33 Aktor-Aktris akan Adu Akting pada Festival Monolog DKL 2018

  • Bagikan

TERASLAMPUNG.COM — Sebanyak 33 peserta siap tampil pada Festival Monoton II DKL 2018,  di Gedung Teater Dewan Kesenian Lampung, PKOR Wayhalim, Bandarlampung, pada 22-23 Desember 2018.

“Artinya akan ada 33 pertunjukan monolog, selama dua atau tiga hari pelaksanaan even ini. Akan ada 33 gagasan, 33 respon dari teks yang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara. 33 cara menghadapi keterbatasan durasi pertunjukan yang maksimal hanya 30 menit,”kata Iskandar GB, panitia Festival Monoton II DKL 2018, Jumat,14 Desember 2018.

Menurut Iskandar GB,membeludaknya jumlah peserta Festival Monoton II ini sangat menggembirakan. Menurutnya, hal itu menunjukkan kehidupan teater di provinsi Lampung tetap bergairah.

“Di sisi lain, jumlah peserta membeludak barangkali karena ini dipicu terbatasnya jumlah even teater di Bumi Lada. Sehingga,meskiun even ini dibayangi sejumlah keterbatasan, dibalut dalam format acara yang sederhana, tetap disambut dengan antusias oleh praktisi teater,” katanya.

Hal yang tidak kalah mengejutkan, kata Iskandar GB,  adalah banyaknya peserta yang berasal dari luar Bandarlampung, seperti dari kabupaten Pesawaran, Lampung Barat, Lampung Utara, Metro, Lampung Selatan, dan kabupaten Tanggamus.

“Ini menjadi catatan tersendiri bagi program pengembangan teater di Lampung,” ujarnya.

Selanjutnya semua peserta monolog diundang untuk hadir pada hari Sabtu, tanggal 15 Desember 2018 di kantor Dewan Kesenian Lampung, untuk membicarakan teknis pelaksanaan kegiatan, dan sekaligus menjadi kesempatan bagi peserta untuk melakukan semacam orientasi panggung.

Program Komite Teater DKL tahun 2018 kali ini menjadikan festival monolog sebagai media penguatan kemampuan keaktoran teater di Lampung, sebelum kemudian memasuki ranah baru atau mendapat tantangan pemeranan yang lebih kompleks, kerja-kerja kolaboratif dengan disiplin lain, atau mengusung gaya dan style yang berbeda-beda.

Menurut Iskandar GB, ajang ini juga dimaksudkan sebagai ruang yang tepat untuk mempererat silaturahmi antar pelaku teater se-Lampung, menjadi ruang bagi berlangsungnya transformasi pengetahuan, juga sejumlah perbincangan mengenai kemana arah teater di era Gen Z atau bagaimana mengembangkan teater di era industri 4.0 ini.

 

  • Bagikan