Beranda Hukum Korupsi Pengacara Tersangka Kasus Alkes RSUD Bob Bazar: Klien Kami Bukan Kabur, Tapi...

Pengacara Tersangka Kasus Alkes RSUD Bob Bazar: Klien Kami Bukan Kabur, Tapi Memang Disuruh Tidak Datang ke Polda 

Ilustrasi
Share Thiis
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Linkedin
Share On Pinterest
Share On Youtube

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Dian Hartawan, kuasa hukum Armen dan Joni, tersangka kasus gratifikasi proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) dan kedokteran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar Kalianda, Lampung Selatan,  mengatakan kliennya tidak kabur. Menurut Dian, kliennya memang sengaja tidak datang untuk memenuhi panggilan penyidik Polda Lampung  untuk pelimpahan tahap dua ke Kejaksaan.

“Klien kami bukannya kabur atau tak mau datang penuhi panggilan penyidik. Mereka tidak datang karena adanya suruhan dari seseorang. Jadi mereka ini tidak tahu apa-apa,”ujar Dian saat ditemui di Kejati Lampung, Senin (19/9/2016) sore.

Namun, kata Dian, kliennya selama ini selalu bersikap kooperatif terhadap proses penyidikadan mendatangi Polda Lampung. Dian menolak, jika kliennya tersebut disebut buron (DPO), itu tidaklah benar. Karena selama ini, mereka tidak berusaha untuk melarikan diri.

Ketika disinggung mengenai siapa orang tersebut yang menyuruh kliennya untuk tidak datang penuhi panggilan penyidik, Dian enggan menyebutkan nama orang tersebut.

“Yang jelas ada orangnya. Tidak perlu disebutkan siapa orangnya,”ucapnya.

Menurutnya, Armen dan Joni  tidak ke mana-mana, apalagi melarikan diri. Selama ini, mereka tetap berada di Bandarlampung.

“Selama ini klien kami ada, mereka tidak melarikan diri,”ungkapnya.

Dikatakannya, bahwa dirinya ditunjuk sebagai pengacara Armen dan Joni, baru mulai hari Senin ini setelah diminta  oleh keluarganya. Itu terjadi setelah ada pengalihan kuasa dari pengacara sebelumnya. Selanjutnya, mereka mau datang dan menyerahkan diri.

Terkait kronologi kasus dugaan korupsi proyek pengadaan alat kesehatan RSUD Bob Bazar Kalianda yang merugikan negara Rp 2 miliar,  Dian  mengaku belum mengetahui secara pasti kasus tersebut karena baru ditunjuk sebagai kuasa hukumnya.

“Ya karena masih baru ditunjuk sebagai kuasa hukumnya, jadi saya belum tahu persis bagaimana materi perkaranya yang dilakukan kedua klien kami ini. Yang jelas, aaya akan pelajari dulu seperti apa kasusnya,”jelasnya.

Dari pantauan teraslampung.com di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, tersangka Armen dan Joni menjalani pemeriksaan di ruangan Kasi Pidsus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung mulai sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Tiga tersangka kasus gratifikasi proyek alat kesehatan (alkes) dan kedokteran Rumah Sakit Umum Daerah Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO) datang menyerahkan diri ke Polda Lampung, Senin (19/9/2016) pagi.

Ketiga tersangka tersebut adalah, Armen Patria selaku Direktur RSUD Bob Bazar, Joni Gunawan selaku pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) dan Robinson Sahroni sebagai rekanan. Ketiga tersangka datang ke Mapolda Lampung, didampingi pengacara barunya Dian Hartawan.

“Ya ketiga tersangka kasus gratifikasi proyek alat kesehatan (alkes) dan kedokteran RSUD Bob Bazar sudah menyerahkan diri,”ujar Wadir Reskrimsus Polda Lampung, AKBP M Anwar, Senin (19/9/2016).

Selanjutnya, kata Anwar, penyidik langsung melimpahkan berkas perkara tahap dua dan tersangka ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung.

“Untuk tersangka Robinson, belum dilimpahkan karena masih menunggu dua tersangka lain yang saat ini masih buron (DPO),”ujarnya.

Diketahui, kelima tersangka dugaan kasus gratifikasi proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) dan kedokterasn RSUD Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan senilai Rp 2 miliar dengan nilai anggaran senilai Rp 10 miliar. Para tersangka, ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO).

Ditetapkan mereka sebagai DPO, kata Anwar, karena kelima tersangka tidak memenuhi panggilan penyidik pada saat akan pelimpahan tahap dua.
Surat penetapan DPO tersebut, diterbitkan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung, pada Selasa (13/9/2016) lalu.

Surat penetapan DPO itu, tertuang dalam surat dengan Nomor: DPO/8/IXSubdit III/Ditreskrimsus.DPO atas nama Armen Patria, Nomor: DPO/9/IX/Subdit III/Ditreskrimsus. DPO atas nama Joni Gunawan, Nomor: DPO/10/IX/Subdit III/Ditreskrimsus. DPO atas nama Subadri Tholib, Nomor: DPO/11/IX/ /Subdit III/Ditreskrimsus. DPO atas nama Sutarman dan Nomor: DPO/12/IX/Subdit III//Ditreskrimsus. DPO atas nama Robinsson Sahroni.

BACA JUGA:

loading...