Beranda Views Kopi Pagi Mencari Kambing di Akhir Tahun

Mencari Kambing di Akhir Tahun

BERBAGI

Oyos Saroso HN

Sarapan pagi kami hari ini penuh menu: suara terompet, ucapan selamat tahun baru, tragedi di televisi, harga BBM turun, dan cerita tukang cuci yang hendak merayakan pergantian tahun dengan membakar lele.

Istri sibuk mengatur acara bakar-bakaran malam nanti. Iseng-iseng saya ngeloyor ke warung kopi di ujung gang. Di sana, obrolan sama saja: menu tahun baru, terompet, rencana dar-der-dor petasan, kembang api.

Malam tahun baru sudah di depan mata. Hari masih hujan. Mendung terus menggantung. Sementara kambing yang sudah lama pergi sedang terus dicari.

“Ini akhir tahun tragedi! Harus ada kambing!” pekik Mukidi dari pojok warung kopi.
.
Mukidi menyeruput kopi. Kami menoleh sebentar ke arah Sundleb. Ia tampak tanpa ekspresi. Wajahnya ditekuk.

“Di mana harus cari kambing di hari hujan begini?” tanya Caca Marica.

“Kambing buat apa? Mau disate buat hidangan malam tahun baru?’ Sonto menyela.

Mukidi hanya nyengir kuda. Ia seruput lagi air kopi yang sudah mulai dingin.

Maafkanlah, kawan. Mukidi memang lugu. Tapi ia benar. Tiap akhir tahun kita harus mencari kambing. Makin hitam makin bagus. Maklum, tiap akhir tahun kerap berhambur angka-angka kemiskinan, kriminalitas, pertumbuhan, kesuksesan, dan bencana.

Pertumbuhan dan kisah sukses tak perlu kita bahas, sebab mereka tak butuh kambing. Yang penting adalah mencari kambing (hitam) kemiskinan dan bencana. Sebab, konon, pada setiap kemiskinan dan bencana pasti ada sesuatu yang salah. Dan itu artinya perlu kambing hitam.

“Gizi buruk yang melanda kampung kita,” kata Mat Pekok seolah berkhotbah,”karena kepala kampung kita salah urus! Ia masih terlalu muda. Mana mungkin ia paham soal pentingnya gizi bagi semua warga kampung?”

Caca Marica hanya terkekeh. 

“Lho…bukankah kepala kampung  kita baru beberapa bulan jadi pemimpin?” Karto Klete menyela. “Mestinya yang layak disalahkan  ya kepala kampung yang lama dong! Dua periode dia jadi kepala kampung, berjanji mau perbaiki infrastruktur jalan, menjamin keamanan, dan membikin jembatan paling hebat sedunia.Nyatanya hanya kekayaan dia sendirilah yang bertambah. Rakyat tetap miskin!”

Prok-prok-prrok. Gendul Gowang, Sonto, dan Loyo bertepuk tangan. Suasana warung kopi jadi agak tegang.

“Dan kalian tahu, kenapa pesawat AirAsia jatuh?” tanya Mat Pekok. “Itu tak lain karena azab dari Allah! Kita salah memilih pemimpin, mas bro! Coba kalau yang jadi presidennya Ndoro Bei, kagak mungki ada pesawat jatuh!”

“Wuih, Jonru sekali kau ini!” sela Kang Cublak.

Caca Marica kembali terkekeh.

Hujan belum reda. Istri saya tergopoh-gopoh menyusul, mengajak membeli jagung dan ikan segar.