Beranda Seni Teater Teater dan Dakwah ala Zak Sorga

Teater dan Dakwah ala Zak Sorga

BERBAGI
Pementasan Penghuni Kapal Selam, karya/sutradara Zak Sorga

Apresiasi Pementasan Teater 
Judul: Penghuni Kapal Selam
Gedung Kesenian Jakarta, 21 – 23 Oktober 2014

Oleh Alexander Gebe

Seniman senior, Zak Sorga, memanggungkan naskah Penghuni Kapal Selam. Lakon yang berkisah tentang nasib beberapa orang yang terpaksa menghuni penjara bawah tanah, karena dianggap berbahaya oleh suatu rezim. Didukung belasan pemain, Zak Sorga memperlihatkan kepada penonton tentang hitam putih kehidupan atau tentang terkikisnya iman dan ideologi kebangsaan. Pementasan ini bisa dikatakan sebagai sebuah sikap agar kita kembali pada ajaran agama, dan respon carut-marutnya kondisi politik terkini negeri ini, dan sekaligus sebuah ajakan untuk sama-sama kembali menilik nurani.

Begitulah kesan menonton pertunjukan Penghuni Kapal Selam di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa 21 Oktober 2014. Usai gong ditabuh tiga kali, panggung  yang semula ditutupi tirai merah itu pun terbuka, dan lampu mulai menyala, dan peristiwa demi peristiwa dilangsungkan.

Penghuni Kapal Selam adalah produksi ke-99, Teater Kanvas, kelompok teater asal depok ini. Mereka hadir tidak sekadar mengangkat isu korupsi dan kritik sosial. Namun, ada religiusitas yang terbungkus lewat lakon berdurasi 2 jam, yang strategi pemanggungannya mendekat pada gaya realis itu.

Lakon Penghuni Kapal Selam dari awal hingga akhir  berkisah tentang kondisi psikologis para penghuni penjara yang berasal dari berbagai profesi. Abdul Ghofar, Sang Protagonis,  ditampilkan sebagai sosok yang saleh, religius, penyabar, dan bijak. Dibekali keimanan seseorang yang diuji kesetiaannya saat bertahun-tahun harus mendekam dalam penjaran bawah tanah. Di tempat ia bertemu dengan berbagai sosok, mulai perampok, politikus, tukang bengkel, mahasiswa, mantan pejuang, hingga tukang es.

 Tata panggung tampak sederhana.Ada sebuah jendela kecil, toilet, pintu dari jeruji besi, ember, dan tempat duduk. Tiang-tiang penyangga besar yang tampak kusam dan keropos, angkuh berdiri. Di sudut kanan, ada sebuah tangga kecil untuk menuju ke ruangan atas.

Kapal Selam adalah istilah lain dari penjara bawah tanah, tempat yang dihuni orang-orang yang dinistakan. Mereka harus mendekam seumur hidup di ruangan sempit dan bau busuk itu. Tidak lagi jelas siang dan malam. Tiada lagi harapan. Hamparan sobekan kertas koran menjadikan ruangan tampak  `angker’ bagi setiap tahanan. Suasana mencekam mendorong Penghuni Kapal Selam melakukan refleksi atas kehidupan itu sendiri.

Selama pementasan, selain tokoh utama, ada dua yang menjadi perhatian khusus, yaitu tukang es (Dwi Cahyadi) dan mantan pejuang (Jimmy S Johansyah). Kedua aktor itu membuat suasana yang tegang bisa sedikit mencair. Sang mantan penjuang, misalnya, selalu berpikir untuk melakukan revolusi, sedangkan si tukang es gesit merealisasikan cita-citanya untuk bisa berdagang es kembali. Harapan dan ketakutan tokoh-tokoh dalam penjara,  membuat adegan demi adegan berlangsung menarik, terasa hidup dan mendebarkan. 

Inilah pilihan Zak Sorga dalam peta teater Indoinesia saat ini, bagaimana panggung mencoba menyuarakan kebenaran. Sehingga panggung teater juga bisa dimanfaatkan untuk berdakwah, untuk saling mengingatkan, menjadi cermin dan refleksi bagi pelaku dan penontonnya.

Lakon PKS sesungguhnya lebih bernuansa Indonesia tempo dulu, zaman pemerintahan orde baru hingga reformasi baru digulirkan. Itulah sebabnya jika ditilik dari aspek naskah atau cerita, Penghuni Kapal Selam sesungguhnya telah kehilangan konteksnya di masa seperti ini, jadi beberapa dialog dan laku aktor kerap masuk kategori klise, sebab pada kenyataannya (sekarang) setiap orang nyaris bebas mengatakan apa saja. Apalagi sepanjang pementasan terlalu banyak dialog yang serupa jargon dan ujaran-ujaran untuk kembali pada kebenaran. 

Dari aspek pemanggungan, jika merujuk pada Metode Stanislavski, masih ada beberapa adegan yang tampak kaku dan belum akurat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa masih ada jarak antara aktor dan teks. Arti yang lain mungkin masalah yang diangkat belum sungguh-sungguh menjadi persoalan atau kegelisahan aktor. Hal ini mempengaruhi  aspek penokohan, jarak antara peran dan aktor masih kentara. Dengan begitu laku belum berhasil disuguhkan oleh setiap pemain dengan tepat. Barangkali karena belum menjadi laku yang terus-menerus mereka hidupi dalam kesehariannya, sehingga tampak masih canggung dan kaku. 

Akibatnya peristiwa belum berlangsung dengan lancar, belum mengalir, kadang terasa terseok-seok, seperti laju bus yang kelebihan muatan di sebuah tanjakan. Sementara aspek kepaduan dan kesatuan saya kira sudah dihadirkan dengan baik. 

Dialog-dialog atau peristiwa panggung yang diniatkan untuk menghadirkan ironi ada yang sudah mengena, ada yang kurang mengena di hati penontonnya. Mungkin lantaran penokohan  yang terlampau hitam putih. Tokoh yang memperjuangkan seolah hanya soal kebenaran versus kezaliman. Hal tersebut, membuat masing-masing tokoh tidak memungkinkan untuk sampai pada puncak kompleksitas dalam pemeranannya.

Seluruh pesan memang sudah sampai ke penonton, sesekali mereka juga tertawa karena lelucon yang dihadirkan. Tapi aspek emosional atau impuls atau aspek rasa, yang sumbernya adalah penghayatan aktor di panggung tampak belum optimal. Sementara irama pertunjukan kurang tertata dengan baik. Masih ada beberapa bentuk yang gagal keluar dari klise. 

Namun, apresiasi yang tinggi saya sampaikan untuk pementasan dan kinerja senior saya, Zak Sorga ini. Ia mampu menghadirkan realitas yang mestinya bisa menjadi cermin bagi penontonnya. Proses yang tiada henti dalam teater. Kebenaran yang terkubur dan tetap harus diperjuangkan. Kita terpenjara.

Setelah pentas di GKJ, Teater Kanvas akan pentas keliling Penghuni Kapal Selam di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra, pada November hingga Desember ini. Sukse dan Selamat untuk seluruh tim Teater Kanvas yang kian identik dengan unsur religiositas dan kritik sosial. 

BACA JUGA: