2022

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Imu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Tulisan ini terhidang di hadapan pembaca, angka tahun masehi sudah berubah seperti tertera pada judul. Perayaan yang disikapi beragam oleh masyarakat sudah berlalu. Polarisasi sikap tadi menunjukkan tumbuhkembangnya demokrasi yang harus disikapi dengan arif. Mereka yang dengan alasan religiusitas menafikan bentuk perayaan, sementara yang tidak sepaham tetap merayakan dengan caranya. Namun,  tidak sedikit yang hanya melihat saja, menjadi penonton yang baik, duduk manis sambil tertawa tertiwi melihat tingkah polah orang yang merayakan dan tidak merayakan.

Biarkan semua di atas berlalu dengan keragamannya, karena keragaman itu juga sunatullah yang tidak boleh ditolak atau hindari. Hanya yang ingin dibesut pada episode ini adalah angka “nol” “ada empat angka di atas. Nol di sana memiliki makna yang sangat esensial kalau kita ingin secara jujur memperhatikan dengan bahasa rasa.

Menggantikan angka nol dengan angka berikutnya, itu memerlukan waktu seratus tahun, atau satu abad lamanya. Bisa dibayangkan menggeser bilangan memerlukan waktu peredaran begitu lama. Sementara itu lompatan untuk mengeluarkan kembali angka nol pada posisi yang sama seperti sekarang memerlukan waktu seribu tahun, luar biasa. Dan jika itu dikaitkan dengan usia para pendahulu, seperti para Nabi yang telah wafat, rasanya makin ringkas dunia ini.

Kalau kita mau sedikit membaca buku Sejarah Kalender; maka akan kita temukan informasi sebagai berikut (medio.com.id):

Pertama, Kalender Julian. Disebut kalender Julian karena kalender ini muncul pada masa pemerintahan Julius Caesar pada 45 SM. Untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim, Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi sehingga menyebabkan kebingungan masyarakat. Untuk mengatasinya, Caesar menetapkan kalender yang tadinya hanya ada 10 bulan menjadi 12 bulan, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun atas saran seorang astronom bernama Sosigenes. Setelah meninggalnya Caesar, tahun kabisat salah terap menjadi 3 tahun sekali. Keadaan ini dibetulkan oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua hari kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi.

Kedua, Kalender Masehi / Gregorian. Pada tahun 572 Julian, seorang pejabat tinggi kepausan di Roma, Dionisius Exiguus, menetapkan perhitungan tahun Anno Domini (Tahun Tuhan). Ia memperkirakan bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) lahir pada tahun 47 Julian sehingga ditetapkan sebagai tahun 1 Anno Domini atau 1 Masehi. Namun perhitungan kalender ini kurang akurat, sehingga terus mengalami pergeseran. Melalui sebuah komisi yang dibentuk Paus Gregorius XIII diperoleh sebuah keputusan untuk meniadakan tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582. Dengan demikian pergeseran yang saat itu mencapai 10 hari telah dikoreksi. Keputusan ini termuat dalam Calendarium Gregorianum. Inilah kalender yang kita gunakan pada masa sekarang.

Ketiga, Kalender Saka India. Merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah atau kalender luni-solar, yaitu sistem kalender yang mendasarkan perhitungannya pada periode bulan mengelilingi bumi dan periode bumi mengelilingi matahari. Tahun Saka merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku bangsa di India saling bermusuhan. Suku bangsa Saka yang jemu dengan keadaan itu mengubah arah perjuangan yang semula politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan.

Keberhasilan perjuangan ini membuat suku bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Sejak itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, pembaharuan, dan kedamaian. Di Indonesia Tahun Baru Saka dikenal sebagai Hari Raya Nyepi.

Keempat, Kalender Saka Bali. Merupakan sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali dan modifikasi dari kalender Saka India dengan penambahan unsur lokal. Selain itu, kalender Saka Bali juga memasukkan kalender Wuku, yang hanya ada di Indonesia. Satu tahun Wuku terdiri dari 210 hari (30 wuku). 1 wuku sama dengan 1 minggu (7 hari). Dalam Kalender Saka Bali dikenal istilah wewaran.

Perhitungan wuku dan wewaran digunakan untuk menentukan hari baik atau buruk dalam melakukan suatu kegiatan dan upacara, seperti bercocok tanam, bermasyarakat, upacara pernikahan, dan Ngaben.
Kelima, Kalender Jawa. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung menggabungkan penanggalan Saka dengan Hijriyah. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem seperti kalender Hijriyah, namun menggunakan angka dari tahun Saka. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Keenam, Kalender Hijriyah. Kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Ketujuh, Kalender Imlek / Tionghoa. Merupakan kalender luni-solar karena menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari. Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk pembukaan usaha.

Kedelapan, Kalender Maya. Kalender ini disusun sekitar tahun 747?353 SM oleh bangsa Maya, di Amerika Tengah. Salah satu kalender Maya yang paling terkenal adalah Kalender Hitung Panjang (Long Count). Kalender ini sempat menggemparkan dunia pada tahun 2012 lalu karena dianggap meramalkan hari kiamat. Perhitungan kalender tersebut berumur 13 Baktun (siklus) atau jika dihitung menurut Kalender Gregorian lebih dari 5.126 tahun, yaitu dimulai pada tanggal 11 Agustus 3114 SM hingga berakhir pada tanggal 21 Desember 2012 M. Inilah yang memicu adanya pendapat bahwa tanggal 21 Desember 2012 adalah hari kiamat. Adapun lama waktu 1 Baktun adalah 144.000 hari.

Lengkap sudah info tentang kalender. Jadi, menggeser angka nol itu ternyata hanya punya pengguna kalender masehi; sementara pengguna kalender lain, tidak mengurusi pergeserannya karena mereka juga punya simbol angka sendiri yang berbeda dengan yang terpakai ini. Soal perayaannya apakah seseorang mau mengadakan perayaan delapan delapan delapannya, atau satu saja, bahkan tidak melakukannya sama sekali, itu soal personal; bukan wilayah impersonal.

Namun demikian, perlu jadi perhatian kita semua bahwa Tuhan sudah memberikan Kalender Individual kepada semua umatnya; ditandai dengan kapan dia lahir, hidup, dan mati. Dalam hidup saat kapan ketemu jodohnya, balak atau malapetakanya, dan rezekinya. Itu semua sudah ada ketetapannya sampai ditail. Hanya apakah kita sebagai manusia mau menyadari kemudian melakukan evaluasi diri untuk menyongsong semua peristiwa kalenderian pribadi kita masing masing dengan legowo dan tawadhuk kepada Sang Khalik.

Semoga tulisan ini menyadarkan penulis dan kita semua bahwa ada atau tidak ada kalender, waktu tetap ada, karena waktu itu miliki Sang Maha Kuasa yang tidak terikat akan waktu dan tidak berwaktu akan keberadaannya. DIA kekal abadi di Arsy “Sungguh Tuhanmu (adalah) Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu DIA bersemayam di atas Arsy”. (QS al-A’raf [7].54).

Selamat Ngopi Pagi!

  • Bagikan