9 Mahasiswa UTI Diskors dan Di-DO karena Dituduh Lakukan Kegiatan Ekstremis dan Radikal, Ini Kata LBH

  • Bagikan
Mahasiswa Universitas Teknokra Indonesia (UTI) Lampung yang diskors dan di-DO menjelaskan kasus yang mereka alami di LBH Bandarlampung, Senin (19/4/2021).
Mahasiswa Universitas Teknokra Indonesia (UTI) Lampung yang diskors dan di-DO menjelaskan kasus yang mereka alami di LBH Bandarlampung, Senin (19/4/2021).

TERASLAMPUNG.COM —– Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung mengecam keras tindakannya skorsing dan drop out (DO) yang dilakukan Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kepada 9 mahasiwa Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer dengan sangkaan melakukan kegiatan yang mengarah pada tindakan ektremisme dan radikalisme.

Skorsing dan DO yang diberikan Universitas Teknokrat Indonesia kepada mahasiswanya ini tanda kampus punya itikad buruk terhadap bagaimana menciptakan pendidikan khususnya pendidikan tinggi di Indonesia,” ungkap Kepala Divisi Ekosop, LBH Bandarlampung Indra dalam keterangan pers di Kantor LBH Bandarlampung, Senin (19/4/2021).

“Prosesnya juga kami nilai dengan tergesa-gesa, seharusnya kampus menunjang kebutuhan pendidikan mahasiswanya serta kegiatan ekstra kampus tapi faktanya aktivitas ekstra yang dilakukan Himpunan Mahasiswa (Hima) Teknik Sipil dihadiahkan DO dan skorsing. Kita mengecam keras terhadap tindakan yang dilakukan Universitas Teknokrat Indonesia,” tegasnya.

Salah seorang dari enam mahasiswa yang hadir dalam pertemuan tersebut Iqbal mengaku kegiatannya memilik agenda tahunan dan kebanyakan pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan kami itu membantu membuat Taman Bakung juga membersihkan masjid-masjid semuanya ada agendanya selama setahun,” jelasnya.

Dia juga mengaku tidak pernah dipanggil oleh pihak kampus untuk memberikan jawaban atas tuduhan dari keputusan skorsing dan DO yang diterima dia dan teman-temannya.

“Kami sempat minta mediasi untuk mengetahui kesalahan kami dimana sampai diberikan sanksi ini. Jawabannya ditolak secara lisan,” ungkap Iqbal dengan terbata-bata dan meneteskan air mata.

Sementara itu Kepala Divisi Advokasi LBH Bandarlampung Kodri Ubaidilah menjelaskan pihaknya sudah mengirimkan surat somasi ke Rektor Universitas Teknokrat Indonesia terkait keputusan skorsing dan DO itu.

“Kami sudah dapat jawaban dari kampus yang meminta waktu 7 hari untuk menjawab somasi kami itu,” kata Kodri.

Kodri Ubaidilah juga mengungkapkan Universitas Teknokrat Indonesia dalam memberikan surat keputusan skorsing dan DO kepada 9 mahasiswanya tidak manusiawi.

“Surat  skorsing dan DO disampaikan kepada 9 mahasiswa itu melalui aplikasi WhatsApp. Ada yang langsung tanpa ada proses pemanggilan terlebih dahulu. SK itu turun setelah mereka menyelesaikan uang kuliah semester genap tahun 2021,” ungkapnya.

Sembilan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia (FTIK-UTI) itu mendapatkan skorsing dan drop out dari pihak Kampus (Rektor) pada rentan waktu Januari hingga Maret 2021.

Sanksi diberikan karena pihak kampus menilai para mahasiswa telah mendirikan sekretariat di lahan milik warga dan dituduh telah melakukan aktivitas yang menggangu masyarakat dan lingkungan sekitar.

Menurut para mahasiswa, pendirian sekretariat itu sebelumnya sudah mendapatkan izin dari masyarakat.

Para mahasiswa dituduh melakukan kegiatan yang mengarah pada tindakan ektremisme dan radikalisme serta melanggar kode etik sehingga merugikan nama baik Universitas Teknokrat Indonesia.

Dandy Ibrahim

  • Bagikan