Beranda Views Sepak Pojok Mati Ketawa Cara Mukidi: Mukidi, “Muklasdi”, Mukiyo

Mati Ketawa Cara Mukidi: Mukidi, “Muklasdi”, Mukiyo

BERBAGI
Ilustrasi tokoh Mukidi (ceritamukidi.wordpress.com)

Willy Pramudya

Hatta, blio ini pencipta tokoh fiksi yang hari-hari ini berkibar namanya di dunia media sosial (medsos), Mukidi. Nama blio Soetantyo Muchlas. Melalui tangan Bung Muklasdi –maaf untuk keperluan ‘status’ ini nama Pak Bung Soetantyo sebagai “ayah kandung” Mukidi saya sebut Muklasdi– sosok fiktif Mukidi mencapai kebesarannya di dunia medsos –bukan sosmed!

Melalui jalan medsos Bung Muklasdi berhasil membesarkan “kembali” nama “Mukidi”. Bahkan melampaui kebesaran yang pernah dicapai sebelumnya melalui jalan radio. Hari-hari ini banyak orang dari berbagai lapis sosial yang berbeda-beda sungguh menikmati karyanya dan tak habis membicarakannya.

Mungkin karena pemasokan belum terputus; tersebab persediaan belum habis-habis. Kita layak berterima kasih kepada Bung Muklasdi. Seberapa pun pencapaiannya, kehadiran Mukidi telah ikut mengendorkan urat-syaraf banyak pengguna medsos yang tegang. Ia telah menjadi kanal pelepasan kesumpegan tersebab hidup sehari-hari. yang cenderung keras dan menegangkan. Tapi saya teringat ungkapan ini: segala sesuatu selalu ada akhirnya. Karya seperti ini juga akan bernasib sama seperti produk budaya pop lainnya.

Mirip dunia “bisnis” goreng-menggoreng batu akik dan antorium: dapat momen–panen raya — puso atau bahkan tamat. Apalagi Mukidi berbeda dengan “pamannya”: Mukiyo.┬áBerbeda pula dengan tetangga kampungnya: Sontoloyo. “Mukiyo” dan “Sontoloyo” hemat saya lebih mewakili dunia umpatan. Umpatan, sebagaimana lazimnya, punya daya untuk bertahan lebih lama tanpa menunggu terciptanya kisah baru.

Tanpa kisah baru, kehidupan sehari-hari cukup bermurah hati membangkitkan adrenallin untuk mengumpat. Selamat menikmati Mukidot — anekdot dunia Mukidi. Selamat kepada Muklasdi –eh maaf– Pak Bung Soetantyo Moechlas yang berhasil menghadirkan dunia Mukidot.

Untuk keperluan pengabadiannya agaknya dunia Mukidot layak dikumpulkan dalam buku “Mati Ketawa Cara Mukidi”. Mukidot juga layak jadi bahan refleksi atas kehidupan yang dipenuhi orang-orang yang omongannya “koyo xxxxne tanggaku” karena penuh dengan gombale Mukiyo sekaligus dipenuhi orang-orang bahkan tokoh dengan perilaku Sontoloyo.