Beranda Hukum Kriminal Pelajar SMA dan Residivis Ditangkap Polisi Saat akan Bertransaksi Narkoba

Pelajar SMA dan Residivis Ditangkap Polisi Saat akan Bertransaksi Narkoba

BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com 

Kapolsekta Telukbetung Selatan, Komisaris Sarpani saat memperlihatkan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu dan timbangan digital milik  kedua tersangka  Heriyanto (34) seorang residivis dan bandar narkoba dan ES (18) pelajar yang menjadi kurir narkoba, Senin (3/8).

BANDARLAMPUNG – Petugas Unit Reskrim Polsekta Telukbetung Selatan, meringkus pelajar (kurir narkoba) dan Residivis (bandar narkoba) di Jalan Yos Sudarso Gang Kenari I, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumiwaras, Bandarlampung, pada Kamis (23/7) lalu sekitar pukul 21.30 WIB. Polisi menangkap Kedua tersangka, saat akan bertransaksi narkoba dirumah tersangka Heriyanto.

Kedua tersangka yang ditangkap adalah, ES (18) kurir narkoba yang masih berstatus sebagai pelajar SMA dan tersangka Heriyanto alias Sate (34) seorang residivis dan merupakan bandar narkoba. Barang bukti yang disita dari kedua tersangka, empat paket sabu-sabu dan satu buah timbangan digital.

Kapolsekta Telukbetung Selatan, Komisaris Sarpani mengatakan, kedua tersangka yang ditangkap tersebut adalah sebagai bandar atau pengedar dan kurir narkoba jenis sabu-sabu. Tersangka ES yang merupakan sebagai kurir dan pengguna ini, masih berstatus sebagai pelajar SMA di Bandarlampung. Sementara untuk tersangka Heriyanto, adalah sebagai bandar atau pengedar narkoba.

Perwira menengah ini mengutarakan, Tersangka Heriyanto merupakan seorang residivis yang sudah dua kali masuk penjara, yakni dalam kasus yang sama (narkoba) dan terlibat kasus penganiayaan. Heriyanto kembali ditangkap karena kepemilikan sabu-sabu, tersangka sebagai bandar atau pengedar narkoba di wilayah Telukbetung Selatan.

“Heriyanto ini pertama masuk penjara pada tahun 2003 lalu, terlibat narkoba kepemilikan ekstasi. Tersangka menjalani hukuman selama delapan bulan, lalu pada tahun 2013 Heriyanto kembali masuk penjara karena terlibat kasus penganiayaan. Dalam kasus itu, dia (tersangka) menjani hukuman selama 10 bulan,”kata Sarpani kepada wartawan, Senin (3/8).

Penangkapan kedua tersangka, lanjut Sarpani,  atas informasi dan kecurigaan masyarakat bahwa di Jalan Yos Sudarso Gang Kenari I sering dijadikan tempat untuk transaksi narkoba. Dari informasi tersebut, langsung dilakukan penyelidikan dan didapati dua orang tersangka sedang bertransaksi narkoba. Saat itu juga, keduanya langsung dilakukan penangkapan dan penggeledahan.

“Tersangka Heriyanto dan ES, kami tangkap sedang transaksi narkoba dirumah Heriyanto. Saat kami geledah, ditemukan empat paket sabu-sabu siap edar dan satu buah timbangan digital. Saat penangkapan, tersangka Heriyanto sempat berusaha akan kabur melarikan diri. Sehingga kita berikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali untuk menangkapnya,”jelas Sarpani.

Ditambahkannya, kasus ini masih dilakukan pengembangan untuk memburu tersangka lain jaringan dari tersangka Heriyanto yang sudah diketahui identitasnya.

Sementara itu, ES mengaku dirinya masih berstatus sebagai pelajar SMA kelas 3. Saat ditangkap polisi, ia akan mengantarkan sabu-sabu. Namun ia hanya membantu mencarikan sabu-sabu untuk temannya, sabu-sabu tersebut bukanlah miliknya yakni milik Heriyanto. Ia mau menjadi kurir narkoba karena terpaksa, dan sudah kecanduan mengkonsumsi narkoba.

“Karena saya sudah kecanduan pakai, dan tidak punya uang untuk beli sabu-sabu makanya saya mau disuruh sama Heriyanto menjadi kurirnya. Setiap mengantarkan sabu, saya dapat upah uang sebesar Rp 25 ribu dan dapat jatah pakai sabu-sabu. Kalau pakai sabu-sabu baru sekitar dua bulan setengah, ”ucapnya.

Sementara dari pengakuan tersangka Heriyanto, diakuinya bahwa barang bukti sabu-sabu yang disita polisi adalah miliknya.  Dia mendapatkan sabu-sabu itu, dari temannya bernama Enyeng (DPO) yang tinggal di daerah Sumur Batu. ia menjalankan bisnis barang haram tersebut sejak keluar dari penjara pada tahun 2014 lalu. Satu J sabu dibeli ia dari Enyeng seharga Rp 500 ribu, lalu sabu-sabu tersebut dipecah kembali menjadi lima paket.

“Saya masuk penjara untuk ketiga kalinya, pertama saya masuk sel Lapas Rajabasa tahun 2003 karena kasus kepemilikan ekstasi dan menjalani hukuman selama delapan bulan. Kemudian yang kedua, saya masuk penjara lagi karena menganiaya pada tahun 2014 lalu di Lapas Way Hui dan menjalani hukam selama 10 bulan. Yang ketiga, ya ini saya ditangkap lagi sama polisi karena mengedarkan sabu-sabu,”ungkap Heriyanto.

“Pasal yang disangkakan untuk menjerat kedua tersangka, Pasal 114 ayat (1) sub Pasal 112 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara,”tandasnya.