Beranda Budaya Obrolan Teater, Sebentuk Igauan

Obrolan Teater, Sebentuk Igauan

BERBAGI
Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, produksi Komunitas Berkat Yakin

Oleh Alexander GB

Jika Anda menyukai tantangan, estetika, penokohan,  drama yang berbeda dengan sinetron dan film-film di televisi kita, sepakat dengan seni yang kolektif, mencari yang multidisplin, kompleks, yang seolah tanpa masa depan, maka berteaterlah…


Tulisan ini bermula, ketika Robert Koplak datang ke rumah bata dan mengusik saya yang nyaris terlelap pada selasa malam, ketika hujan deras mengguyur Tanjungkarang. Saya sudah mengantuk. Pada situasi yang setengah sadar itu kami berbincang ngalor-ngidul tak keruan. Dan akhirnya berbincanglah kami mengenai teater.

Tentu, ini hanya sebentuk informasi yang bisa jadi menyesatkan. Kabar yang disampaikan oleh seseorang yang belum memiliki kapasitas memadai untuk mewartakan teater secara utuh, tepat, atau akurat. Karena itulah, informasi yang saya berikan ini cukuplah dianggap sebatas gosip murahan, dan teman-teman-lah yang saya harapkan untuk melengkapinya, meluruskannya, membuatnya lebih terpercaya, berdasarkan data-data yang valid untuk membahas perkembangan teater di Lampung secara holistic. Alasannya klasik:  menyangkut keterbatasan informasi. Namun, karena sedikitnya info tentang teater, maka terpaksa kalian mempercayai dan terus membacanya.

Ya sudahlah. Begini, secara umum boleh dikatakan bahwa perkembangan teater di Lampung terus berkembang. Perkembangan tersebut saya duga karena dilatarbelakangi keinginan sejumlah pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok seni untuk mendalami seni peran dan pertunjukan. Maka menjadi wajar selain Teater Satu Lampung dan Komunitas Berkat Yakin (KoBER), event dan kegiatan teater di provinsi Lampung masih seputar teater sebagai media edukasi, daripada mengejar kualitas estetika atau pengetahuan teaternya.

Saya sepaham dengan Robert Koplak, bahwa Teater Satu adalah penggerak teater di Lampung. Merekalah yang dengan caranya terus menjaga amotser di Lampung. Mereka menerbitkan buku Teater Asyik dan Asyik Teater, yang sedianya bisa menjadi panduan berteater di sekolah, jika guru kesenian mau membaca dan mempraktikannya. Buku tersebut bisa menjadi rambu-rambu bagi pelajat yang ingin bergiat di dunia teater. Tumben dia agak waras.

Lalu pada tahun 2012, Komite Teater Dewan Kesenian Lampung meluncurkan buku Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski (Sebuah Pengantar) yang ditulis oleh Iswadi Pratama dan Ari Pahala Hutabarat. Kehadiran dua buku ini memberi sedikit angin segar bagi perkembangan teater, mestinya. Dan sebagaimana seni yang lain, kita tahu teater memiliki displin dan ilmunya sendiri.

Konsistensi Teater Satu memproduksi sejumlah pementasan yang berkualitas dalam beberapa tahun terakhir, membuat teater Lampung diperhitungkan di tingkat nasional. Sesekali Komunitas Berkat Yakin juga turut berkreasi. Baru dua kelompok ini nama Lampung mulai diperbincangkan di jagat teater Indonesia.

Coba kita bayangkan jika ada 5 apalagi 10 kelompok teater di Lampung yang eksis, aktif dan giat memproduksi pertunjukan, pasti situasi perteateran dan capaian artistic kita akan luar biasa. Lampung bisa menjadi pusat perkembangan teater di Sumatera, dan bahkan Indonesia, meski belum ada perguruan Tinggi Seni seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Suarabaya, Padang Panjang, Riau,  Solo, dan lain sebagainya. Meski tidak ada tokoh semacam Alm Rendra, Suyatna Anirun, Putu Wijaya, Arifin C Noor, Nano Riantiarno, Umar kayam, Radhar Panca Dahana, atau sejumlah pemikir dan budayawan lainnya.

Boleh dibilang nasib teater Teater Lampung sekarang bergantung pada sosok Iswadi Pratama, Imas Sobariah, Ahmad Djusmar, dan Ari Pahala Hutabarat. Belum disusul sosok-sosok lainnya. Sementara Riffian A Chepy dengan Dewan Kesenian Metro mencoba membangun kantung-kantung teater di Metro, namun sejauh ini belum menunjukkan kabar yang menggembirakan.

Djuhardi Basri, salah satu senior yang masih aktif saat ini. Bersama teater Sangkar Mahmud beliau mencoba memprovokasi anak-anak muda Kotabumi (Lampung Utara) untuk berteater. Sementara itu Iin Mutmainah dan Ivan Sumatri Bonang bersama Komunitas Dakocan memilih dongeng sebagai media ekspresinya.

Selain Teater Satu dan KoBER, sekarang telah muncul Teater Jabal dan Sanggar Kuntara Bandarlampung.  Sementara Teater Kuman, Teater Sendiri, Teater Jaman sudah lama menghilang dari peredaran. Teater Akustik yang belum lama muncul sudah keburu menghilang demikian juga teater wong Apik.

Setelah Muhammad Yunus, Ahmad Zilalin, Rendie Arga, Roby Akbar, Ruth Marini, Budi Laksana, Hamidah S, Liza Mutiara Afriani, kini muncul aktor-aktor potensial pada diri Derry Efwanto, Raras Shinta Kidung Amerta, Desi Susanti, Vita, Giant, Yulizar Fadli, Erika Bunga Rph, Gandi Maulana, Ahmad Tohamudin, Eka Yulianti, Baysa, Devin Nodestyo, Fitri Yani, Aang, Anzanis Mardiana, Dwi Nofita, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kelompok teater kampus dan pelajar yang masih tercatat aktif sampai saat ini seperti teater Kurusetra (UKMBS Unila), KSS (FKIP Unila), Green Teater (Umitra), Teater Nol-UKM-SBI IAIN Bandarlampung, UKMBS Polinela, UKMBS Malahayati, Teater Sangkar Mahmud STKIP Muhammadyah Kotabumi, Teater Mentari Universitas Metro, Teater Kapuk (STAIN Metro),

Demikian halnya dari kalangan pelajar, seperti Teater Sudirman 41 (SMAN 1 Bandar Lampung), Teater Gemma (SMAN 2 Bandar Lampung), Teater Palapa (SMAN 3 Bandar Lampung), Teater Sanggar Madani(SMAN 5 Bandar Lampung), Teater Handayani (SMAN 7 Bandar Lampung), Kolastra (SMAN 9 Bandar Lampung), Teater Sebelas (SMAN 11 Bandar Lampung), Teater Pelopor (SMA Perintis 1 Bandar Lampung), Insyaallah Teater (SMU Perintis 2 Bandar Lampung), Teater Cupido (SMAN 1 Sumberjaya), Cotheka (Community of Theatre Alkautsar). Jabal School-Pagelaran, Teater Laju SMAN 2 Negeri Katon.

Dalam tiap tahunnya even-even teater seperti pertunjukan, lomba, workshop dan diskusi kerap digelar di Provinsi ini serta tempat tempat yang sering digunakan adalah Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Auditorium RRI, Gd. PKM Lt 1 Unila, Academic Centre STAIN Metro, Aula FKIP Unila, Pasar Seni Enggal Bandarlampung.

Adapun even tahunan teater yang ada di Lampung; Panggung Teater Sumatera, Panggung Teater Perempuan Sumatera, Student On The Stage (SoS) sebagai pengembangan Liga Teater Pelajar yang semula hanya tingkat provinsi menjadi nasiona.  Ketiga even tersebut diselenggarakan oleh Teater Satu Lampung. Sementara itu di Lampung Utara ada Festival Teater Remaja yang dimotori oleh Teater Sangkar Mahmud. Dewan Kesenian Lampung mencoba menghidupkan teater melalui Festival Monolog DKL.

Selain kegiatan non formal di atas, ada juga festival teater pelajar sebagai satu cabang lomba pada even FSL2N untuk tingkat SD, SMP, dan SMA se-Provinsi Lampung oleh Diknas Pendidikan. Acara ini selain tingkat kabupaten dan provinsi, bahkan hingga ke taraf nasional.