Beranda Lingkungan Perburuan Harimau Sumatera Dinyatakan Menurun, Tetapi Bisnis Kulit Harimau Jalan Terus

Perburuan Harimau Sumatera Dinyatakan Menurun, Tetapi Bisnis Kulit Harimau Jalan Terus

BERBAGI
Harimau Sumatera tertangkap kamera di Talang 11 kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Maret 2009. (Foto: dok WCS)

Oyos Saroso HN | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Meskipun ancaman terhadap habitat harimau sumatera terus terjadi di beberapa daerah di Pulau Sumatera, sebenarnya  masih ada harapan harimau sumatera terus berkembang. Di Lampung, harapan itu ada dengan terus menurunnya aksi perburuan harimau sumatera dalam tiga terakhir ini. Sementara di Jambi, harapan berkembangnya harimau sumatera makin besar dengan adanya program konservasi lansekap harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di Taman Nasional Kerinci Seblat.

Data di Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menunjukkan aksi perburuan liar harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis) di Lampung merosot drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2003 polisi hutan Balai TNBBS mengungkap 13 kasus perburuan harimau, menurun jadi 9 sembilan kasus pada tahun 2004, dan satu kasus pada 2005.

Sebelum tahun 2002 perburuan harimau di TNBBS sangat banyak dan mengkhawatirkan. Menurunnya angka perburuan harimau tersebut tidak lain berkat kerja keras para polisi kehutanan dengan bantuan sejumlah aktivis LSM. Langkah awal yang ditempuh TNBBS adalah dengan me-reidentifikasi titik-titik perburuan liar harimau. Titik-titik perburuan itu kemudian dikategorikan Siaga I dan dilakukan operasi rutin.

Sejauh ini, ada beberapa modus berburu harimau di TNBBS, yakni memasang jerat, menebar umpan yang sudah dibaluri racun, dan ditembak.Untuk menembak harimau, pemburu umumnya memakai senjata api locok. Tetapi ada juga pemburu yang memakai garand.

Meskipun kasus perburuan harimau diyakini menurun, ancaman kepunahan harimau akibat perburuan masih sangat tinggi. Potensi ancaman itu besar karena faktanya harimau masih ada. Pemburu dan pedagang pengumpul organ tubuh harimau di sekitar TNBBS juga masih ada. Kecuali itu, Lampung selama ini dikenal sebagai sumber satwa ilegal untuk mengisi jalur perdagangan Jawa, Bali, dan Sumatera Selatan.

Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sampai sekarang masih ditemukan banyak jerat yang dipasang penduduk untuk menangkap satwa, terutama harimau. Melihat kondisi hutannya yang sudah rusak, jumlah harimau di TNWK dipastikan jauh lebih sedikit dibanding yang ada di TNBBS. Dengan begitu, kuat dugaan jerat untuk menangkap harimau yang dipasang di TNBBS juga jauh lebih banyak.

Tim Polhut TNWK yang melakukan razia pada bulan Januari 2006 menemukan banyak jerat di sekitar kawasan yang berdekatan dengan perladangan penduduk di Jalan Plang Ijo menuju PLG (Pusat Latihan Gajah) Way Kambas. Pada razia tanggal 12 ditemukan 20 unit jerat berupa seling baja. Sedangkan dalam operasi tanggal 14 ditemukan 6 unit jerat, juga berupa seling baja.

Putu, kanit Polhut Resor Plang Ijo, yang memimpin operasi, mengatakan model jerat sekarang lebih sederhana, tetapi sulit diketahui petugas. Dulu, seling baja dipasang menggunakan tegakan pohon sebagai penopang. Jerat yang sekarang, selingnya dipasang di potongan kayu berukuran 1 meter dan ditancapkan.

Lewat cara ini satwa yang terjerat tidak mati melainkan hanya terjebak di rerimbunan pohon yang ada di sekitar jerat karena kayu yang dipasang akan tersangkut di sela-sela pepohonan. Biasanya, ketika terperangkap, paling jauh satwa tersebut bisa pergi dalam radius 50 – 100  meter dari tempat dia terjerat.

Pulau Sumatera merupakan satu-satunya wilayah populasi harimau sumatera hidup bebas di alam. Jumlahnya makin menipis, sekitar 400-an ekor.  Selain perburuan liar, ancaman bagi harimau sumatera adalah konversi habitat harimau sumatera menjadi perkebunan dan permukiman penduduk.

Di tengah-tengah ancaman tersebut, pertengahan Agustus 2006 lalu, ada kabar menggembirakan dari Jambi., yaitu dengan ditetapkannya Taman Nasional  Kerinci Seblat dengan luas habitat sekitar 19.653 km2 dan Bukit Tigapuluh mencakup sekitar 5.417 km2 menjadi prioritas bagi konservasi harimau di Indonesia dan dikategorikan menjadi “tiger
conservation landscapes”
 (TCLs).

Menurut situs WWF Indonesia, penetapan kedua kawasan tersebut merupakan hasil temuan penelitian bersama yang dilakukan oleh World Wildlife Fund (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), the Smithsonian’s National Zoological Park dan Save The Tiger Fund (STF) yang berjudul “Setting Priorities for the Conservation and Recovery of the World’s Tigers 2005-2015″.

Laporan yang diluncurkan di Washington DC pada 20 Juli 2006 lalu, berhasil menganalisis dan membuat skala prioritas untuk habitat harimau diseluruh dunia. Sumatera miliki 2 dari 20 lansekap prioritas pelestarian harimau di dunia.

Kedua lokasi ini diklasifikasikan sebagai prioritas global karena masih menawarkan harapan bagi pelestarian jangka panjang Harimau Sumatera. Setidaknya masih ditemukannya populasi yang terus berkembang serta masih mencukupinya sumber makanan sang harimau. Kedua kawasan yang mencakup hutan tropis and sub-tropis lembab (moist broadleaf) dan hutan konifer tropis and subtropis.ini, relatif sedikit atau kurang mendapatkan ancaman.

Beberapa tahun lalu WWF Indonesia melansir habitat harimau telah menyusut hingga 40 persen dibandingkan 10 tahun lalu. Hanya tinggal sekitar 7 persen dari wilayah jelajah historisnya (historic range) yang masih ditempati harimau sumatera. Teridentifikasi 76 lansekap TCLs yang memadai untuk melakukan konservasi harimau dalam jangka panjang.

Separuhnya masih dapat mendukung 100 harimau atau lebih, sehingga memberikan peluang besar untuk memulihkan populasi harimau liar. Lansekap terbesar terdapat di Rusia Timur Jauh dan India. Asia Tenggara masih memiliki peluang untuk mempertahankan populasi harimaunya, meski banyak kawasan telah kehilangan satwa tersebut dalam 10 tahun terakhir.

Kini, WWF terus berupaya untuk melobi pemerintah dan perusahaan memperluas komitmen terhadap perlindungan kawasan disekitar Tesso Nilo agar harimau memiliki wilayah jelajah yang aman didalam dan diluar taman nasional. Berdasarkan analisis TCL, diindikasikan bahwa lansekap-lansekap pelestarian harimau cenderung mengelompok, sehingga berpotensi membentuk lansekap yang lebih besar jika habitatnya dapat di hubungkan kembali dengan koridor satwa.***

Baca Juga: Mencegah Konflik Harimau dengan Manusia, Menyematkan Harimau dari Kepunahan

 

BACA JUGA: