Beranda Hukum Kriminal Pasutri Pembunuh Istri Mantan Anggota Dewan Divonis Ringan, Suami dan Keluarga Korban...

Pasutri Pembunuh Istri Mantan Anggota Dewan Divonis Ringan, Suami dan Keluarga Korban Kesal

BERBAGI

Zainal Asikin/teraslampung.com

Terdakwa Yunita tertunduk gelisah dan meneteskan air mata saat mendengarkan vonis hukuman dalam sidang di PN Tanjungkarang, Rabu (7/10/2015).

BANDARLAMPUNG – Vonis ringan terhadap Yunita Amelia (28) dan Darwin (32), dua terdakwa
pembunuh Suharningsih, membuat keluarga korban sangat kecewa. Muchzan Zein, suami korban, menilai  vonis hakim tersebut sangat ringan dan melukai rasa keadilan.

Menurut pengacara yang juga mantan anggota DPRD Bandarlampung itu vonis tersebut juga jauh dari rasa keadilan,  karena dirinya sudah kehilangan istri atau ibu dari anak-anaknya, sementara pelaku pembunuhan divonis ringan.

“Bagi kami, hukuman mati itulah yang paling pantas untuk balasannya untuk mereka berdua (Darwin dan Yunita),”kata Muhzan Zein dengan nada kesal, usai menghadiri sidang vonis di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Rabu (7/10/2015).

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Rabu (7/10) hakim yang dipimpin Cokro, memvonis kedua terdakwa pasangan suami isteri (pasutri) ini berbeda. Terdakwa Darwin divonis 20 tahun kurungan, sedangkan Yunita divonis 15 tahun.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari, yang sebelumnya menuntut kedua terdakwa seumur hidup. Atas putusan itu, JPU menyatakan pikir-pikir sedangkan kedua terdakwa juga pikir-pikir.(Baca: Pasutri Pembunuh Istri Mantan Anggota Dewan Dituntut Hukuman Seumur Hidup).

Dalam persidengan sebelumnya  JPU menilai kedua terdakwa  terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan terencana seperti dakwaan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Yang memberatkan keduanya, adalah perbuatan para terdakwa telah meresahkan masyarakat dan menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban serta tergolong perbuatan sadis.

“Kalau yang meringankan Darwin dan Yunita, keduanya belum pernah dihukum itu saja,” kata Ari.
Usai persidangam, kepada Teraslampung.com Muchzan Zein mengatakan dirinya meminta Jaksa untuk melakukan banding dan eksaminasi ke Mahkamah Agung (MA).

Menurut Muchzan Zein, perbuatan Darwin dan Yunita ini sudah sangat sadis, dan memang sudah direncanakan.

“Yang pasti saya merasa kecewa dengan vonis itu, saya berharap kedua pelaku ini harus dihukum seberat-beratnya, meskipun pelaku Yunita terhitung masih keponakan saya sendiri,”ujarnya. (Baca: Pembunuh Istri Mantan Anggota Dewan Terhitung Masih Keponakan Korban).

Pantauan Teraslampung.com di kantor Pengadilan, dua terdakwa mendapat pengawalan ketat dari anggota kepolisian Polresta Bandarlampung. Dalam ruang sidang, tampak hadir juga keluarga korban bahkan awak media pun turut mengikuti proses persidangan.

Dalam sidang putusan itu, Hakim membacakan vonis terlebih dahulu kepada terdakwa Darwin dan terdakwa tampak tenang dengan menundukkan kepalanya. Usai divonis, Darwin pun menerima vonis tersebut kemudian Darwin dibawa petugas menuju ruang sel tahanan terlebih dulu.

Selanjutnya, hakim membacakan vonis terhadap Yunita istri dari terdakwa Darwin. Saat hakim membacakan vonis, Yunita tampak gugup dan gelisah raut wajahnya pun berubah menjadi memerah dan sesekali meneteskan air mata. Usai mendengarkan pembacaan vonis, Yunita dibawa ke ruang tahanan Pengadilan.

Sementara itu, dengan hasil putusan kepada Yunita dan Darwin, salah seorang perempuan yang diketahui masih kerabat korban, sempat mengeluarkan kata-kata kekesalannya.

Ngebunuh orang kok dihukum ringan, kalau gitu mah enak juga ya kalau ada masalah, tinggal bunuh orang saja. Ini mah udah bener-bener nggak adil,”ujar wanita itu sambil mengelus pundak Muchzan Zain saat keluar dari ruang persidangan.

Seperti diketahui, kedua terdakwa awalnya didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan Pasal yang berbeda. Darwin didakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, sedangkan Yunita dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan hingga menyebabkan korban yang merupakan tante dari terdakwa Yunita meninggal dunia.

Untuk mengelabuhi agar kasus pembunuhan tersebut merupakan aksi pencurian, kedua terdakwa membawa kabur barang-barang berharga milik korban. Antara lain  perhiasan, uang tunai sebesar Rp196 ribu, satu unit mobil Toyota Agya. Namun, tiga hari kemudian, perbuatan mereka berhasil diungkap Polresta Bandarlampung, berkat rekaman CCTV yang terpasang di rumah depan tetangga korban. Pasangan suami istri itu pun dicokok polisi tanpa melakukan perlawanan.