Beranda Views Opini 12 Kandungan Lauh Mahfuz

12 Kandungan Lauh Mahfuz

119
BERBAGI

Hari ini (31 Desember 2013), di Tanah Suci Mekkah Al Muqaromah, sedang diadakan pembahasan Keberadaan Lauh Mahfuz. Di dalam Alquran tercatat 16 kali Lauh Mahfuz disebutkan. Perlu dipahami Lauh Maffuz sebagai berikut:  Pertama, blue print ( rancangan ) Tuhan yang NYATA (QS 27:75) tentang semesta alam yang sangat dinamis, karena menyangkut QADAR, yang dapat berubah karena ikhtiar manusia dan kehendak-Nya.

Bila dianalogikan bahwa alam semesta sebagai komputer tiga dimensi Tuhan, maka Lauh Mahfuz adalah Soft Ware ( perangkat lunak ) dan Program isiannya.

Dua, rancangan tersebut lahir karena hikmah dan kehendak-Nya, dengan demikian diciptakan beralaskan KONSEP* yang TERPELIHARA (QS 56:78) untuk mengatur kehidupan yang terjadi di semesta alam.

Tiga, Tuhan yang maha kuasa dengan kemampuan-Nya yang tak terhingga, tentu dapat berbuat apa saja, dan pasti yang diperbuat bukanlah kesia-siaan yang tiada bermakna.

Empat, KONSEP yang mengatur kehidupan tersebut merupakan catatan yang ghaib, yang berada diluar alam kehidupan dan kemampuan manusia untuk menjangkaunya, kecuali atas sebagian yang dapat dikenali/dijangkau dengan seijin-Nya, yang harus dimaknai bahwa Tuhan telah menunjukkan sebagian tanda-tanda kebesaranNya.

Lima, KONSEP tersebut meliputi pengaturan yang bersifat jasmaniah yang berupa ujud fisik yang kasat mata, yaitu semesta alam dengan hukum dan fenomena yang menyertai, yang disebut sebagai Kitab Kauniyah. Dan yang ruhaniah sifatnya, berupa alkitab-alkibab agama yang merupakan kebajikan dan firman-Nya, yang disebut Kitab Qauliyah. Dan dengan demikian Lauh Mahfuz adalah merupakan INDUK Alkitab (QS 57:22).

Enam, Hikmah dan kebijaksanaan Tuhan telah melahirkan keberagaman/kebhinekaan yang menunjukkan keagungan dan kemuliaannya. Dan dalam alkitab agama, ayat-ayatnya yang tersamar atau berupa perumpamaan-perumpamaan, telah membuahkan tafsir yang berlanjut pada lahirnya aqidah dan syariat disertai ritual beragam, yang dapat berbeda karena kerangka berpikir (manhaj) seseorang atau munculnya mazhab-mazhab (aliran) bermacam, yang dipengaruhi persepsi, tradisi dan kebiasaan umat.

Tujuh, dengan berkeyakinan bahwa perbedaan itu adalah merupakan bagian dari apa yang tertulis di dalam Lauh Mahfuz yang berarti sepengetahuan Tuhan, maka perbedaan-perbedaan tersebut selayaknya tidak dipertentangkan, dan bahkan harus disikapi sebagai alasan untuk berpacu dalam menjalankan agama oleh pengikutnya.

Delapan, disadari bahwa  Kitab Kauniyah maupun Qauliyah melahirkan ajaran moral yang tujuannya adalah untuk menjaga agar manusia berada dalam kodratnya dengan kesadaran sebagai manusia (in a state of human being), dan bukan dalam kesadaran hewan (animal being), atau kesadaran setan (satanic conscience) atau tidak sadar sama sekali (unconscious), atau setengah sadar (mabuk), atau tak memiliki kesadaran, yaitu gila (insane) atau hanya menggantungkan pada orang lain (maisir).

Sembilan, dalam kodrat dan kesadarannya sebagai manusia, dengan demikian manusia dapat menjalankan perintah-Nya, yaitu untuk berlomba mensyukuri nikmat dan karunia-Nya dan bukan untuk memperdaya sesama.

Sepuluh, dengan demikian semangat Lauh Mahfuz harus menjadi landasan dalam beragama, dimana manusia diperintahkan untuk meyakini bahwa hanya keyakinan/agamanya lah yang benar, ini merupakan ujud fanatisme positif terhadap aqidah dan syariat, sebagai mekanisme/cara untuk menyamakan frekuensi jiwa/ruh nya dengan ruh junjungannya, agar nanti pada saat hari kebangkitan, dapat satu “perahu” dengan junjungannya menuju sorga di alam akhirat.

Sebelas, namun tidak dibenarkan untuk menyalahkan keyakinan lain, karena penghakiman aqidah adalah sepenuhnya merupakan kewenangan Tuhan.

Dua belas, berlandasakan pemahaman akan keberadaan Lauh Mahfuz, maka lahir keyakinan universal bahwa moralitas umat beragama dalam bersikap dan bertindak (way of life), dan kesetiaan (faith) menjalankan agama, adalah faktor yang menentukan dalam mencapai kebahagiaan di alam kekal.

Dengan demikian, pemahaman akan keberadaan Lauh Mahfuz sebagai induk alkitab yang nyata dan terpelihara, diharapkan membuahkan kesadaran bagi lebih terwujudnya kerukunan umat beragama.

* Nugroho Suksmanto adalah penulis novel Lauh Mahuz