BERBAGI
Semburan vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok)

Said Mustafa Husin

Sekitar dua pekan lampau atau tepatnya 24 – 28 Agustus 2016, Pemerintah Provinsi Lampung menggelar Festival Krakatau 2016. Festival kali ini mengusung rangkaian kegiatan nature, culture and adventure yang disajikan dalam Jelajah Sejarah, Jelajah Pasar Seni, Jelajah Layang-layang, Jelajah Rasa, Jelajah Krakatau dan Jelajah Semarak Budaya.
Festival Krakatau 2016 ini digelar dalam rangka mengenang 133 tahun letusan Gunung Krakatau. Tentu saja festival ini akan sangat memikat mata dunia. Pasalnya dunia sangat tahu bahwa letusan Gunung Krakatau merupakan letusan gunung yang paling mematikan sepanjang sejarah.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan, puncak dari letusan gunung Krakatau terjadi pada Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.20. Letusan Krakatau pada hari itu mengeluarkan suara ledakan paling keras atau 30.000 kali lebih keras dari suara ledakan bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki.

Bahkan,  para peneliti dari Unversity of North Dakota menyebutkan ledakan Krakatau mencatat nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Tidak itu saja, The Guiness Book of Records juga mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Saking hebatnya letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 itu dua pertiga dari bagian Krakatau runtuh, sebagian besar pulau di sekelilingnya atau pulau di kepulauan Krakatau lenyap. Sekitar 3000 jiwa penduduk Pulau Sibesi yang jaraknya 13 km dari Krakatau tak satupun yang selamat.Letusan itu juga menewaskan 1000 orang di Ketimbang dan daerah pesisir Sumatera.

Meskipun Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, namun dampak letusan Krakatau dirasakan di seluruh penjuru dunia. Barograf di seluruh dunia mencatat gelombang tekanan yang terpancar akibat letusan Krakatau. Letusan Krakatau itu terdengar sampai ke Perth, Australia Barat yang berjarak 3.110 km dan Rodrigues di Mauritius yang berjarak 4800 km.
Letusan Krakatau juga menimbulkan gelombang Tsunami yang tingginya mencapai 30 meter di beberapa tempat. Wilayah-wilayah di Selat Sunda dan di pesisir Sumatera turut terkena dampak aliran piroklastik yaitu sebaran gas panas dengan suhu di atas 1000 derajat Celsius, abu vulkanik dan bebatuan yang bergerak dengan kecepatan 700 km/jam.

Bisa jadi karena itu pula peristiwa besar yang menewaskan 36.417 jiwa dengan kerugian materi yang tak terhingga itu diperingati Pemerintah Provinisi Lampung setiap tahun sejak tahun 1990 lalu. Setiap tahun Festival Krakatau mengusung tema yang berkaitan dengan wisata Lampung. Tahun 2016 ini, Festival Krakatau megusung tema “Lampung The Treasure of Sumatera”.

Pemerintah Provinsi Lampung memang menggagas Festival Krakatau sebagai momentum untuk mempromosikan budaya dan sejarah Lampung. Semua ini tentu saja dalam rangka mengemas Lampung sebagai destinasi wisata. Namun,  kita-kita tentu beda. Kita berharap Festival Krakatau di gelar setiap tahun agar peristiwa besar yang telah mengguncang dunia itu tidak luput dari ingatan dan tidak tercecer dalam catatan sejarah. Hanya itu. Selamat dan sukses Festival Krakatau 2016.

 

(dikutip dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY