76 Tahun RI:  Garuda Bukan Burung Perkutut, Sang Saka Bukan Sandang Pembalut

  • Bagikan

Oleh : Zainal Asikin

Tanggal 17 Agustus merupakan hari sakral bagi masyarakat Indonesia, karena sebagai hari bersejarah bagi bangsa Indonesia sebagai Hari Kemerdekaan. Memaknai Kemerdekaan ini, bukan hanya sekadar dengan upacara, ucapan “Selamat Merayakan HUT RI”, maupun kegiatan seremonial atau retorika kemerdekaan belaka saja.

Sejarah panjang para pejuang yang telah berhasil membebaskan Indonesia dari cengkaraman penjajah Belanda dan Jepang, tentu bukan hal yang dianggap remeh-temeh seperti membalikkan telapak tangan. Untuk memerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah, para pejuang (pahlawan) yang telah gugur selain banyak mengeluarkan energy, keringat, tenaga, darah bahkan nyawa dipertaruhkan untuk mencapai sebuah kemerdekaan.

Sebagai generasi penerus, tentunya kita tidak hanya duduk berleha-leha menikmati hasil kemerdekaan yang sudah diraih para pejuang bangsa yang telah gugur. Justru kita mengemban tugas yang lebih berat lagi, yakni mempertahankan kemerdekaan dan mengembangkan hasil yang sudah diraih.

Memasuki usia 76 tahun kemerdekaan RI ini, dan melalui artikel ini saya ingin mengajak semua anak bangsa untuk melakukan renungan memaknai kemerdekaan karena perenungan adalah kontemplasi mendalam tentang makna keberadaan kita, tentang tujuan hidup kita dan seterusnya.

Kita melakukan perenungan mendalam tentang kemerdekaan dan keberadaan bangsa Indonesia ini bukan hanya saja dihadapan Tuhan, melainkan juga di depan para pahlawan yang telah gugur untuk meraih kemerdekaan.

Masihkah kita setia kepada cita-cita perjuangan para pahlawan ketika mereka (pahlawan) membentuk dan membangun bangsa ini, ataukah kita telah mengkhianati cita-cita luhur mereka pendiri bangsa ini.

Merdeka adalah kata yang menjadi energi semangat untuk terus berjuang, karena merdeka bukan lagi raga tapi juga jiwa merdeka. Merdeka bukanlah bebas tanpa ada batasannya, dan bukan pula bertindak semau kita. Akan tetapi kita merdeka bagaimana agar bisa lebih jujur, tanggungjawab dan lebih peduli disegala aspek kehidupan.

Makna sejati kemerdekaan Indonesia, salah satunya adanya rasa saling menghormati dan menghargai terhadap sesama masyarakat Indonesia dari ujung timur hingga barat Indonesia. Terlepas dari pelbagai permasalahan yang sedang melanda bangsa sekarang ini, yakni seperti kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir melanda bangsa ini.

Di momen kemerdekaan Indonesia yang sudah menginjak 76 tahun ini, hal yang bernama ego pribadi merasa paling benar, paling kuat dan hebat harus dibuang jauh-jauh. Kita hidup dialam subur Indonesia, mengapa ego pribadi buruk masih dibiarkan tumbuh karena kita berdiri diatas tanah yang sama tanah air Indonesia.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno bersama para pendiri bangsa Indonesia. “Manusia yang merdeka adalah manusia yang terbebas dari rasa iri, dengki, srei, dahwen, panasten dan patiopen. Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti, nastiti, surti dan hati-hati,”.

Indonesia sebagai bangsa, adalah sebuah novum diatas ranah sejarah dunia. Sebelumnya tidak ada bangsa Indonesia, yang ada bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan-kepulauan Nusantara ini seperti bangsa Jawa, Sunda, Lampung, Batak, Aceh, Toraja, Sulawesi dan bangsa-bangsa lainnya yang mendiami kepulauan-kepulauan nusantara tersebut.

Maka,  proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu bukan saja kemerdekaan melainkan keberadaan sebuah bangsa diumumkan ke seluruh dunia. Bung Karno dan Bung Hatta yang pada waktu itu tampil mewakili bangsa Indonesia.

Seperti pidatonya Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 di depan Dokuritsu Syunbi Tyoosakai, dengan mengutip Otto Bauer didalam bukunya Die Nationalitaetenfrage mengatakan, “Was ist eine Nation? Eine Nation ist eine aus Schiksalgmeinschaft erwaschene Charactergemeinschaft” (Apakah Bangsa? Bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib).

Tidak hanya itu saja. Beliau juga mengutip Ernst Renan, “le desir d’etre ensemble?” yang menjadi bangsa, dengan mengutip Renan adalah “Satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu”.

Dari kutipan-kutipan itu, ada dua elemen penting yang disampaikan atau ditekankan oleh Presiden Soekarno pada saat itu yakni “Persatuan perangai karena persatuan nasib” dan Kehendak untuk bersatu”.

Bangsa-bangsa di Nusantara ini telah mengalami nasib bersama dibawah imperialisme dan kolonialisme Belanda dan Jepang selama ratusan tahun, karena itu terbentuklah karakter mereka untuk bersatu. Hal itu hanya terjadi karena mereka mau bersatu. Ada rasa kebersamaan dan kesenasiban.

Maka untuk merawat rasa kebangsaan inilah Presiden Soekarno mengusulkan Pancasila yang disebutnya sebagai Philosofische grondslag (Dasar filosifis) dari negara yang bakal didirikannya itu yakni Indonesia.

Philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat, yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi,”kata Bung Karno.

Dari kata-kata yang disampaikan Presiden Soekarno tersebut, seperti syair lagu karya musisi Maestro The Legend Balada Indonesia, Virgiawan Listanto atau yang dikenal dengan sebutan Iwan Fals berjudul “Bangunlah Putra-Putri Pertiwi”.

Sinar matamu tajam namun ragu, Kokoh sayapmu semua tahu, Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan, Kuat jarimu kalau mencengkeram, Bermacam suku yang berbeda, Bersatu dalam cengkerammu

Angin genit mengelus merah putihku, Yang berkibar sedikit malu-malu, Merah membara tertanam wibawa, Putihmu suci penuh charisma, Pulau-pulau yang berpencar, Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku, Singkirkan kutu-kutu di sayapmu, Berkibarlah benderaku, Singkirkan benalu di tiangmu, Jangan ragu dan jangan malu, Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi, Bangunlah putra putri ibu pertiwi, Mari mandi dan gosok gigi, Setelah itu kita berjanji, Tadi pagi esok hari atau lusa nanti, Garuda bukan burung perkutut, Sang saka bukan sandang pembalut

Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut, Yang hanya berisi harapan, Yang hanya berisi khayalan.

Karya lagu musisi Iwan Fals tersebut, begitu menyentuh fitrah kemanusiaan kita sebagai manusia yang bertuhan. Kita sebagai pewaris zaman yang hidup puluhan tahun setelah Indonesia diproklamasikan, tentunya sebuah era yang jauh berbeda dengan era perjuangan di masa-masa sulit hidup dan dalam tekananan penjajah kolonial Belanda dan Jepang.

Meskipun sudah 76 tahun kemerdekaan bangsa itu kita raih, bukan berarti masa-masa sulit itu berakhir begitu saja. Baik itu seperti pidato Presiden Soekarno pada kala itu dan juga syair lagu “Bangunlah Putra-Putri Pertiwi” karya musisi Iwan Fals tersebut, menggambarkan sebuah kondisi yang terjadi sekarang ini di sejumlah daerah di tanah air kita Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 2021, 76 tahun usia kemerdekaan Indonesia dari penjajah kolonial Belanda dan Jepang. Meski usia kemerdekaan bangsa ini terbilang sudah sepuh dan matang, benarkah kita sudah merdeka dari penjajahan.

Sejak Indonesia merdeka hingga diusia yang ke-76 tahun ini, terbukti masih banyak ketimpangan terjadi di masyarakat khususnya masyarakat bawah (wong cilik, mlarat) dan kaum marginal atau terpinggirkan karena tidak bisa menyuarakan haknya.

Teriakan lantang ‘MERDEKA’ pun, kini seolah kehilangan marwah dan gemanya. Teriakan tersebut yang dulu menjadi api pengobar semangat persatuan dan perjuangan bangsa ini, sepertinya sudah kehilangan maknanya.

Merdeka bukannya korupsi yang kian merajalela, bukannya perekonomian makin kuat, bukan kekebasan menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan dan kekuasaan dan bukan juga mau menangnya sendiri.

Penegakkan hukum tebang pilih, jika yang tersangkut hukum orang berduit ditambah adanya kedekatan dengan pimpinan maka sangat mudah memainkan hukum. Tapi sebaliknya, jika yang tersandung hukum kalangan biasa atau wong cilik, maka dengan cepat akan diproses.

Aktivis memberikan kritikan atau menyuarakan pendapatnya karena dilihatnya adanya ketimpangan, malah justru dibungkam bahkan dipidana. Begitu juga jurnalis yang menyuarakan kebenaran melalui tulisannya, juga dibungkam bahkan dikriminalisasi.

Pasien tidak mampu, tidak mendapatkan pelayanan maksimal dan serius oleh pihak Rumah Sakit (RS). Namun berbeda jika pasien itu memiliki banyak uang ditambah memiliki kolega pejabat, maka dengan cepat segera ditangani dan mendapatkan pelayanan maksimal dan spesial.

Bahkan beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dua kejadian ibu hamil (bumil) warga Desa Banjarsuri dan Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang hendak melahirkan dan dinyatakan reaktif Covid-19 di tolak beberapa Rumah Sakit (RS) dengan alasan ruangan penuh dan tidak ada stok oksigen.

Kemudian, masih banyak petani kesusuhan mendapatkan pupuk untuk tanaman padinya saat memasuki musim tanam. Selain itu, masih banyak terjadi kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur di beberapa wilayah kabupaten khususnya di Lampung dan masih banyak hal lainnya yang terjadi.

Mestinya rasa kebangsaan kita dibangkitkan dan direnungkan secara khidmat menghadapi berbagai perkembangan sekarang ini, bukan sekedar seremonial atau retorika saja memaknai kemerdekaan.

Cita-cita proklamasi kemerdekaan yang menekankan kegotongroyongan bangsa kita, juga mengalami berbagai degradasi oleh adanya berbagai intrik yang hanya menekankan pencapaian kekuasaan dengan segala cara dan bukan demi kemaslahatan bersama.

Maka drama yang dipertontonkan sekarang ini didepan kita adalah perjuangan-perjuangan politik minus etika dan moral. Semua ini, tidak memberikan contoh positif bagi bangsa kita khususnya generasi muda.

76 tahun rasanya juga belum cukup menyadarkan bangsa kita tidak lagi dikhotom-khotomi. Sebenarnya, kita sudah lelah dan jengah dengan prilaku-prilaku tidak nasionalisme ini. Sehingga sangat wajar, banyak masyarakat beranggapan bahwa bangsa ini merdeka dari penjajah kolonial Belanda dan Jepang, tapi belum merdeka dari jajahan bangsanya sendiri.

Hari ini dan esok hari atau lusa nanti, Garuda bukan burung perkutut dan sang Saka bukan sandang pembalut. Bagunlah putra-putri pertiwi, karena merdeka ketika kita dapat mengembalikan kejujuran, tanggungjawab dan kepedulian terhadap sesama bangsa yang telah hilang dan makin langka di negeri yang kita cintai ini.

Merdeka jiwa sangat penting, karena jiwa tempatnya hidupnya raga yang diikat oleh rasa. Merdeka jiwa, menjadikan kita sadar bahwa hidup bukanlah segala-galanya bagi kita. Maka pada momen kemerdekaan ini, menjadi salah satu momen yang membuat seluruh rakyat Indonesia bersatu dari ujung timur hingga barat Indonesia tanpa adalagi perbedaan.

Dirgahayu Republik Indonesia!  Merdeka!

* Jurnalis Teraslampung.com

  • Bagikan