Beranda News STKGB: PT BNIL Kerahkan Ribuan Orang untuk Demo di Depan Kantor Pemprov...

STKGB: PT BNIL Kerahkan Ribuan Orang untuk Demo di Depan Kantor Pemprov Lampung

BERBAGI
Ketua STKGB Sukirman dan beberapa warga yang lahannya diambil PT BNIL saat di sekretariat AJI Bandarlampung, Rabu (14/6/2016).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Aksi unjukrasa yang mengatasnamakan warga korban perampasan lahan yang dilakukan oleh PT Bangun Nusa Indah Lampung (PT BNIL), pada (8/9/2016) lalu di depan kantor Pemrov Lampung hanyalah rekayasa yang dilakukan oleh PT BNIL sendiri.

“Bukanlah dilakukan oleh warga tergabung dalam Serikat Tani Korban Gusuran BNIL (STKGB), yang lahannya sudah diambil paksa oleh PT BNIL. Aksi demo beberapa hari lalu itu, adalah rekayasa dan setingan. Hal itu dilakukan PT BNIL sendiri untuk memecah massa dan provokasi warga,,”ujar Sukirman saat konferensi pers di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Rabu (14/9/2016),” kata  Sukirman, Ketua Serikat Tani Korban Gusuran BNIL (STKGB),

Menurut Sukirman aksi unjukrasa yang melibatkan hampir seribu orang di depan kantor Pemprov Lampung tersebut sengaja dilakukan oleh pihak perusahaan PT BNIL sendiri. Yakni dengan cara memperalat beberapa warga dari Desa Inderaloka II yang menjadi korban lahannya sudah diambil paksa oleh PT BNIL.

Menurutnya, massa yang berunjukrasa di depan kantor Pemprov tersebut, sengaja dibawa oleh pihak PT BNIL. Perusahaan tersebut menyiapkan beberapa unit mobil untuk pengangkutan massa.

“Sebelum mereka berangkat unjukrasa, kami tahu ada beberapa orang staf PT BNIL yang tergabung dalam perencanaan aksi massa itu,”kata dia.

Sukirman menuturkan, aksi massa yang mengatasnamakan warga Desa Inderaloka II dan Desa Bujuk Agung tersebut, sudah jelas dan sangat tidak realistis. Pada saat bersamaan, seluruh warga Desa Bujuk Agung berjumlah sekitar 2.500 orang yang tergabung dalam STKGB korban lahannya diambil PT BNIL, berada di lokasi lahan sengketa.

“Saat itu kami bersama warga yang tergabung di STKGB, menggelar aksi mendirikan tenda-tenda dilahan sengketa itu untuk menduduki lahan milik kami yang telah diambil paksa oleh PT BNIL,”ujarnya.

Dikatakannya, kedatangan dirinya bersama kelima rekan lainnya di Sekretariat AJI Bandar Lampung, yakni menggelar konferensi pers bersama awak media dan mengklarifikasi, aksi unjukrasa di depan kantor Pemrov Lampung dan mengatasnamakan warga Desa Bujuk Agung itu tidaklah benar. Aksi tersebut, merupakan aksi yang sudah diatur sendiri oleh pihak dari PT BNIL sendiri berusaha untuk memprovokasi dan memecah belah warga.

“Kalau yang ikut unjukrasa itu, mungkin memang ada warga dari Desa Inderaloka II. Tapi mungkin hanya beberapa orang saja, itupun mereka diajak karena ketidaktahuannya siapa yang sebenarnya membawa mereka melakukan unjukrasa,”ungkapnya.

Kalau memang unjukrasa itu ada warga Inderaloka II, kata Sukirman, hal tersebut sagatlah wajar. Mereka juga berhak melakukan aksi tersebut, karena mereka adalah sebagai korban yang lahannya sudah diambil paksa juga oleh PT BNIL.

Dugaannya, mereka diajak ikut unjukrasa, hanya dimanfaatkan oleh pihak PT BNIL untuk memecah belah warga lainnya yang lahannya sudah diambil dengan paksa oleh PT BNIL tersebut, supaya tidak merugikan perusahaan tersebut.

“Untuk warga Inderaloka II yang lahannya sudah diambil PT BNIL, memang tidak tergabung ke serikat kami di STKGB. Tuntutan dari warga Inderaloka kepada PT BNIL, memang tidak sejalan dengan tuntutan kami warga Bujuk Agung di serikat STKGB,”jelasnya.

Tidak sejalannya, saat mereka berdemo menuntut ganti rugi lahan dengan nilai yang sangat kecil dan lebih mengarah ke ganti rugi uang. Sedangkan untuk warga Bujuk Agung korban PT BNIL yang tergabung ke serikat STKGB, tuntutannya lebih menekankan pengembalian lahan.

“Kalau tuntutan kami yang sudah 25 tahun perkara ini tidak selesai, tetap memilih agar seluruh lahan milik warga Desa Bujuk Agung yang sudah diambil paksa PT BNIL agar segera dikembalikan lagi tanpa ada alasan lainnya. Selain itu juga, meminta kepada pemerintah, agar mencabut HGU PT BNIL,”tandasnya.