Beranda Ruwa Jurai Pusiban Soal Merosotnya Harga Singkong, Pemprov Lampung Tunggu Jawaban Presiden

Soal Merosotnya Harga Singkong, Pemprov Lampung Tunggu Jawaban Presiden

BERBAGI
Bupati Lampung Tengah, Mustafa, menyambangi pabrik tapioka untuk mengonfirmasi merosoynya harga singkong, beberapa hari lalu.

TERAsLAMPUNG.COM — Pemprov Lampung masih menunggu tanggapan Presiden Joko Widodo terkait usulan Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo dalam mengatasi merosotnya harga singkong di Lampung dan beberapa daerah di Indonesia.

Kabag Humas Pemprov Lampung, Heriyansyah, mengatakan pada 16 September lalu Gubernur Lampung sudah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo terkait dengan rendahnya harga ubi kayu saat ini.

Menurut Heriyansyah, Gubernur Ridho menyampaikan tiga usulan. Pertama, meminta Presiden menghentikan/mengurangi Kuota Import tepung tapioka guna menjaga stabilitas harga ubi kayu dan tapioka dalam negeri.

Kedua, memberikan wewenang kepada Pemerintah Provinsi Lampung agar dapat membuat kebijakan penentuan Harga Dasar (Floor Price) ubi kayu yang layak bagi petani khususnya di Provinsi Lampung.

“Ketiga, dukungan dari Pemerintah Pusat dalam pengembangan diversifikasi olahan hasil ubi kayu melalui sentuhan Teknologi. Seperti olahan ubi kayu menjadi beras, keripik atau olahan pangan lainnya,” kata Hery, Senin (19/9).

Heriyansyah mengatakan, harga singkong di Lampung  saat ini mencapai harga terendah yaitu Rp 500/kg. Sedangkan harga yang layak diterima petani Rp 800/kg.

“Hal ini menyebabkan petani merugi. Jika dibiarkan, maka akan berdampak meningkatnya angka kemiskinan dan rendahnya kesejahteraan petani, ” jelas Kabag.

Salah satu penyebab merosotnya harga ubi kayu yaitu masuknya impor tapioka dalam jumlah besar.

“Berdasarkan data Impor Tepung Tapioka Nasional BPS, sampai bulan Juni 2016 Indonesia masih mengimpor tepung tapioka sebesar 415.253 ton (US$154.157.928). Harga ini lebih murah jika dibandingkan produksi dalam negeri. Sehingga berpengaruh langsung terhadap harga dan permintaan produksi tapioka, khususnya di Provinsi Lampung,” katanya.

Sementara itu berdasarkan Data BPS 2015, produksi ubi kayu sebesar 7,38 juta ton. Angka Ramalan I (ARAM) 2016 sebesar 7,82 juta ton.

“Produksi ini menempati peringkat pertama Nasional dengan luas panen 298.299 hektar. Rata-rata kepemilikan yaitu 0,6 hektar,” kata Heryansyah.

BACA JUGA: