Beranda Kolom Sepak Pojok Pendidikan Orang Tua

Pendidikan Orang Tua

125
BERBAGI

Handrawan Nadesul*

Seorang pengamat pendidikan Australia pernah bilang, lebih sulit mendidik antre ketimbang mengajari matematika. Ungkapan ini ingin menegaskan sosok pintar tapi kurang santun. Bahwa isi kepala saja tidak cukup kalau kelakuan tidak sopan, tidak tahu aturan, dan tak punya budi pekerti.

Lalu lintas di suatu negara bisa menjadi cerminan seperti apa etika dan etiket suatu bangsa. Berkendaraan tidak mengindahkan orang lain, baku serobot, melanggar rambu, menyenggol kendaraan orang lain tanpa merasa bersalah, itu semua pemandangan bagaimana etika dan etiket publik betapa tidak eloknya. Menyeberang jalan seenaknya, misalnya.

Saya pernah menyaksikan di Singapura, yang belakangan saya tahu itu orang Indonesia, yang menyeberang jalan sembarangan ketika lampu belum mengizinkan. Seorang Singapura neyelutuk, kalau itu kurang beradab. Bukan jarang kita melihat orang berjas berdasi menyelak sewaktu antre, merokok seenaknya di dalam bus, di ruang tunggu, di depan anak dan ibu hamil. Pramugari pesawat mengumumkan belum boleh mengaktifkan HP sampai sudah turun pesawat, namun banyak penumpang sudah berbicara di HP, bahkan menjelang pesawat lepas landas pun. Perbuatan tak elok tak senonoh bukan saja bikin orang lain tidak nyaman, terlebih bisa merugikan, membahayakan orang lain. Termasuk berkendara melawan arah.

Tengok pula cara kita berdebat di muka umum, cara berbicara, cara menyampaikan pendapat, juga acap terlihat kurang mengindahkan etika dan etiket. Sikap-pikir-laku para penyelenggara negara, cara mereka berpolitik, cara kita berdemokrasi bukankah juga abai pada tata-krama, terasa kurang elok di mata publik.

Tak luput kita bisa melihatnya di ruang FB, kita merasakan ada saja posting, cara kita berkomentar, dan memberi respons ada saja yang terasa kurang elok dilakukan oleh orang yang sudah bukan kanak-kanak lagi.

Kalau usia kanak-kanak berbuat tak elok masih bisa ada yang mengingatkan, dan meluruskan tingkah laku dan perilaku agar lebih beradab. Kita tahu begitu galibnya tujuan setiap pendidikan, membentuk insan beradab lebih dari sekadar mengisi kepala. Itu maka sekolah perdana menjadi sangat penting bagi setiap anak. Di sekolah perdana itulah anak dibentuk supaya tertanam menjadi insan yang beradab. Internalisasi nilai secara utuh dan penuh tertanam sejak awal kehidupan, dan menjadi terlambat kalau baru dimulai setelah sekolah lanjutan, ketika kepribadian anak sudah tercipta secara keliru.

Namun bagaimana kalau perkeliruan itu, kalau yang berlaku tidak elok itu orang yang sudah bukan usia kanak-kanak lagi, mereka yang sudah dewasa? Siapa yang mengingatkannya? Apalagi kalau orang yang sudah dewasa itu orang berkedudukan berjas berdasi. Apalagi kalau mereka pejabat negara, penyelenggara negara, wakil rakyat? Siapa mengingatkan mereka?

Di situ masalahnya. Apakah masyarakat kita sudah berani menegur bila di tempat umum ada yang berlaku bersikap tidak elok? Penghakiman massa di kita sekarang ini baru terhadap perbuatan kriminalitas, maling, copet digebuki ramai-ramai. Namun yang merokok di tempat umum, yang menyelak antrean, belum semua masyarakat berani dan abai untuk menegurnya.

Sudahkah semua sekolah perdana kita, setidaknya di sekolah dasar melakukan pembentukan nilai etika dan etiket? Saya kira belum sepenuhnya melihat sebagian besar masyarakat kita di tempat-tempat umum yang kurang elok sikap-pikir-lakunya. Bertika beretiket juga bagian dari tugas asuhan orangtua, selain kewajiban sekolah, dan fakta yang bisa anak lihat di masyarakat.

Bagaimana elok orang Jepang beretika dan beretiket kita bisa menyaksikannya sekarang. Sejak kecil anak sekolah begitu hormat kepada orang yang lebih tua, terhadap siapa saja. Lihat saja anak sekolah menundukkan kepala kepada sopir setiap selesai turun dari bus sekolah. Sikap hormat juga terlihat di hadapan publik. Saya pernah bertanya kepada seorang tour guide di Jepang kenapa tidak terdengar orang Jepang tertawa lepas di muka umum? Jawab si tour guide, karena tertawa di muka umum dinilai tidak elok. Mungkin bisa berarti kita menertawakn orang yang sedang bersedih berduka. Di Jepang juga orang tidak menggunakan HP seenaknya di tempat umum. Kita tidak mendengar HP berdering di tempat umum, tidak pula mendengar mereka bicara keras. Kalaupun harus menerima HP, mereka hanya seperti berbisik. Tidak mau mengganggu kenyamanan orang lain. Padahal kita tahu aspek agama orang Jepang tidak menonjol amat, tapi mereka insan yang santun, insan yang elok.

Harus dikatakan bahwa kondisi masyarakat kita benar sedang krisis nilai, bukan dekadensi moral, karena bukankah lantaran terlebih sebab memang tata nilai tidak ditanamkan dalam pendidikan. Orangtua belum tentu beradab seperti itu kalau mereka juga tidak mengenyam bangku sekolah. Kalangan elite juga belum tentu menganggap penting internalisasi nilai.

Demikian pula sekolah umumnya lebih mengejar pengisian kepala ketimbang menanamkan tata nilai. Bahwa kalau kemudian anak didik menjadi manusia yang hanya mengejar duniawi, itu karena sekolah hanya menciptakan anak didik yang cerdas menjadi mesin pencetak uang semata. Itu pula mengapa kemudian mereka melihat segala sesuatu sebagai harga, bukan sebagai nilai akibat keliru orientasi pendidikan, saya kira. Menghargai orang dari merk baju, merk mobil, dan seberapa kaya yang dimilikinya, bukan seperti apa kepribadian dan isi kepalanya.

Pembangunan karakter harus memutihkan semua kekurangan yang selama ini kita lakukan dalam mendidik anak sekolah. Lalu berapa banyak yang terluput pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak mengenyam bangku sekolah. Lalu masalahnya kini, kalau seseorang menjadi manusia yang kurang beradab tak elok bagi orang banyak, bagaimana kita melakukan koreksi untuk memutihkannya. Apakah perlu pendidikan bagi orang dewasa, bahkan bagi orangtua?

Singapura dulu di awal pembangunannya melakukan pendidikan bagi masyarakatnya untuk berdisiplin dengan mesin (Saya pernah menulis di Kompas ihwal itu puluhan tahun lalu). Dengan mesin masyarakat diajarkan patuh melakukan segala sesuatu yang elok supaya tertib di tempat umum, dengan ganjaran hukuman denda. Ternyata berhasil. Semua patuh tidak buang sampah, tertib di jalan raya, di tempat umum, karena terpaksa pada awalnya, namun lama-lama mampu mengubah kebiasaan jeleknya, tumbuh kebiasaan yang tadinya kurang beradab kurang eloknya menjadi lebih elok sebagai manusia.

Kita miris menyaksikan begitu banyak saudara kita yang sikap pikir lakunya kurang elok sebagai insan dari sebuah bangsa yang besar, bangsa yang dikenal ramah, namun tak sedikit tak jarang bikin saudara sebangsanya sendiri merasa tidak nyaman dengan serba ketidakelokannya itu.***

* Dokter dan  Penyair