Beranda Views Inspirasi Meraih Prestasi Nasional di Tengah Keterbatasan, Belajar dari Anak-anak Karangmoncol

Meraih Prestasi Nasional di Tengah Keterbatasan, Belajar dari Anak-anak Karangmoncol

BERBAGI
Siswa Karangmoncol didampingi guru pembimbing dalam acara "Kick Andy". (Foto: Istimewa).

Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro

Bisa jadi kalau tak ada gerakan siswa-siswa dan guru pembimbing SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol, Purbalingga, Jaw Tengah, tinggal nama dan kenangan. Pasalnya, beberapa tahun lalu, di Karangmoncol bila anak sudah lulus SD kalau tak menikah, pilihan lainnya pergi merantau mencari kerja ke kota. Akibatnya, SMP Negeri 4 Satu Atap yang lokasinya masih nebeng di SDN 2 Tanjungmuli ini pernah muridnya merosot hingga tinggal 39 orang.

Gerakan para siswa dan guru pembimbing tersebut lewat cara unik: membuat film. Lewat film mereka bisa mengkampanyekan dan mengingatkan peran keluarga betapa pentingnya pendidikan. Dampaknya, bebeberapa tahun belakangan nama Kecamatan ini mengemuka ke tingkat nasional karena prestasi yang diukir SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol. Bahkan, sekolah ini juga pernah muncul dalam program “Kick Andy On The Spot”, salah satu acara favorit di Metro TV.

Menariknya, meskipun di daerah terpencil sekolah ini punya prestasi dalam bidang film. Prestasi ini tentunya agak paradoks, nyeleneh dan langka, apalagi kalau kita melihat sekolah yang menyandang nama SMP Negeri 4 Satu Atap ini sekolah masih bergabung dengan SDN 2 Tanjungmuli, Karangmoncol termasuk di daerah terpencil.

Sebutan SMP Satu Atap melekat, karena sekolah ini termasuk salah satu sekolah yang berada di daerah terpencil. SMP Negeri 4 Satu Atap ini untuk mewadahi lulusan SD di kawasan ini yang ingin meneruskan sekolah lanjutan di Karangmoncol.

Karangmoncol adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kecamatan yang di sebelah utara Kabupaten Purbalingga ini berbatasan dengan Kabupaten Pemalang. Daerah yang berada di lereng Gunung Selamet ini memiliki udara yang sejuk-alami, karena masih di lingkungan hutan lindung.

Menurut Aris Prasetyo, gpembimbing ekstrakurikuler film SMP 4 Satu Atap Karangmoncol, keterpencilan dan keterbatasan akses sumberdaya bukan berarti membatasi siswa untuk berkarya dan prestasi. Guru wiyata bakti jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini berhasil membuktikan anak-anak SMP Negeri 4 Satu Atap bisa membuktikan prestasi lewat dunia film.

Dengan sentuhan tangan dingin dan bimbingan Aris Prasetyo dan kawan-kawan anak-anak belajar mengenal dan membuat film.

“Dengan bermodalkan kemauan dan handycam seadanya siswa-siswa yang ikut ektrakurikuler film belajar membuat film pendek,” kisah Aris.

Sedangkan tema-tema yang diangkat dalam film pendek anak-anak SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol adalah kisah-kisah keseharian yang mereka alami. Tema sederhana tetapi menyentuh sendi-sendi kehidupan yang sarat moralitas tetapi tak berkesan menggurui.
Film hasil karya-karya siswa SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol ini menjadi penting, karena mereka menempatkan film bukan sebagai tontonan dan hiburan semata tetapi juga menjadikan film sebagai tuntunan.

Menurut Aris film-film karya para siswa SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol diputar berkeliling dari dusun ke dusun di kawasan sekitar kaki Gunung Selamet.

“Ternyata karya film mereka berhasil memancing kesadaran masyarakat untuk mengikhlaskan anak-anaknya untuk terus melanjutkan bersekolah ke jenjang SMP. Padahal dulunya di daerah ini kalau sudah lulus SD kalau tak menikah pergi merantau mencari kerja ke kota,” kisah Aris.

Prestasi yang dibukukan anak-anak SMP Negeri 4 Satu Atap yaitu; Eka Susilawati Miftakhatun , Yasin Hidayat, Darti dan Misyatun melalui kompetisi film pendekdi tingkat nasional bahkan internasional berimbas pada kemajuan sekolah. “Sekolah ini kini kebanjiran siswa setiap tahun ajaran baru,” ujar Aris berbinar.

Eka Susilawati, Miftakhatun , Yasin Hidayat, Darti dan Misyatun dengan prestasinya mampu merubah secara nyata pola pikir (mindset) masyarakat sekitar Gunung Selamet khususnya Karangmoncol bahwa pendidikan itu niscaya dan perlu.

Tempat ibadah yang sedang didirikan anak-anak Karangmoncol. (Foto: Dok/Istimewa)
Tempat ibadah yang sedang didirikan anak-anak Karangmoncol. (Foto: Dok/Istimewa)

Eka Susila dan kawan-kawan dengan prestasinya membawa perubahan yang positif bagi masyarakat. Dengan prestasinya mereka bisa membuat daerahnya bersinar, tak hanya ditingkat nasional tetapi juga internasional.
Membangun Masdjid

Anak-anak SMP N 4 Satu Atap Karangmoncol, meski langganan sebagai kampium juara film pendek dan documenter tak lantas lupa diri. Mereka tetap anak-anak yang sederhana, berpikiran genial, moderat, tetapi tetap religius. Buktinya, uang hadiah yang mereka terima sebagai bentuk penghargaan hasil kerja kerasnya dengan sukarela mereka sumbangkan untuk pembangunan masjid yang dibangun di komplek sekolah.

Adalah Eko Junianto salah satu siswa SMP 4 Satu Atap Karangmoncol yang karyanya berjudul Tuyul berhasil menjadi juara dalam ajang Sagamovie Festival. Namun baginya, kegembiraan tersebut akan lebih terasa tatkala bisa membaginya kepada warga masyarakat sekitar sekolahnya.

“Kami senang ketika jadi juara, teman-teman senang, orang tua kami juga bahagia. Tetapi, kami ingin membahagiakannya dengan menyumbangkan uang hadiah ini untuk membuat masjid di sekolah, supaya bisa digunakan semua warga sekitar sekolah,” ujarnya.

Bukan Eko dan kawan-kawan tak butuh uang, tetapi uang hadiah itu akan lebih bermanfaat kalau disumbangkan untuk pembangunan masdjid berukuran 15 X 15 meter di komplek sekolah.

Aris mengaku, desa tersebut hanya ada satu masjid yang kerap digunakan siswa untuk tempat ibadah saat sekolah, seperti shalat duha dan salat zuhur berjamaah. Karena keadaan ini pihak sekolah menginisiasi untuk membangun masdjid di komplek sekolah.

“Pembangunan secara bertahap dilakukan sejak tahun oktober 2013. Kami juga mengumpulkan dana amal setiap senin,” papar Aris.

Prestasi yang diukir anak-anak SMP Negeri 4 Satap Karangmoncol, yang berhasil mengubah pola pikir orang tua (keluarga),  merupakan sebuah cermin bagi kita bersama. Bahwa pendidikan itu tidak semata-mata menjadi tanggungjawab pihak sekolah dan pemerintah, tetapi menjadi tanggungjawab kita semua.

Anak-anak SMP Negeri 4 Karangmoncol sudah membuktikan dan memberikan contoh kepada kita semua. Kapan keluarga kita akan memulai ambil bagian dan berperan dalam panggung pendidikan? Kita tunggu.

Prestasi:

1.Pemenang Gayaman Award, Festival Film Solo (FFS), 2011
2. Juara Festival Film Anak (FFA), Medan
3.Juara 1 Festival Film Remaja (FFR), Solo
4. Penghargaan Khusus Kategori Film Pendek, Festival Film Indonesia (FFI)
5. Juara 1 Tingkat Nasional, Cipta Film Lesbumi “LANGKA RECEH”, 2012

Pemutaran & Penghargaan:

– Pemenang Gayaman Award, Festival Film Solo (FFS), 2012
– Juara 1 Festival Film Purbalingga (FFP), 2012
– Juara 2 International KidsFfest, Jakarta 2012
– Juara 3 Cipta Film Lesbumi Nasional 2012
– Juara 2 Festival Film Integritas TIRI 2012
– Special Mention Festival Film Indonesia (FFI) 2012
– Finalist Asean International Film Festival and Award 2013
– Nominasi Gayaman Award, Festival Film Solo (FFS), 2012
– Finalis Festival Film Purbalingga (FFP), 2012