Beranda News Pilgub Lampung 10 Keanehan dan Kelucuan Pemilihan Gubernur Lampung 2018

10 Keanehan dan Kelucuan Pemilihan Gubernur Lampung 2018

2966
BERBAGI
Debat Publik Pilgub Lampung,7 April 2018

TERASLAMPUNG.COM — Sejak 2014, Pemilihan Gubernur Lampung selalu aneh dan lucu. Keanehan dan kelucuan itu kerap tidak disadari warga Provinsi Lampung. Bahkan, tak jarang keanehan itu kerap dianggap wajar atau justru menguntungkan.

Berdasarkan pengamatan lapangan dan data yang kami himpun, setidaknya ada 10 keanehan dan atau kelucuan dalam Pilgub Lampung 2018 (juga Pilgub Lampung 2014).

1.Pemodal Besar Tidak Pernah Tersentuh dan tidak Muncul ke Permukaan

Sejak bakal calon gubernur melakukan sosialisasi dan belum mendapatkan pasangan yang melaju di Pilgub, cukong besar sudah membiayai sosialisasi bacagub.Aneka hiburan seni tradisional Jawa dan Bali (wayang kulit dan wayang bali) digelar, hadiah sapi, kambing, sepeda motor, mobil,dan uang tunai ditabur. Dari sosalisasi saja setidaknya bisa ada puluhan pentas wayang kulit berhadiah puluhan bahkan mungkin sampai ratusan sepeda motor. Ada juga banyak acara jalan sehat dengan hadiah mobil,aneka alat elektronik, dan uang tunai.

Anehnya, hingga akhir sosialisasi hingga akhir menjelang Pilgub sang pemodal tidak pernah dimunculkan.

2. Suap untuk calon pemilih berupa sarung dan jilbab disebut sebagai alat peraga

Ini adalah keanehan superlucu yang dilindungi oleh aturan KPU. Sebab, KPU memang punya aturan yang menyebutkan bahwa sarung dan jilbab masuk dalam kategori alat peraga asal nilainya tidak sampai Rp100 ribu.

BACA: Sarung dan Pilgub Lampung yang Banal

3. Wartawan menjadi tim sukses 

Ini adalah cerita lama dan konon banyak terjadi di banyak daerah: wartawan mejadi tim sukses paslon tertentu. Sebenarnya tidak aneh dan lucu jika si wartawan berhenti sementara dari profesi wartawan. Runyamnya adalah ketika si TS yang wartawan itu menjadikan medianya sebagai corong paslon yang didukungnya.

Selain fenomena wartawan menjadi tim sukses, ada juga fenomena wartawan menjadi pemandu sorak. Misalnya dengan cara rajin membagikan tautan tentang paslon yang didukungnya dan akan marah jika ada kawan yang berkomentar miring atau sinis.

Profesi wartawan dilindungi Undang-Undang dan dunia pers memiliki UU Pers karena profesi ini bekerja untuk untuk kepentingan publik. Sebab itu, seharusnya wartawan dan media netral dan tidak mendukung salah satu paslon.

4. Dana kampanye cagub-cawagub tidak diketahui publik

Selama ini dana kampanye yang dimiliki oleh paslon cagub-cawagub tidak diketahui publik. Memang ada jumlah rupiah yang tertera di data base KPU Lampung (bisa dilihat di situs KPU Lampung). Namun,jumlah itu diragukan.

5. Ada paslon merasa dianiaya

Ini juga termasuk kelucuan yang tak perlu ditertawakan. Baru-baru ini ada paslon yang merasa mereka dianiaya oleh pihak tertentu terkait dengan penangkapan sarung dan jilbab. Disebut lucu karena paslon ini bukan jenis paslon miskin. Faktanya mereka adalah paslon terkuat soal dana dan tidak akan pernah diotak-atik sumber dananya oleh Bawaslu (mana berani Bawaslu mengotak-atik?!).

Faktanya, kini sarung dan jilbab itulah plus uang Rp 50 ribu atau Rp60 ribu yang dijadikan alat untuk menyogok calon pemilih.

Tetapi tenang…. sogokan dengan sarung dan jilbab tidak melanggar aturan menurut KPU…

6. Debat publik paslon seperti tontonan tonil

Para paslon cagub-cawagub mengikuti debat publik di hotel berbintang yang biayaya dipastikan mahal. Namun, penampilan para kandidat di panggung debat seperti pemain tonil – sandiwara rakyat Betawi yang berkembang sejak zaman kolonial- yang sedang beraksi. Paslon memaparkan visi misi dalam waktu singkat, ditanggapi paslon lain dengan singkat. Ada lucu-lucuannya juga. Misalnya lontaran kata kunci untuk memancing reaksi spontan paslon. Alhasil, penonton tergelak-gelak ketika ada cagub yang tidak tahu e-comerse.

BACA: Bagikan Uang, Kepala Pekon Betung Tanggamus Dilaporkan ke Panwas

E-comerse? Apa pentingnya bagi rakyat Lampung yang sebagian petani kampung dan hidupnya masih kembang kempis? Cukuplah itu menjadi pengetahuan umum saja.

7. Pilihan bisa berubah karena sarung, jilbab,dan uang Rp50 Ribu

Menurut hasil sejumlah lembaga survei, calon pemilih di Lampung masih banyak yang permisif terhadap politik uang. Hanya diberi uang recehan saja (Rp 50 ribu) pilihan bisa berubah. Kalau sarung dan jilbab harganya masing-masing Rp 25 ribu, berarti Rp 100 ribu sudah bisa mengubah jumlah suara.

Pembagian sarung,jilbab, dan uang receh sudah mulai masif sejak seminggu sebelum tanggal 27 Juni 2018.

8. Mesin partai mogok 

Kalau dicermati lewat aktivitas kampanye dan berita di media massa dan medsos, ada paslon yang mesin partainya mogok. Beberapa pentolan partai sama sekali tidak bergerak menyosialisasikan dengan alasan tidak suka dengan paslon yang ditetapkan DPP partai. Lucunya, sang paslon gencar disosilisasikan oleh para tim sukses tak resmi (tidak terdaftar di KPU). Bisa diyakini, kalau paslon ini kalah para pentolan partai akan diberi sanksi oleh bos DPP. Jika paslonnya menang, boleh jadi para pentolan partai yang mogok akan segera merapat dan mengaku sangat berjasa memenangkan sang paslon.

9. Cawagub lebih mendominasi kampanye dibandingkan cagub

Pilgub Lampung 2018 diwarnai drama tragedi yang membuat cagub yang diusung Nasdem dan PKS harus diantar ke tahanan KPK. Akibatnya, pertarungan menjadi kurang seru dan terlihat tidak fair. Mustafa sang bupati muda yang terkenal dengan program ronda dan sudah punya relawan hingga tingkat desa itu tidak bisa berbuat apa pun justru saat Pilgub akan memasuki masa kampanya. Akibatnya, cawagub Ahmad Jajuli sendirian yang harus ikut debat publik dan blusukan untuk kampanye. Runyamnya lagi, banyak pendukung yang pelan-pelan menyingkir. Media pun sangat jarang memuat berita kampanye Ahmad Jajuli.

BACA: Beda Piala Dunia dan Pilgub Lampung

10. Para Paslon ikut deklarasi pilkada damai dan menolak money politic,tetapi money politic terlihat telanjang di depan mata

Sejumlah deklarasi pilkada damai dan anti politik uang (money politic) digelar KPU Lampung, Bawaslu Lampung, dan Polda Lampung. Para cagub-cawagub hadir pada deklarasi itu dan menyetujui isi deklarasi. Mereka sepakat pilkada (pilgub) berlangsung secara damai dan tidak ada politik uang.

Faktanya: pilgub tidak damai karean politik uang sangat marak. Maraknya politik uang itu tidak mungkin tidak diketahui oleh paslon. Artinya, mereka memang setuju calon pemilih harus disogok biar menang Pilgub.

TL/Dewira/Rama Pandu SM/Oyos Saroso H.N.