Beranda Views Kopi Pagi (Tidak) Ada Setan dalam Pilkada

(Tidak) Ada Setan dalam Pilkada

BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Pada zaman kegelapan, Pemilu di Negeri Sebelah selalu dimenangkan oleh Partai Kuda Sembrani. Itu karena semua rakyat Negeri Sebelah — ┬ásadar atau tidak– terserang sindrom penyakit akut: takut berbeda, takut dimutasi, dan ngeri disebut ‘kumunis’. Maka, tiap musim Pemilu datang, pesta yang digelar pun serupa perayaan tujuhbelasan. Kampanye adalah sebuah keramaian yang diyakini tidak selaras dan sebangun dengan suka cita di bilik suara.

Dulu, tiap musim Pemilu datang di Negeri Sebelah, di banyak kampung ada pemandangan seperti ini:

“Para bapak, para ibu, mbak, mas, kakak, kakek, nenek,dan adik-adik semua…. kita sepakat ya Partai Kuda Sembrani menang lagi?!” teriak Pak Lurah Gombal.

“Seng tuju!” pekik Pak Carik Mukidi.

Maka, warga pun tepuk tangan tanda setuju.

Lalu, ketika saat pencoblosan dimulai, suara dikumpulkan, dikirim ke kecamatan, lalu ke kabupaten, nasib suara itu bisa jadi tak jelas. Misalnya, di Kampung Waru Doyong ada 100 suara pemilih Partai Kuda Sembrani, 200 suara pemilih Pucuk Rebung, dan 20 suara pemilih Partai Jaran Goyang, maka ketika dihitung di kabupaten hasilnya bisa berubah 183, 5 derajat. Ya: Partai Kuda Sembrani menang dengan 304 suara!

Yang lebih sadis lagi, ada banyak kampung yang pemenang pemilunya sudah diketahui sejak jauh hari sebelum pemilu digelar. Itu karena semua pemilih di banyak kampung itu diwakili oleh Setan. Seorang Setan bisa mencoblos banyak kali untuk menggantikan  ratusan warga kampung. Hal itu dilakukan demi kemenangan Partai Kuda Sembrani dengan kemenangan yang gilang gemilang.

Cerita serupa itu konon juga terjadi di Indonesia ketika era reformasi begulir dan pilkada langsung digelar.

Konon menurut sahibul cerita, ada sebuah kabupaten di pojok Indonesia, pemenang pilkada sudah diketahui sejak jauh hari sebelum pencoblosan. Itu karena salah satu calonnya adalah pejabat lama (baca: petahana atawa incumbent) yang punya modal duit sak hohah (baca: uangnya banyak sekali sampai ratusan miliar rupiah).

Petahana bisa menang karena bisa berkongsi dengan penyelenggara pemilu lewat perantauaan Setan yang bisa men-sim-salabim suara. Meskipun di hampir semua TPS dimenangkan oleh calon penantang, ketika suara itu dihitung ulang di kantor penyelanggara pemilu maka pemenangnya adalah petahana yang terkenal sebagai juragan duit. Memang ada sedikit protes dari calon penantang. Namun, protes itu kemudian senyap. Mungkin karena sang penantang takut. Mungkin juga karena sang penantang tidak mau capek lantaran sudah tahu bakalan kalah jika berusukan hukum melawan petahana.

Begitulah pilkada kerap berlangsung, di berbagai sudut Indonesia, dengan kebarbarannya sendiri.

Situasi itu berubah ketika penyelenggara Pemilu (juga Pilkada) kian terbuka dan semua rakyat bisa mengawasi lewat teknologi intenet. Hasil penghitungan suara di TPS sudah bisa dilihat di KPU hanya dalam hitungan jam. Setan-setan paling sakti pun ngacir karena tidak bisa bermain memenangkan calon tertentu.

Dengan keterbukaan semacam itu, saya yakin setan benar-benar tidak ada dalam Pilkada. Termasuk dalam pilkada serentak yang digelar di Lampung dan banyak daerah lain di Indonesia. Namun, tentu saja, ini hanyalah prediksi saya. Entah kenyataannya betul atau tidak.

Ya, setan mungkin tak ada pada saat penghitungan suara. Tapi siapa tahu gerombolan setan itu menjelma bentuk lain beberapa hari sebelum hari pencoblosan, di sela-sela acara tabur duit dan sembako….