Beranda Hukum Polda Lampung Tutup Tiga Tambang Batu Belah Ilegal di Lamsel dan Pesawaran

Polda Lampung Tutup Tiga Tambang Batu Belah Ilegal di Lamsel dan Pesawaran

BERBAGI
Wadir Krimsus M Anwar (berkacamata) saat melakukan penutupan tambang batu belah ilegal di Dusun Tungkit Batu, Desa Muara Putih, Natar Lampung Selatan, Rabu (24/8/2016).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Petugas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung menutup tiga tambang batu belah ilegal di Kabupaten, Lampung Selatan dan Pesawaran, pada Rabu (24/8/2016) siang.

“Selama satu bulan ini, ada tiga unit tambang batu belah yang kita tutup. Dua tambang ada di Natar, Lampung Selatan, dan satu tambang lagi di Wiyono Kabupaten Pesawaran,”kata Wadir Krimsus Polda Lampung, AKBP M. Anwar R,  saat melakukan penutupan tambang di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan, Rabu (24/8/2016).

Menurut AKBP Anwar,  dari ketiga tempat tambang ilegal tersebut, petugas menyita sejumlah barang bukti. Salah satunya adalah, eskavator yang digunakan untuk pengeruk tanah mencari batu belah yang diharapkan.

Penutupan tambang ilegal itu berawal ketika Ditkrimsus Polda Lampung menggerebek tambang ilegal di dua tempat berbeda pada Kamis (18/8/2016) lalu sekitar pukul 11.00 WIB dan pada Jumat (19/8/2016) lalu sekitar pukul 14.00 WIB.

“Kami telah melakukan penyelidikan terkait dugaan adanya penambangan batu belah ilegal di wilayah tersebut,”ujarnya.

Setelah dilakukan penyelidikan dan pemantauan, kata Anwar, ternyata benar ada kegiatan dan semua para pelaku atau pemilik tambang itu tidak dapat menunjukkan kelengkapan atau legalitas dokumen dari upaya penambangan batu belah tersebut.

Ketiga pelaku kasus pertambangan batu belah ilegal tersebut adalah: Santoso, melakukan penambangan di Dusun Gunung Rejo Wiyono Kecamatan Gedongtataan Pesawaran; Supardi dan Bahrun, melakukan penambangan di Dusun Tangkit Batu, Desa Muara Putih, Kecamatan Natar Lampung Selatan.

“Ketiganya tidak ditahan karena masih dilakukan pemeriksaan dan pendalaman kasusnya dan meminta keterangan dari sejumlah saksi-saksi dan pekerja tambang,”terangnya.

Menurut Anwa , pihaknya masih akan terus mendalami perkara tersebut guna menemukan kemungkinan adanya tersangka lain.

“Kami sedang berkoordinasi dengan saksi ahli dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung agar lebih jelas tentang perizinan pertambangannya,”jelasnya.

Pasal yang disangkakan terhadap ketiganya, Pasal 158 UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara dengan ancaman hukuman pidana penjara 10 tahun.

Berdasarkan data tambang batu belah di Dusun Gunung Rejo Wiyono Kecamatan Gedongtataan Pesawaran milik Santoso seluas 2.400 meter.

Sedangkan untuk tambang batu belah di Dusun Tangkit Batu, Desa Muara Putih, Kecamatan Natar Lampung Selatan milik Supardi seluas 5.0002 meter persegi dan milik Bahrun seluas 19.206 meter persegi.