Beranda Views Jejak Snouck Hurgronje dan Foto-Foto Jamaah Calon Haji Indonesia Tahun 1800-an

Snouck Hurgronje dan Foto-Foto Jamaah Calon Haji Indonesia Tahun 1800-an

BERBAGI
Jamaah haji dari Lampung pada tahun 1800-an. Foto: dok KITLV -Tropenmuseum)

TERASLAMPUNG.COM — Banyak kisah menggambarkan ibadah haji tempo dulu sebagai perjuangan berat. Perjuangan hidup-mati karena harus menempuh perjalanan jauh, dengan fasilitas minim dan perlu tenaga ekstra. Calon jamaah haji dari Indonesia harus pergi pulang Tanah Suci Mekkah selama berbulan-bulan. Maklum, mereka harus naik kapal laut menuju Tanah Suci, lalu selama di Tanah Suci harus jalan kaki atau naik unta untuk menuju tempat-tempat yang jadi rukun haji.

Zaman dulu tentu juga belum ada kamera secangggih sekarang. Jadi, jangan harap kakek-neneknya kakek-nenek kita alias para leluhur itu saat ibadah haji punya dokumentasi foto bagus.

Jamaah haji dari Lampung pada tahun 1800-an. (Foto dok KITLV -Tropenmuseum)
Jamaah haji dari Bugis  pada tahun 1800-an. (Foto dok KITLV -Tropenmuseum)

Di dunia fotografi, khususnya terkait ibadah haji pada tahun 1880-an, ada tiga nama fotografer terkenal. Mereka bisa disebut sebagai dokumentator pertama ibadah haji untuk para jamaah dari Indonesia. Ratusan dokumentasi foto mereka masih tersimpan hingga kini. Mereka adalah Mohamad Sadiq Bey dari Mesir, Abdul Ghaffar bin Abdul Rahman al Baghdadi dari Mekah, dan Snouck Hurgronje, orang Belanda yang dalam sejarah dikenal dipakai penjajah Belanda untuk menaklukkan Aceh dengan penyamaran sebagai ulama dan ahli Islam.

Kakbah di Mekkah pada tahun 1800-an (Foto: dok Tropen Museum)
Kakbah di Mekkah pada tahun 1800-an (Foto: dok Tropen Museum)

Snouck Hurgronje memakai nama samaran Abdul Ghaffar, kebetulan sama dengan nama fotografer kedua). Ketiga fotografer ini saling kenal. Namun Snouck lebih karib dengan Abdul Ghaffar.

Foto rombongan calhaj Indonesia tahun 1800-an mungkin sudah banyak dipajang internet dan diunduh sejumlah pihak. Itulah foto-foto pertama tentang rombongan calon haji Indonesia saat di Mekah.

Haji dari Banten pada tahun 1800-an ( (Foto: Tropenmuseum)
Haji dari Banten pada tahun 1800-an ( (Foto: Tropenmuseum)

Posenya hampir sama: berdiri, duduk di bangku, jongkok, dalam kelompok kecil, berdasar daerah asal rombongan (dari Sumatra sampai Sulawesi dan pulau-pulau kecil lainnya). Khusus foto calhaj Indonesia, semua hasil kerja Snouck Hurgronje, si “musang berbulu domba”. Hurgronje masuk ke Mekah, membawa peralatan kamera yang lebih canggih (untuk era itu) ketimbang Sadiq Bey dan Abdul Ghaffar.

Berikut foto-foto jamaah haji dari beberapa daerah di Indonesia yang diabadikan ketiga fotografer tersebut dan tersimpan di Tropen Museum, Nederland:

 

 

M. Arman AZ