sosial:

“IZINKAN SAYA MELANJUTKAN PERJALANAN….”
oleh Marwah Daud Ibrahim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Asww. Sahabat seperjuangan se Nusantara. Terima kasih atas perhatian dan simpatinya yang begitu dalam kepada saya terkait dengan Padepokan Dimas Kanjeng (PDK) Taat Pribadi.

Saya menerima dengan hati terbuka dan dgn rasa bahagia, ikhlas dan tulus sepenuh hati semua masukan kpd saya itu, yang mendukung dan yang menghujat, semua saya terima dan yakini sebagai tanda cinta dan sayang kpd saya.

Izinkan saya menyampaikan bahwa saya masih MARWAH YANG DULU, yang Anda kenal sebagai adik atau kakak di HMI, KAHMI dan sesama alumni Universitas Hasanuddin dan Alumni Amerika. Teman trainer atau peserta training di MHMMD. Sesama pengurus atau anggota di ICMI, YAAB ORBIT, MASIKA, Laznas BMT, KKSS, Sobat Bumi, Agro Politan Sinergi Mulia, Alumni Beasiswa Habibie, Masy Singkong Indonesia, KGN full..
Sahabat se Nusantara. Apa yang saya perjuangkan jauh LEBIH BESAR daripada Padepokan di mana saya diamanahi sebagai Ketua Yayasan dan Tim Programnya; pun jauh LEBIH TINGGI dan MULIA daripada sekadar membela Guru Besar Padepokan,YM Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Terus terang, sebelum dan sejak awal reformasi sampai detik ini. saya merasa “diperjalankan” dan “dipertemukan”oleh Allah SWT dengan orang “hebat” dan “berilmu” di banyak pulau Indonesia dan terutama di Pulau Jawa yang punya kemampuan SETARA DIMAS KANJENG.

Saya juga banyak membaca tentang dan bertemu dgn sahabat yang belajar dari guru tasawuf dan sufi. Yang menganggap fenomena Dimas Kanjeng itu biasa2 saja. Kata mereka Kalau Allah SWT berkehendak, tidak ada yang mustahil. Hanya saja kisah spt ini beredar terbatas di lingkungan sendiri.

Pembelaan saya terhadap Mas Kanjeng adalah pembelaan menyangkut sebuah proses pencarian, penemuan dan atau peneguhan “IDEOLOGI” untuk sebuah Peradaban Baru di Abad 21.

Ketika KOMUNISME lumpuh, tembok Berlin runtuh dan USSR bubar menjadi serpihan negara di Eropa Timur.

Tatkala KAPITALISME digugat dan di demo di jantung keuangan dunia, New York. Dan INGGRIS yang pernah berjaya di dunia tidak lagi diterima untuk memimpin di EROPA dan bahkan Rakyat Inggeris kemudian memilih untuk menyatakan tidak mau lagi bergabung di Uni Eropa.

Ketika negara- negara di TIMUR TENGAH tempat para Rasul dan Nabi lahir, menjalani hidup dan dimakamkan ; dan kisahnya terukir di kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam, yang salah satu intinya mengajarkan perdamaian, justru kini menjadi arena perang saudara yang memilukan.

Ketika ilmuan mulai bicara Transdimensi, karena teori gravitasi, relativitas dan Fisika Quantum tidak bisa menjawab banyak dan bahkan harus go “beyond” methafisik, sementara di Pulau-Pulau Nusantara begitu kaya dgn “Genius Local.”
Semua fenomena ini membuat saya makin yakin bahwa fajar terbitnya matahari “NUSANTARA JAYA 2045” sedang menyingsing. “ISLAM Rahmatan lil alamin” harus siap dan menyusun Shaf.

Yakinlah Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Adil, dan Kuasa atas segala sesuatu.
Alhamdulillah saya sehat, insyaa Allah Aqidah saya terjaga. Perjalanan masih panjang dan berliku. Semoga Allah SWT menunjuki jalan yang lurus dan di Ridhoi- Nya.

Sahabat “izinkan saya melanjutkan perjalanan.”

(Bintaro, Jakarta 07: 48, Kamis 6 Oktober 2016).