BERBAGI
Penggusuran di Jakarta (dok merdeka.com)

Siang kemarin (27/9/2016) saya mengunjungi Sanggar Ciliwung, sebuah komunitas pendidikan yang bertahun-tahun setia mendampingi anak-anak dan masyarakat miskin di bantaran Kali Ciliwung. Beberapa rumah telah dirobohkan. Sejumlah orang tampak membongkar rumahnya. Di sekitar sanggar rumah-rumah masih berdiri. Muram dan sepi.

Suara jimbe, alat musik perkusi, yang dimainkan beberapa remaja di dalam sanggar tidak mengusir sunyi. Dari dalam sanggar terlihat Kali Ciliwung yang sudah tidak saya kenali lagi. Badan sungainya telah dbeton. Sungai ini telah berubah mirip selokan dan tidak lagi meninggalkan kenangan akan kehidupan.

Sebagai orang yang lama bergelut dalam dunia pendidikan, Sanggar Ciliwung merupakan salah satu komunitas pendidikan yang saya kagumi. Saya tidak pernah kehilangan hormat dan kekaguman pada Romo Sandyawan Sumardi meski bukan romo lagi. Hanya orang-orang buta nuraninya yang mengingkari kerja-kerja Sandyawan dalam kemanusiaan yang telah dijalaninya puluhan tahun. Ciliwung Merdeka salah satunya.

Sewaktu Jokowi-Ahok terpilih memimpin Jakarta,saya sempat berharap Sanggar Ciliwung akan menjadi model dan diduplikasi di kantong-kantong kemiskinan di ibukota. Meski selintas, saya pernah berinteraksi dengan anak-anak Ciliwung. Anak-anak itu tinggal di kawasan kumuh, tetapi mereka bisa datang sewaktu-waktu ke sanggar, untuk sekedar membaca buku, bermain musik, atau belajar bersama.

Pendidikan dalam komunitas itu kini kita tinggalkan. Padahal selain keluarga, pendidikan dalam komunitas, paling penting dalam membangun manusia yang utuh –bukan sekolah. Pentingnya pendidikan dalam komunitas ini juga ditekankan oleh Ki Hadjar Dewantara tetapi sungguh kita abaikan.

Sepuluh tahun lalu, saya pernah mengajak anak-anak Ciliwung mengadakan perkemahan di Situ Gintung, Tangerang Selatan, bermain sambil belajar menulis. Interaksi itu makin menambah kekaguman saya pada Sanggar Ciliwung. Betapa terlihat jiwa kepemimpinan anak-anak remaja yang mau menginjak dewasa. Salah satu remaja itu kini sudah selesai belajar bahasa Inggris dan bekerja di bidang manajemen.

Siang kemarin beberapa aktivis dan relawan Ciliwung Merdeka berkumpul di sekretariat membahas situasi terakhir. Belasan jumlahnya. Beberapa tampak kelelahan, beberapa tampak lesu dan putus asa. Sesekali ada senyum dan tawa.

Bersandal jepit, mengenakan kemeja batik cokelat tua dan topi pet hitam, Sandyawan mencoba meyakinkan anak-anak muda itu untuk tidak menahan penggusuran yang akan segera dilakukan. Menghadang penggusuran, bahkan tanpa kekerasan sekalipun, saat ini sangat berbahaya.

Kabar kapan penggusuran permukiman di bantaran Ciliwung terus berubah. Berhari-hari warga didatangi intel, polisi, satpol PP, aparat RW dan kelurahan. Intimaidasi bertubi-tubi, termasuk dari warga sekitar.

Informasi terakhir Rabu pagi ini, jam.07.00, penggusuran akan dilakukan.

“Silakan digusur. Kami tidak akan menahan penggusuran,” kata Sandyawan.

Sekitar 100 KK warga Bukitduri mengajukan gugatan class action PN Jakarta Pusat. Dalam putusan sela baru-baru ini warga dinyatakan sah menurut hukum dan sidang bisa dilanjutkan. Sebelumnya gugatan warga atas proyek sodetan Ciliwung juga ke PTUN Jakarta juga dimenangkan. Akan tetapi hukum tidak berlaku bagi penguasa kota. Sebagai jawaban, penguasa kota justru mengeluarkan SP3 kepada warga untuk membongkar sendiri bangunannya.

Penggusuran terhadap permukiman di Bukitduri tidak masuk akal justru karena dilakukan pada saat Jokowi-Ahok berkuasa. Kedatangan Jokowi-Ahok, janji mereka untuk tidak menggusur, membuat masyarakat – tidak hanya di ibukota Jakarta – bersimpati pada pasangan itu. Ahok pernah beberapa kali ke Ciliwung. Ia beberapa kali berdialog dengan Ciliwung Merdeka dan bahkan sepakat untuk membangun kampung rumah susun. Tiba-tiba saja Ahok, seperti dikutip Merdeka.com, pembangunan itu dibatalkan karena ditolak warga. Ahok bisa bilang begitu setelah sejumlah warga dibujuk rayu dan diintimidasi untuk segera pindah ke rumah susun Rawabebek.

Sandyawan bercerita tentang seorang anak yang dididiknya sejak kecil kemudian direkrut menjadi intel, membawa pistol dan memprovokasi warga. Ia bercerita tentang murid-muridnya yang menjadi pengendali tim sukses Ahok-Jarot yang ikut mendiskreditkan perjuangan warga Ciliwung. Ia bercerita tentang berita-berita Kompas yang terus-menerus menyerang dirinya. Saya mencoba mencari informasi mengenai ini, siapa wartawan dan editor desk metro di koran tersebut, dan sayapun sangat memakluminya. Sandyawan menceritakan semua itu dengan datar, menahan emosinya, meski saya lihat juga, di balik kacama, matanya berkaca-kaca.

Meski warga mulai menyingkir, intimidasi tidak berhenti. Seorang warga yang telah mengontrak rumah tidak jauh dari lokasi yang akan digusur didatangi gerombolan Ketua RW, satpol PP, dan sejumlah aparat kepolisian.

Mimpi lahirnya penguasa yang jujur, baik, dan berpihak pada orang-orang miskin selesai di sini.

Hari ini kawasan permukiman di bantaran kali Ciliwung akan digusur. Sanggar Ciliwung, komunitas pendidikan dan kebudayaan yang memanusiakan orang-orang miskin akan dirobohkan. Mereka lupa bahwa kekuasaan tidak abadi.

Bambang Wisudo,
pegelola Sekolah Tanpa Batas

LEAVE A REPLY