Beranda Hukum Rekonstruksi Suami Bunuh Istri, Warga Teriak agar Pelaku Dibakar Beramai-Ramai

Rekonstruksi Suami Bunuh Istri, Warga Teriak agar Pelaku Dibakar Beramai-Ramai

BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Warga berduyun-duyun datang ke lokasi rekonstruksi untuk melihat dari dekat cara Hendrik membunuh istrinya, di pinggir Jl. Soekarno-Hatta, Kampung Lubuk RT 04 LK 01, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Panjang, Bandarlampung.

BANDARLAMPUNG – Aparat keamanan menjaga proses rekonstruksi kasus pembuhan Santi Fitri oleh suaminya, Hendrik, dengan sangat ketat. Selain banyak ditonton warga, proses rekonstruksi di tempat kejadian perkara di pinggir Jl. Soekarno-Hatta, Kampung Lubuk RT 04 LK 01, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Panjang, Bandarlampung, Senin (12/10 siang itu kerap diselingi teriakan agar pelaku dibakar saja.

Obong bae! (bakar saja),” teriak seorang warga.

“Ya! Bakar saja!” teriak warga lainnya, sambil menunjuk ke arah pelaku yang sedang melakukan rekonstruksi.

Banyak penonton marah karena pelaku membunuh istrinya dengan sangat sadis. Dalam rekonstruksi itu tergambar, pukulan batu di kepala korban beberapa kali menyebabkan Santi Fitri meninggal dengan posisi kepala terpelintir ke belakang.

Polisi berjaga-jaga di sekitar tempat rekonstruksi pembunuhan Santi Fitri, Senin siang (12/10).

Pantauan teraslampung.com, pada gelar rekontruksi pembunuhan terhadap korban Santi yang dilakukan tersangka Hendrik, ratusan warga setempat dan warga lainnya yang sedang melintas dijalan tersebut tampak ramai berkerumun ingin melihat secara langsung pelaku yang tega sudah
membunuhnya istrinya sendiri dengan kejam.

Ketika tersangka Hendrik datang dengan pengawalan ketat puluhan personel polis bersenjata lengkap, msayarakat yang rata-rata banyak para ibu rumah tangga langsung meneriaki Hendrik dengan teriakan cacian dan makian.

“Huuuu…! Pembunuuh! Muka bertopeng aja loh! Mending ganteng! Sudah
jelek, ngebunuh lagi! Lepasin aja pak polisi orangnya, biar dihajar aja rame-rame sama warga!” teriakan para ibu rumah tangga yang kesal dengan ulah pelaku saat gelar rekontruksi dirumah tersangka.

Tidak hanya itu saja, saat tersangka Hendrik alias Dede dibawa polisi ke lokasi TKP dimana tersangka Hendrik menghabisi nyawa Santi istrinya sendiri dengan cara tragis. Ratusan masyarakat yang sudah menunggu dan berkumpul di lokasi itu, kembali meneriaki pelaku dengan penuh cacian
dan masyarakatpun geram dengan tersangka.

Huuuh! Jorokin bae kuen pelakune seng nduwur tebing! Ben sekalian mampus, sekalian diiket neng rel karo diobong. Uculaken bae pak polisi! Obong bae! Diobong wong seng wes mateni bojone dewek!“teriak seorang perempuan, dengan logat bahasa Jaseng (Jawa Serang).
masyarakat dilokasi TKP yang  menggunakan bahasa daerah itu.

Kerumunan warga melihat proses rekonstruksi pembunuhan Santi.

Pada gelar rekontruksi pembunuhan tersebut, ada sekitar 32 adegan yang diperagakan tersangka Hendrik Dromiko alias Dede yang keseharian sebagai pencari barang bekas (rongsokan) terhadap korban Santi Fitri.

Dari ke 32 adegan yang diperagakan tersangka Hendrik, adegan intinya terjadi pada adegan yang ke 20 sampai ke 25 dimana tersangka Hendrik menghabisi nyawa Santi istrinya sendiri dengan menghantamkan batu sebanyak empat kali.

Batu itu dipukulkan dibagian kepala korban sebanyak satu kali, lalu di bagian wajahnya tiga kali pukulan. Selain dipukul pakai batu, kepala korban juga diplintir hingga akhirnya korban tewas dengan bagian kepala dan wajah remuk akibat hantaman batu.