Beranda Views Kopi Pagi Motor Cina Becak Jakarta

Motor Cina Becak Jakarta

BERBAGI
"Piknik Naik Anjing" karya Indrotomo Brigandono

tomilebang3Tomi Lebang

Kita mengenal dengan baik istilah mocin, motor cina. Lebih sepuluh tahun lalu, Indonesia tiba-tiba kebanjiran sepeda motor merek Cina. Ada Jialing, Viar, Dayang, Sanex, Beijing, dan lain-lain. Harganya murah meriah. Pedagang sepeda motor merek Jepang kelabakan, harga-harga — apalagi yang bekas — terkerek turun. Sejak itu, sepeda motor mewabah di seluruh Indonesia.

Lalu sepeda motor Cina dihempas isu soal mutu yang rendah. Dan sebagian besar memang rendah, ada yang menyebutnya hanya produk industri rumah tangga di negeri asalnya.
Sepeda motor Cina kemudian hilang satu per satu. Hanya sedikit yang bertahan. Tapi sepeda motor telanjur murah, banyak pilihan dan terjangkau. Di Jakarta, dalam catatan Polda Metro Jaya, setiap hari ada lebih 3.000 sepeda motor baru.

Dan itulah yang kita nikmati hari-hari ini di ibukota: tirani sepeda motor di jalanan Jakarta, selip kanan, salip kiri, sesuka hati. Beberapa hari dalam sepekan saya pun ambil bagian, bersepeda motor ria membelah kemacetan.

Sesekali datanglah ke Cina, ke kota-kota besarnya seperti Beijing, Guangzhou, Shenzhen atau Shanghai. Engkau tak akan menjumpai sepeda motor, kecuali motor besar milik polisi. Kota-kota itu bebas sepeda motor sejak bertahun-tahun yang lalu.

Saya bayangkan bagaimana kerasnya kebijakan pemerintah Cina menghalau sepeda motor dari jalanan kota. Bukan menghalau semata-mata, tapi menyatakannya sebagai benda terlarang. Yang jelas, tanpa sepeda motor, warga kota-kota itu tidak kesulitan belaka. Segala jenis angkutan umum — bis, kereta, kereta bawah tanah — menjangkau setiap titik kota.

Jakarta pun hari-hari ini sedang bergumul dengan kesemrawutan lalu-lintas. Sepeda motor dan mobil sama-sama beringsut. Sama-sama memacetkan. Tak terhindarkan karena jaringan angkutan umum sungguh jauh dari memadai.

Untunglah tak ada becak di Jakarta, seperti di kota-kota lain. Mungkin ada tapi di lokasi tertentu di pemukiman pinggiran kota.

Demi menghilangkan becak di Jakarta, jalan keras ditempuh Gubernur DKI Suprapto di tahun 1980-an. Ia menerbitkan peraturan larangan beroperasi becak di seluruh Jakarta. Alasan utamanya, pemerintah melarang eksploitasi manusia atas manusia. Tapi sesungguhnya, larangan itu adalah jalan keluar dari masalah kemacetan lalu lintas ibukota. Saat itu, secara resmi tercatat sekitar 40.000 becak di kota ini. Tapi dalam hitungan tak resmi, sedikitnya 150.000 becak beroperasi di seantero Jakarta.

Menyusul larangan itu, ribuan becak disita di jalan-jalan oleh satuan polisi pamong-praja dibantu aparat keamanan. Becak-becak itu dinaikkan ke truk-truk lalu diangkut dan dibuang ke Teluk Jakarta untuk dijadikan rumpon, rumah ikan. Air mata merebak di mana-mana.
Untuk bekas penarik becak resmi, pemerintah memberi jalan keluar — meski tak mencukupi — dengan mendatangkan 10.000 minica (bajaj, helicak, minicar) untuk mereka.

Begitulah. Sepeda motor pernah marak di kota-kota besar Cina. Becak pun pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Sampai macet tak tertahankan.