Beranda News Budaya 70 tahun Putu Wijaya: Daya Hidup, Bertolak dari yang Ada

70 tahun Putu Wijaya: Daya Hidup, Bertolak dari yang Ada

209
BERBAGI
Putu Wijaya (foto ubs)

Uki Bayu Sejati*

Sweet seventeen buat gairah hidup remaja, passion seventies bagi daya hidup insan kreatif yang beroleh ridha barokah Allah SWT.

Ketika lahir orang tuanya memberi nama I Gusti Ngurah Putu, lantas ketika SMP nama belakangnya ia tambah sendiri dengan Wijaya, maka menulis namanya dengan G.N.P Wijaya. Kemudian saat menduduki bangku SMA ia menabalkan nama: Putu Wijaya – tanpa mengurangi penghormatan terhadap gelar kebangsawanannya.

Proses pergantian nama itu cenderung menunjukkan bahwa  lelaki kelahiran 11 April 1944 di Bali ini terus mencari jati diri: olah kreativitas. Proses terus berlanjut kala menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM, nyambi kuliah di ASRI dan ASDRAFI Yogya.

Maka makin jelas ketika muda ia sarjana hukum yang mencintai kesenian. Beranjak dewasa daya hidupnya menunjukkan Putu Wijaya adalah seniman  yang menggeluti senirupa,  sastra, teater, film – yang faham hukum.

Kancah sastra dilakoninya dengan menulis puisi, cerpen, naskah drama, skenario film, juga kiprah di dunia kewartawanan menghasilkan artikel, features, esai, dan sebagainya. Jadi, komplit: budayawan. 

Menurut Goenawan Mohammad, mengutip Syubah Asa – keduanya sahabat bahkan sebelum mendirikan majalah Tempo, menyatakan, ”Putu itu sambil menunggu panggilan dokter bisa bikin cerpen.”

Motto hidup: “Bertolak dari yang Ada” ia proklamasikan sewaktu mendirikan Teater Mandiri, tahun 1971. Motto yang menunjukkan kesahajaan berintikan semangat yakin tekad kuat mengolah kekurangan jadi kelebihan, kelemahan jadi kekuatan.

Produktivitas Putu Wijaya mengolah-sajikan karya-karyanya tak bisa dibendung. Ia menciptakan “teror mental” terutama dalam cerita pendek dan garapan teaternya.

Sekitar tahun 78-an ia pernah menyatakan antara lain bahwa ia kejam terhadap dirinya sendiri. Bisa rehat dan tidur kapan saja, namun saat ilham hadir di benak bathinnya ia langsung meloncat untuk ngetik, ngetik dan ngetik, dan…

Putu dan Taksu Wijaya

Subhannallah. Tahun lalu, “Saya mengalami pendarahan di otak dan dioperasi Prof.Eka…saya memasuki hidup baru,” tulis Putu Wijaya di leaflet. “Dengan tangan dan kaki yang masih harus difisioterapi, saya kembali ke rumah. Belum bisa main computer dan jumpalitan di pentas. Bahkan membaca Koran dan teks film di TV pun tidak mampu.”

Jangankan berhenti, patah semangat pun tak. Sebab, setiap minggu ia wajib mengisi 3 kolom di media cetak. Mulai dari mendiktekan pikiran kepada Dewi Pramunawati, istrinya, juga Taksu Wijaya, anak lanangnya, beberapa minggu kemudian ia menulis sendiri dengan jempol tangan kanannya ke tuts BB.

“Bertolak dari Yang Ada” motto yang teramat gamblang: apa yang ada dalam diri dan sekitar diolah-kreatif menjadi manfaat bagi siapa saja. Motto ini pula yang menjadi tema pameran lukisan, yang dibuka tanggal 3 April, dipamerkan sampai 12 April di Bentara Budaya, Jakarta.

Dalam merayakan HUTnya selain pameran lukisan tersebut, tanggal 11 April bakal diluncurkan buku barunya, juga mengisi program Helateater Salihara 2014 Putu menyutradarai penampilan Teater Mandiri, yang akan pentaskan tiga naskah karyanya: “Bila Malam Bertambah Malam”, “Hah”, dan “Jpret”.

Terus bergerak. Pada pembukaan pameran lukisannya Putu pun tampil membawakan monolog “Merdeka” didukung putranya Taksu Wijaya. Disemarakkan oleh sahabatnya Jais Darga pentas monolog, serta Dewa Bujana & friends yang menyanyikan dua lagu – satu di antaranya liriknya ditulis oleh Putu Wijaya. Olah kreatif yang aspiratif. Congratulation, mas Putu. Vita brevis ars longa.

*  sastrawan-wartawan, tinggal di Jakarta

Loading...