Beranda Views Sepak Pojok Reklamasi Pantai Bandarlampung: Siapa Bisa Menolak Kebaikan “Ibu Negara”?

Reklamasi Pantai Bandarlampung: Siapa Bisa Menolak Kebaikan “Ibu Negara”?

BERBAGI
Ini salah satu hasil reklamasi pantai Teluk Lampung yang dilakukan perusahana milik Ayin.

“Siapa sih yang bisa menolak kebaikan ‘Ibu Negara’?” Itulah guyonan di kalangan wartawan di Lampung ketika mendengar kabar inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Minggu malam, 10 Januari 2010 di Rutan Pondok Bambu menemukan fasilitas mewah di kamar tahanan Artalita Suryani.

Guyonan itu menyiratkan satu hal: Artalita, pengusaha asal Lampung yang sering disebut Ayin dan terkenal sapaan “Ibu Negara” di kalangan wartawan Lampung, itu memang orang “baik hati” yang senang memberikan hadiah.

Penangkapan Ayin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan, awal Maret 2008 lalu, memang cukup mengagetkan orang-orang terdekatnya, termasuk para wartawan yang terbiasa menjadikan Ayin sebagai “ATM”-nya.

“ATM” atau automatic teller machine adalah istilah wartawan di Lampung untuk menyebut orang berduit yang royal mengobral uang. Wartawan datang menemui Ayin berarti si wartawan itu akan mendapatkan uang layaknya mengambil uang dari ATM.

Tak hanya wartawan yang dekat dengan Ayin yang menjadikaan Ayin sebagai “ATM”. Para calon kepala daerah di Lampung dan para pejabat yang pernah bertugas di Lampung pun banyak yang merasakan “ATM”-nya Ayin. Namun, ada perbedaan antara para calon kepala daerah dengan para pejabat.

“Calon kepala daerah itu tentu tidak mendapatkan uang secara gratis, tetapi dihitung sebagai hutang. Lain lagi kalau pejabat. Kalau wartawan bisa diberi hadiah ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tentu kalau pejabat lebih besar lagi. Dulu tempat karaoke milik Ayin selalu ramai. Pengunjungnya di antaranya adalah para wartawan dan pejabat pusat yang bertugas di Lampung,” kata seorang mantan wartawan.

Menurut mantan wartawan Lampung itu,  mungkin saja Dirjen Pemasyarakatan Untung Sugiyono tidak mengenal Ayin. Namun, kata dia. karena Untung Sugiyono pernah menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Tanjungkarang, Lampung, pada 1999 membuat Ayin mudah berkomunikasi.

“Ayin memang dikenal sebagai orang yang pandai bergaul dan oleh orang-orang yang dekat dengannya dianggap sebagai dewa penolong,” kata dia.

Ayin rupanya tidak hanya menikmati fasilitas mewah di penjara, tetapi juga masih bisa mengendalikan usahanya di bidang property meskipun ia berada di dalam kamar tahanan. PT Bukit Alam Surya (BAS) yang sempat terhenti aktivitasnya sesaat setelah Ayin ditahan, misalnya, sudah setahun terakhir lebih beroperasi kembali. Buktinya, pembangunan perumahan mewah di Bukit Camang, Bandarlampung, berjalan lagi. PT BAS pada 2010 juga masih mengerjakan proyek Water Front City (WFC) dengan aktivitas melakukan reklamasi pantai atau menimbun pantai Teluk Lampung dengan bebatuan yang dikeruk dari Bukit Camang.

“Meskipun diprotes warga karena penggerusan bukit itu menyebabkan longsor dan banjir, proyek jalan terus,” kata Mukri Friatna, manajer kampanye Walhi.

Water Front City adalah salah satu proyek yang sedang dikerjakan Arthalita Suryani alias Ayin dengan “bendera” PT BAS sejak 2003 lalu. Karena proyek itulah daerah tangkapan nelayan tradisional menjadi berkurang karena 40 hektare pantai di Teluk Lampung ditimbun batu dan tanah.

Di atas timbunan batu dan tanah itu rencananya akan didirikan pusat bisnis terpadu dan pariwisata. Kawasan pantai yang akan direklamasi rencananya 150 hektare dan bakal menyedot dana triliunan rupiah.

Di atas Bukit Camang yang selama ini digerus untuk diambil batunya untuk menimbun pantai, kini sudah berdiri real estate Bukit Alam Surya, sebuah perumahan elite yang dikembangkan oleh PT BAS. Dari atas bukit itu, kota Bandarlampung akan terlihat indah karena orang bisa langsung melihat pantai Teluk Lampung.

Sejak mencuatnya berita di media massa bahwa Artalita alias Ayin ditahan, Perumahan elit Bukit Alam Surya (BAS) yang biasa disebut dengan Gunung Camang dengan luas sekitar 100 Ha milik Artalita Suryani dijaga ketat oleh puluhan keamanan. Tidak seorang pun warga bisa masuk tanpa izin dari satpam.

PT BAS yang sedang mereklamasi pesisir Teluk Lampung juga menghentikan kegiatannya. Wartawan hanya bisa memotet dari jalan raya atau dari belakang Hotel Sahid karena jalan yang menuju perumahan maupun ke perusahaan dipasang plang hingga 4 lapis lengkap dengan penjaga di kanan dan kiri jalan.

Lahir di daerah pecinan di Telukbetung, Bandalampung, 52 tahun lalu, Ayin dibesarkan di lingkungan permukiman Tionghoa, Jalan Slamet Riyadi atau dikenal dengan Gudang Kaleng. Ia adalah putri kelima dari delapan bersaudara (bungsu dari tiga wanita). Ayahnya bernama Susilo (almarhum).

Ketika suaminya (Suryadarma alias Akiong) masih hidup, Ayin adalah ibu rumah tangga biasa. Setelah suaminya meninggal (1996), dia melanjutkan usaha yang digeluti suaminya di bidang properti dan perdagangan. Termasuk juga membantu pamannya, Sjamsul Nursalim (pemilik PT Gajah Tunggal), menangangi perusahaan tambak terbesar di Asia Tenggara, PT Dipasena Citra Darmaja, di Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung. PT Dipasena Citra Darmaja akhirnya menjadi salah satu aset milik Sjamsul yang diserahkan ke BPPN untuk menutup kewajiban BLBI yang mencapai Rp49 triliun.

Kini, tiba-tiba orang kembali ribut soal reklamasi pantai. Polda Lampung hendak membongkar kasus penyimpangannya. Kejaksaan Agung pun tidak mau kalah. Pada Rabu pagi (28/6/2016) tim penyidik Kejagung memeriksa Walikota Bandarlampung Herman HN terkait dugaan penyimpangan perizinan.

“Ini masih tahap awal. Perjalanan (proses hukum) masih panjang,” kata penyidik Kejagung.

Ya. Memang masih panjang dan lama waktunya. Sama seperti lamanya kasus reklamasi pantai yang menggerus merusak bukit dan merusak pantai itu begitu lama sepi perhatian. Lalu, ketika penegak hukum dari pusat datang, publik pun seperti terhenyak: “Ada apa ini? Kenapa banyak yang peduli terhadap reklamasi pantai?” Benarkah alasannya murni demi penegakan huk?

Oyos Saroso H.N.