Beranda News Seperti Raja Jalanan, Puluhan Pemoge Kuasai Jalan Utama Bandarlampung

Seperti Raja Jalanan, Puluhan Pemoge Kuasai Jalan Utama Bandarlampung

BERBAGI
Elanto Wijoyono (kanan), seorang pengendara sepeda tampak berdebat dengan seorang pengendara moge di perempatan Condong Catur, Sleman, Yogyakarta, Sabtu 15 Agustus 2015. (Ilustrasi/ Kartolo).

Zainal Asikin|teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Puluhan pengendara motor gede (moge) berlaku seperti raja jalan raya saat melintas di jalan protokol Kota Bandarlampung, Kamis (25/8/2016) pagi, saat jam masuk kerja dan anak-anak masuk sekolah.

Pantauan teraslampung.com, para pemoge memaksa pengguna jalan lain untuk minggir dan mendapatkan keistimewaan saat melintas di Jalan Teuku Umar, Kedaton, Bandarlampung.

Sepanjang perjalanan mereka tidak hentinya-hentinya membunyikan klakson keras-keras. Suara klaksonnya seperti sirine rotator milik aparata kepolisian. Hal tersebut dilakukan pemoge agar pengendara lainnya memberikan keistimewaan ruang jalan kepada para pemoge tersebut.

Akibat ulah puluhan pemoge tersebut, para pengguna jalan yang saat itu akan berangkat kerja dan orang tua yang akan mengantarkan anaknya ke sekolah, terpaksa harus mengalah dengan menepikan kendaraannya khususnya sepeda motor.

Arizal (36), karyawan yang dipaksa menyinggir pemoge,  mengatakan tindakan pemoge ini seolah-olah jalan yang dilewatinya seperti jalan milik pribadinya sendiri. Arizal mengaku tidak hanya dirinya yang terpaksa harus minggir. Pengendara lain pun juga terpaksa menepi dari jalan raya untuk mencegah tidak terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Padahal, bukan hanya dia (pemoge) yang pengen cepat sampai. Saya juga harus cepat sampai di tempat kerjaan. Begitu juga dengan anak sekolah harus cepat sampai supaya tidak terlambat di sekolahnya,”ujarnya kepada teraslampung.com, Kamis (25/8/2016).

Menurutnya, para pemoge ini terlalu berlebihan saat di jalan raya, apa karena motornya gede dan mahal dan pemiliknya orang yang banyak uang. Mereka seenaknya sendiri, sehingga tidak memikirkan pengendara lain yang melintas.

“Wah mereka ini memang seenaknya Sendiri saja, mentang-mentang pake motor gede (moge) jalan kok diborong. Emangnya pengendara yang lain ini nggak dianggap apa, mestinya polisi juga menertibakan mereka saat berkendara,” katanya.

Yanto (42), warga Bandarlampung yang Kamis pagi hendak mengantarkan anaknya ke sekola, mengaku dirinya sangat menyesalkan tindakan para pemoge. Menurutnya, mere justru mempertontonkan arogansi saat berlalunlintas.

“Ya mestinya mereka ini memberikan contoh yang baik saat berlalu lintas. Tidak harus menyerobot dan membunyikan klakson yang berlebihan suaranya. Saya benar-benar kaget, saya pikir ada apa. Cepat-capat saya pinggirkan motor saya,”ucapnya.

Dikatakannya, semestinya pemoge menjadi contoh untuk pengendara lainnya tertib berlalu lintas, utamakan orang tua dan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah.

“Untung saja mas saya tadi tidak jatuh dari motor, kaget denger suara knalpotnya besar ditambah bunyi sirine. Saya kira polisi ngejar penjahat, atau mobil damkar yang lewat eh nggak taunya bukan,”ungkapnya.

Disisi lainnya, ada beberapa pengendara lainya yang melintas di Jalan Teuku Umar mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak sepatutnya harus dilontarkan. Hal tersebut, mungkin dikarenakan kekesalannya terhadap puluhan pemotor gede yang seenaknya sendiri mengendarai motornya dengan sikap arogan.