Beranda Lingkungan Cara Aktivis Lingkungan Menyelamatkan Harimau Sumatera dari Kepunahan

Cara Aktivis Lingkungan Menyelamatkan Harimau Sumatera dari Kepunahan

BERBAGI
Sosialisasi mengatasi konflik harimau dengan manusia yang digelar WCS di Kabupaten Tanggamus, beberapa waktu lalu. (dok WCS)

Oyos Saroso HN |Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Pada 2009 lalu, hanya dalam tempo beberapa bulan sebanyak enam orang tewas dimangsa harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Jambi. Mereka menjadi korban harimau saat melakukan aktivitas ilegal di dalam hutan taman nasional. Harimau betina yang diduga menjadi pemangsa sejumlah penduduk sudah ditangkap. Kini Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama sejumlah NGO lingkungan sedang berusaha menangkap harimau lain yang diduga juga memangsa penduduk.

Kasus konflik harimau dengan manusia di Jambi ibarat pucuk gunung es yang baru saja muncul. Artinya, kasus serupa kemungkinan akan berpotensi terjadi di daerah lain di Pulau Sumatera, terutama di wilayah-wilayah hutan yang selama ini menjadi habitat harimau. Sebelum enam orang tewas diterkam harimau, konflik harimau dengan manusia juga terjadi di Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan.

Korban sudah berjatuhan. Menangkap harimau yang diduga kuat sebagai pemangsa manusia tentu tidak menyelesaikan persoalan. Manusia memang harus diselamatkan dari ancaman harimau. Pada sisi lain, harimau sumatera yang selama ini terancam punah juga harus diselamatkan dari ancaman kepunahan.

Selain terus diburu oleh pemburu liar untuk dijual kulitnya, eskalasi illegal logging dan perambahan liar yang terus meningkat di semua hutan taman nasional di Pulau Sumatera juga membuat habibat harimau sumatera makin terdesak. Tak jarang, harimau yang memangsa manusia itu akan diburu ramai-ramai oleh penduduk lalu dibunuh.

Jalan tengahnya, tentu saja, dengan meminimalkan konflik antara harimau dengan manusia. Antara lain dengan menggencarkan sosialisasi kepada penduduk agar tidak mengusik harimau di habitat aslinya dengan cara tidak melakukan aktivita ilegal di dalam hutan taman nasional.

Di Lampung, sejak beberapa tahun terakhir Wildlife Conservtion Society -Indonesia Programme (WCS-IP) membuat model pencegahan konflik harimau dengan manusia. Tujuannya adalah menjaga harimau tetap hidup dengan nyaman di habitat aslinya, sementara manusia yang tinggal di sekitar hutan aman dari kemungkinan serangan harimau.

“Pada dasarnya konflik harimau dan warga bisa dicegah sedini mungkin. Kuncinya adalah deteksi dini terhadap kehadiran harimau, mengupayakan langkah penghalauan secepat mungkin, perondaan secara terus-menerus, pengamanan ternak warga, dan pengaman diri yang memadai apabila menghadapi kondisi darurat diserang harimau,” kata aktivis Wildlife Crime Unit (WCU), Dwi Nugroho Adhiasto.

Menurut Dwi Nugroho, hanya sebagian kecil harimau penyebab konflik yang mempunyai kecenderungan menyerang dan membunuh manusia. Sebagian besar adalah harimau yang keluar dari hutan karena kebutuhan
akan pakan yang semakin berkurang di dalam hutan.

“Bagi harimau yang habitatnya terdesak dan sudah kekurangan stok pakan di dalam hutan, paling mudah untuk mendapatkan makann ya memangsa ternak warga yang tanpa pengawasan dan perlindungan khusus. Apalagi memang karena wilayah teritorial harimau tersebut tumpang tindih dengan pemukiman warga. Kalau ada orang masuk wilayah teritoril harimau sumatera, harimau kemungkinan besar juga akan memangsanya,” ujar aktivis NGO lingkungan yang pernah menjadi koordinator Wildlife Response Unit (WRU), organisasi di bawah WCS-IP.

Sejak 2006 WCS-IP menerapkan model penanggulangan konflik harimau dengan manusia di Lampung dan Nangroe Aceh Darussalam, terutama di daerah hutan taman nasional yang berbatasan langsung dengan perkampungan penduduk. Penanggulangan konflik harimau dilakukan secara terus-menerus dengan beberapa cara. Antara lain penyadartahuan warga terhadap sebab terjadinya konflik harimau, sosialisasi pengamanan minimal yang harus dipahami warga, pentingnya mempertahankan satwa mangsa harimau seperti babi hutan, kijang, monyet, dan rusa.

“Selain mengajak penduduk sekitar hutan untuk tidak menangkap babi hutan, monyet, kijang, dan rusa, yang paling riil adalah dengan mengajak penduduk membuat kandang ternak yang aman dari ancaman harimau,” kata Dwi.

Menurut Dwi model teknik mengatasi konflik harimau di Lampung antar lain dilakukan di Talang 11, Talang Kalianda, Tebat Selebang, Talang Ujungpandang, dan di Tampang di hutan Taman Nasional Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Sementara di Aceh diterapkan di Selatan model ini diterapkan di Trieng Meduro Tenong, Sawang, dan Kampung Tinggi.

“Kandang ternak yang desainnya menyesuaikan desain ‘kandang aman dari ancaman harimau’ persentase keberhasilannya mencapai 100%. Buktinya, sejak diujicobakan di Talang 11 sejak 2006 lalu, sekarang tidak ada lagi ternak penduduk yang dimangsa harimau. Harimau memang masih tetap berkeliaran, tetapi tidak mengganggu warga atau ternak warga karena ketersediaan pakan di hutan masih cukup,” kata Dwi.

“Kami merekomendasikan agar Departemen Kehutanan atau BKSDA memakai model ini untuk menanggulangi konflik harimau sumatera dengan manusia di Jambi, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan,” ujarnya.

Baca Juga: Jual-Beli Kulit Harimau Melalui Facebook, Bisnis Kulit Harimau Makin Terang-terangan

Baca Juga: Ini Cara Mencegah Konflik Harimau Sumatera dengan Manusia di Lampung Barat