Beranda Views Sepak Pojok Pejuang Dunia Maya

Pejuang Dunia Maya

BERBAGI
"Saatnya Silat Lidah" karya Indrotomo Brigandono (ilustrasi)

Tomi Lebang

Gagah berani itu hebat. Tampil paling depan dengan perkasa itu dahsyat. Menjadi perlambang perlawanan juga sungguh heroik. Tapi itu di dunia nyata sajalah: engkau menjadi pahlawan yang kasat mata, terdepan mengabarkan kebenaran, dengan nyali besar, nyawa berlapis-lapis dan dukungan yang terlihat jelas.

Di media sosial ini — Facebook, Twitter, Path, Instagram dll — heroisme mungkin nyata, tapi keberanian bisa saja hanya bayang-bayang. Jangan terpukau dengan dukungan tak kasat mata dari masyarakat dunia maya. Orang-orang yang membakar nyalimu, mendorong semangatmu, bertempik-sorak atas perlawanan yang engkau kibarkan — itu sebatas dunia maya.

Belajarlah dari Yulian Paonganan. Saat menyindir presiden dengan tanda pagar #papadoyanlonte orang-orang bersorak-sorai, Paonganan sumringah dan membusungkan dada. Lalu ia menantang-nantang: mana berani polisi tangkap gue. Para penggemarnya di dunia maya tampak terpukau.

Lalu seseorang melaporkannya ke polisi. Para penggemar yang sepaham tetap datang ke rumah maya Paonganan. Kurang lebih: maju terus, bung! Kami tidak tinggal diam. Rakyat bersamamu. Bla bla bla …. mereka menitipkan semangat yang membesarkan jiwa.

Saat Paonganan kemudian dicokok dan ditahan, dunia nyata ternyata tak seramai media sosial. Tak ada yang datang, kecuali pengacara yang kemudian ikut tenar. Tak ada orang-orang yang turun ke jalan membentang spanduk, membakar ban, atau menghujat lawan yang memenjarakan Paonganan.

Begitulah tabiat dunia maya. Keberanian, kepahlawanan, dan perlawanan itu nyata, tapi dukungan orang banyak hanyalah bayang-bayang belaka.

Jika nyalimu tak cukup besar, berjuanglah dengan bijaksana.

Contohlah para politisi, di depan kamera mereka bertengkar dan bersitegang, di belakang layar mereka ngopi-ngopi dan ngupil-ngupil bersama.

Selamat berjuang para pahlawan dunia maya. Hati-hati di jalan!

BACA JUGA:

loading...